alexametrics
24.1 C
Surakarta
Wednesday, 26 January 2022

Tuding Ada Kecurangan dalam Seleksi Perdes Gabus, 20 Peserta Desak Tes Ulang

SRAGEN Sejumlah pendaftar seleksi perangkat desa (perdes) Gabus di Kecamatan Ngrampal menduga ada kecurangan hasil seleksi. Dari 44 peserta, 20 orang di antaranya membubuhkan tanda tangan penolakan hasil seleksi. Mereka juga mendesak seleksi diulang kembali.

Informasi yang dihimpun, pengumuman disampaikan panitia pada Rabu (8/12). Setidaknya empat formasi perangkat Desa Gabus yang tersedia. Di antaranya Kebayan I, Kebayan II, Kaur Perencanaaan, dan Kaur Keuangan. Namun sebagian peserta curiga ada pengkondisian untuk peserta yang memiliki nilai tertinggi. Dari formasi tersebut, tiga di antaranya lulusan SMA. Lantas satu pendaftar lainnya lulusan diploma.

Sehingga setelah diumumkan, 20 orang yang tidak lolos menyampaikan keberatan dan disampaikan pada panitia seleksi, kemarin (9/12). Salah satu kecurigaan yakni diduga ada kode tanda baca di soal yang mengarah ke jawaban tertentu.

Dalam tuntutan keberatannya, di antaranya menilai hasil seleksi. Karena jenjang pendidikan peserta yang lolos di bawah peserta yang tidak lolos. Selain itu, dalam surat keberatan, mereka mengindikasikan kejanggalan dalam soal-soal seleksi. Disinyalir ada kode yang mengarah ke jawaban.

Peserta juga menyinggung keabsahan sertifikat milik peserta yang lolos seleksi. Lantas menghendaki diskualifikasi pada sertifikat yang tidak lolos keabsahannya. Selanjutnya mereka menghendaki digelar ujian ulang.

”Sebenarnya lebih dari 20 orang, namun kami dikejar waktu. Ada yang masih kerja dan sebagainya hingga kami serahkan meski baru 20 tanda tangan. Kami mendesak seleksi diulang kembali,” kata salah seorang peserta Elisa Lisdiyastuti, 30.

Camat Ngrampal Joko Hendang Murdono menyampaikan, secara resmi belum menerima surat keberatan dari peserta. Namun pihaknya cukup paham masalah yang terjadi terkait seleksi di Desa Gabus.

Menurutnya, tanggung jawab panitia yakni menyelesaikan tahapan seleksi dan penilaian prestasi dan dedikasi. Yakni pendidikan formal dan non formal serta pengabdian. Sedangkan dari pihak ketiga bertanggung jawab terkait hasil penilaian ujian tertulis dan keterampilan dasar komputer.

”Dari panitia juga sudah meminta klarifikasi ke lembaga untuk memastikan. Prinsip kehati-hatian harus benar benar dipegang. Sedangkan Nilai dari LPPM tidak ada ikut campur dari panitia,” terangnya.

Menanggapi dugaan dan isu terkait kecurangan, Joko memang sulit dibuktikan. Pihaknya tidak menampik ada isu pengkondisian dan permainan uang. Selain itu pengawasan juga tidak sampai merambah pada mengecek soal ujian.

”Panitia dalam mendampingi tim, pengawasan hanya sebatas di depan dan jangan sampai mengganggu konsentrasi peserta. Konteksnya keterbukaan sudah sejak awal. Kalau sekarang tidak dibuka karena jagani, jalau sampai ranah hukum, dokumen tersebut jadi barang bukti,” bebernya. (din/adi/dam)

SRAGEN Sejumlah pendaftar seleksi perangkat desa (perdes) Gabus di Kecamatan Ngrampal menduga ada kecurangan hasil seleksi. Dari 44 peserta, 20 orang di antaranya membubuhkan tanda tangan penolakan hasil seleksi. Mereka juga mendesak seleksi diulang kembali.

Informasi yang dihimpun, pengumuman disampaikan panitia pada Rabu (8/12). Setidaknya empat formasi perangkat Desa Gabus yang tersedia. Di antaranya Kebayan I, Kebayan II, Kaur Perencanaaan, dan Kaur Keuangan. Namun sebagian peserta curiga ada pengkondisian untuk peserta yang memiliki nilai tertinggi. Dari formasi tersebut, tiga di antaranya lulusan SMA. Lantas satu pendaftar lainnya lulusan diploma.

Sehingga setelah diumumkan, 20 orang yang tidak lolos menyampaikan keberatan dan disampaikan pada panitia seleksi, kemarin (9/12). Salah satu kecurigaan yakni diduga ada kode tanda baca di soal yang mengarah ke jawaban tertentu.

Dalam tuntutan keberatannya, di antaranya menilai hasil seleksi. Karena jenjang pendidikan peserta yang lolos di bawah peserta yang tidak lolos. Selain itu, dalam surat keberatan, mereka mengindikasikan kejanggalan dalam soal-soal seleksi. Disinyalir ada kode yang mengarah ke jawaban.

Peserta juga menyinggung keabsahan sertifikat milik peserta yang lolos seleksi. Lantas menghendaki diskualifikasi pada sertifikat yang tidak lolos keabsahannya. Selanjutnya mereka menghendaki digelar ujian ulang.

”Sebenarnya lebih dari 20 orang, namun kami dikejar waktu. Ada yang masih kerja dan sebagainya hingga kami serahkan meski baru 20 tanda tangan. Kami mendesak seleksi diulang kembali,” kata salah seorang peserta Elisa Lisdiyastuti, 30.

Camat Ngrampal Joko Hendang Murdono menyampaikan, secara resmi belum menerima surat keberatan dari peserta. Namun pihaknya cukup paham masalah yang terjadi terkait seleksi di Desa Gabus.

Menurutnya, tanggung jawab panitia yakni menyelesaikan tahapan seleksi dan penilaian prestasi dan dedikasi. Yakni pendidikan formal dan non formal serta pengabdian. Sedangkan dari pihak ketiga bertanggung jawab terkait hasil penilaian ujian tertulis dan keterampilan dasar komputer.

”Dari panitia juga sudah meminta klarifikasi ke lembaga untuk memastikan. Prinsip kehati-hatian harus benar benar dipegang. Sedangkan Nilai dari LPPM tidak ada ikut campur dari panitia,” terangnya.

Menanggapi dugaan dan isu terkait kecurangan, Joko memang sulit dibuktikan. Pihaknya tidak menampik ada isu pengkondisian dan permainan uang. Selain itu pengawasan juga tidak sampai merambah pada mengecek soal ujian.

”Panitia dalam mendampingi tim, pengawasan hanya sebatas di depan dan jangan sampai mengganggu konsentrasi peserta. Konteksnya keterbukaan sudah sejak awal. Kalau sekarang tidak dibuka karena jagani, jalau sampai ranah hukum, dokumen tersebut jadi barang bukti,” bebernya. (din/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru