alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

KPA Sragen Catat Seratusan Pelaku LGBT: PSK Waria Layani 10 Orang Per Malam

SRAGEN – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sragen menyebut seratusan pelaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Bumi Sukowati. Sementara, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ribuan perilaku LGBT di Sragen.

Informasi yang dihimpun dari KPA Sragen, terdapat komunitas gay dan transgender di Bumi Sukowati. Koordinator Pengelola Program KPA Sragen Wahyudi menjelaskan, berdasarkan pemetaan pada 2021, perilaku gay atau lelaki seks lelaki (LSL) dibagi menjadi dua. Yakni LSL murni dan pelanggan transgender.

Pihaknya menyampaikan, estimasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), perilaku LGBT di Sragen mencapai 1.841 pada 2016. Kategori tersebut gabungan antara gay dan transgender.  Data dari komunitas LGBT, untuk LSL murni tidak lebih dari 80 orang.  Sementara transgender ada 48 orang.

Namun jumlah tersebut belum termasuk pelanggan yang menyewa jasa waria. KPA melakuan survei dan mendapatkan hasil yang mengejutkan. Bahwa rata-rata transgender yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) dalam semalam bisa mendapatkan lima hingga sepuluh pelanggan.

”Artinya jika jumlah pelanggan tersebut ditarik dengan estimasi dari Kemenkes , itu masuk akal. Katakan jika satu waria dikalikan jumlah pelanggan yang menggunakan jasanya. Misalnya 60 orang, masing-masing melayani lima saja sudah 300 orang, dengan perkiraan pelanggan memakai jasa seminggu sekali,” ujar Wahyudi.

Pihaknya menyampaikan estimasi dari Kemenkes tersebut menjadi patokan dalam langkah pengendalian HIV/Aids. Walaupun pihaknya mengakui estimasi tersebut belum akurat 100 persen. ”Ini tidak 100 persen valid ya, karena estimasi ini untuk mengukur dan dicari,” terangnya.

Wahyudi mengungkapkan, komunitas LGBT ini sangat tertutup dan tidak mudah untuk masuk. Pihaknya pun harus hati-hati dan tidak dipercaya begitu saja untuk memasuki komunitas tersebut. ”Kalau gay kan enggak ngaku terang-terangan ke masyarakat. Makanya kita masuknya melalui komunitas mereka,” ujarnya.

Dia menekankan, mereka dijangkau karena termasuk faktor risiko penularan HIV/Aids. KPA bersifat preventif dalam penanganan kesehatan. ”Karena preventif untuk masalah kesehatan, jadi kita bentuk salah satu dari kalangan mereka sebagai pendidik sebaya,” ujarnya.

Secara pribadi, dia berharap ada perubahan perilaku dari para LGBT. Namun dalam prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

”Jadi harus pelan-pelan. Satu-satunya jalan yang mencegah penularan HIV di kalangan mereka yakni menggunakan kondom. Itu pun tidak 100 persen yang mau memakai kondom,” bebernya. (din/ria)

 






Reporter: Ahmad Khairudin

SRAGEN – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sragen menyebut seratusan pelaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Bumi Sukowati. Sementara, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ribuan perilaku LGBT di Sragen.

Informasi yang dihimpun dari KPA Sragen, terdapat komunitas gay dan transgender di Bumi Sukowati. Koordinator Pengelola Program KPA Sragen Wahyudi menjelaskan, berdasarkan pemetaan pada 2021, perilaku gay atau lelaki seks lelaki (LSL) dibagi menjadi dua. Yakni LSL murni dan pelanggan transgender.

Pihaknya menyampaikan, estimasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), perilaku LGBT di Sragen mencapai 1.841 pada 2016. Kategori tersebut gabungan antara gay dan transgender.  Data dari komunitas LGBT, untuk LSL murni tidak lebih dari 80 orang.  Sementara transgender ada 48 orang.

Namun jumlah tersebut belum termasuk pelanggan yang menyewa jasa waria. KPA melakuan survei dan mendapatkan hasil yang mengejutkan. Bahwa rata-rata transgender yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) dalam semalam bisa mendapatkan lima hingga sepuluh pelanggan.

”Artinya jika jumlah pelanggan tersebut ditarik dengan estimasi dari Kemenkes , itu masuk akal. Katakan jika satu waria dikalikan jumlah pelanggan yang menggunakan jasanya. Misalnya 60 orang, masing-masing melayani lima saja sudah 300 orang, dengan perkiraan pelanggan memakai jasa seminggu sekali,” ujar Wahyudi.

Pihaknya menyampaikan estimasi dari Kemenkes tersebut menjadi patokan dalam langkah pengendalian HIV/Aids. Walaupun pihaknya mengakui estimasi tersebut belum akurat 100 persen. ”Ini tidak 100 persen valid ya, karena estimasi ini untuk mengukur dan dicari,” terangnya.

Wahyudi mengungkapkan, komunitas LGBT ini sangat tertutup dan tidak mudah untuk masuk. Pihaknya pun harus hati-hati dan tidak dipercaya begitu saja untuk memasuki komunitas tersebut. ”Kalau gay kan enggak ngaku terang-terangan ke masyarakat. Makanya kita masuknya melalui komunitas mereka,” ujarnya.

Dia menekankan, mereka dijangkau karena termasuk faktor risiko penularan HIV/Aids. KPA bersifat preventif dalam penanganan kesehatan. ”Karena preventif untuk masalah kesehatan, jadi kita bentuk salah satu dari kalangan mereka sebagai pendidik sebaya,” ujarnya.

Secara pribadi, dia berharap ada perubahan perilaku dari para LGBT. Namun dalam prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

”Jadi harus pelan-pelan. Satu-satunya jalan yang mencegah penularan HIV di kalangan mereka yakni menggunakan kondom. Itu pun tidak 100 persen yang mau memakai kondom,” bebernya. (din/ria)

 






Reporter: Ahmad Khairudin

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/