alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Terdampak Kebijakan PPKM, Peternak Bebek di Sragen Gulung Tikar

SRAGEN – Kebijakan PPKM yang berkepanjangan sangat dirasakan masyarakat. Termasuk para peternak bebek yang kesulitan menjual hasil ternaknya. Kondisi ini membuat sebagian peternak dengan skala kecil gulung tikar.

Desa Celep, Kecamatan Kedawung dikenal sebagai salah satu sentra peternak bebek di Sragen. Jika situasi normal, perputaran jual beli unggas tersebut bisa mencapai 30.000 ekor. Bahkan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi untuk seluruh wilayah eks Karesidenan Surakarta.

Ketua RT 24 Kajen, Desa Celep Wiyono menyampaikan, 40 persen penduduknya menggantungkan hidupnya dari beternak bebek. Kondisi mulai sulit sejak awal pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Karena pembeli mulai mengurangi permintaan.

Misalnya jika kondisi normal bisa menjual 500 per hari, saat ini menyusut setengahnya. Apalagi saat ini digelar PPKM yang berdampak pada pembeli.

”Pembelinya kan banyak pedagang atau warung. Ketika mereka mengurangi dagangan, ya kita juga kena,” ungkapnya.

Ditambah beban pakan hewan ternak tersebut saat ini juga naik. ”Katul sekarang melambung, ya serba susah karena menjualnya juga tidak bisa. Kami juga tunggu PPKM sampai kapan? Perpanjang lagi atau tidak? Ketika PPKM nanti dicabut, ya harapannya berangsur-angsur normal,” ujarnya.

Masalah lainnya para peternak punya kontrak mengambil bibit anakan bebek dari pabrik. Wiyono sendiri mengambil 8.000 bibit. Jika tidak diambil bisa putus kontrak.

Peternak bebek lainnya Kaan Indra Winata menyampaikan, saat ini lebih dari 20 peternak skala kecil di bawah 500 ekor gulung tikar. Karena tidak mampu menjalankan usaha ini selama pandemi.

”Untuk yang punya lebih dari 2.000 ekor bisa dihitung jari, sekitar lima orang, itu pun kesulitan. Apalagi yang di bawah 500, sekarang hampir semua sudah tidak bisa apa-apa,” ungkapnya.

Padahal, usaha ternak bebek ini bagi yang sekala kecil dikelola warga yang kurang mampu. Pihaknya berharap pemerintah hadir dan turun tangan membantu. Sebab, ternak bebek ini menggerakkan perekonomian desa dan Kabupaten Sragen.

”Untuk 30 ribu ekor bebek perputarannya bisa sampai Rp 500 juta,” terangnya.

Kaan menambahkan, sampai saat ini belum ada perhatian dari dinas terkait sejak awal pandemi. Padahal, ternak bebek ini sebagai penyokong ekonomi masyarakat menengah ke bawah

”Di sini misalnya ada janda yang tidak bisa kerja yang berat atau yang ditinggal merantau suaminya. Kita beri pendampingan dengan memelihara 500 ekor dan kita bantu untuk penjualannya,” terangnya. (din/adi)

SRAGEN – Kebijakan PPKM yang berkepanjangan sangat dirasakan masyarakat. Termasuk para peternak bebek yang kesulitan menjual hasil ternaknya. Kondisi ini membuat sebagian peternak dengan skala kecil gulung tikar.

Desa Celep, Kecamatan Kedawung dikenal sebagai salah satu sentra peternak bebek di Sragen. Jika situasi normal, perputaran jual beli unggas tersebut bisa mencapai 30.000 ekor. Bahkan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi untuk seluruh wilayah eks Karesidenan Surakarta.

Ketua RT 24 Kajen, Desa Celep Wiyono menyampaikan, 40 persen penduduknya menggantungkan hidupnya dari beternak bebek. Kondisi mulai sulit sejak awal pandemi Covid-19 pada 2020 lalu. Karena pembeli mulai mengurangi permintaan.

Misalnya jika kondisi normal bisa menjual 500 per hari, saat ini menyusut setengahnya. Apalagi saat ini digelar PPKM yang berdampak pada pembeli.

”Pembelinya kan banyak pedagang atau warung. Ketika mereka mengurangi dagangan, ya kita juga kena,” ungkapnya.

Ditambah beban pakan hewan ternak tersebut saat ini juga naik. ”Katul sekarang melambung, ya serba susah karena menjualnya juga tidak bisa. Kami juga tunggu PPKM sampai kapan? Perpanjang lagi atau tidak? Ketika PPKM nanti dicabut, ya harapannya berangsur-angsur normal,” ujarnya.

Masalah lainnya para peternak punya kontrak mengambil bibit anakan bebek dari pabrik. Wiyono sendiri mengambil 8.000 bibit. Jika tidak diambil bisa putus kontrak.

Peternak bebek lainnya Kaan Indra Winata menyampaikan, saat ini lebih dari 20 peternak skala kecil di bawah 500 ekor gulung tikar. Karena tidak mampu menjalankan usaha ini selama pandemi.

”Untuk yang punya lebih dari 2.000 ekor bisa dihitung jari, sekitar lima orang, itu pun kesulitan. Apalagi yang di bawah 500, sekarang hampir semua sudah tidak bisa apa-apa,” ungkapnya.

Padahal, usaha ternak bebek ini bagi yang sekala kecil dikelola warga yang kurang mampu. Pihaknya berharap pemerintah hadir dan turun tangan membantu. Sebab, ternak bebek ini menggerakkan perekonomian desa dan Kabupaten Sragen.

”Untuk 30 ribu ekor bebek perputarannya bisa sampai Rp 500 juta,” terangnya.

Kaan menambahkan, sampai saat ini belum ada perhatian dari dinas terkait sejak awal pandemi. Padahal, ternak bebek ini sebagai penyokong ekonomi masyarakat menengah ke bawah

”Di sini misalnya ada janda yang tidak bisa kerja yang berat atau yang ditinggal merantau suaminya. Kita beri pendampingan dengan memelihara 500 ekor dan kita bantu untuk penjualannya,” terangnya. (din/adi)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/