alexametrics
32.7 C
Surakarta
Monday, 27 September 2021

Perlu Inovasi Pembiayaan untuk Selamatkan Sektor Pertanian

SRAGEN – Kabupaten Sragen memiliki potensi melimpah untuk sektor pertanian. Sayangnya, sektor ini belum tergarap maksimal. Salah satunya persoalan pembiayaan yang selalu menjadi ganjalan para petani. Untuk itu, perlu inovasi milenial untuk memaksimalkan potensi bisnis pertanian.

Direktur Inovasi Gerbang Tani Yosi Suparyo  menyampaikan, potensi sektor pertanian sangat besar. Namun, kondisi saat ini petani masalah berkutat pada kegiatan tanam hingga panen. Sementara mereka akan kedodoran saat pascapanen.

”Padahal ceruk bisnis pascapanen memiliki sisi bisnis lebih besar daripada saat panen,” terang Yosi dalam bimbingan teknis (bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh, Senin (13/9).

Dia menambahkan, Indonesia memiliki modal dasar, yakni luas wilayah yang tidak dimiliki setiap negara. Namun, pertanian dalam negeri justru terjebak pada lingkaran setan. Setiap panen raya harga panen anjlok dan pupuk mahal pada masa tanam.

”Kondisi ini karena kurangnya dukungan pembiayaan. Kalau ada dukungan pembiayaan, misalnya setiap desa memiliki bank desa dengan sistem yang berbeda dari bank konvensional. Misalnya tempo tiga bulanan mengikuti masa panen,” ujar Yosi.

Anggota DPR RI Luluk Nur Hamidah mengatakan, perlu merangkul anak-anak muda dalam sektor pertanian. Saat ini, anak muda lebih menguasai teknologi informasi (TI) dan potensi bisnis sektor pertanian.

”Kita ajak anak muda menggarap potensi pertanian yang belum digarap generasi sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu, perlu peran media untuk mendorong branding produk pertanian Sragen. Apalagi, fakta membuktikan saat masa pendemi sektor pertanian paling bertahan. Bahkan, untuk produk pertanian di marketplace naik hingga 300 persen.

”Kita melihat ada peluang teman-teman muda dan milenial untuk masuk ke dunia pertanian dengan citra yang berbeda,” papar Luluk.

Sementara itu, Direktur Kemitraan dan Kerjasama BUMDes Bersama Brayan Bumi Banyumas Dodit Prasetyo menyampaikan, pihaknya membuat jejaring perbankan yang dikelola BUMDes sejumlah 25 desa. Dengan sistem ini  dapat saling menopang kebutuhan antardesa.

”Setiap desa ada lembaga BUMDes atau BUMDes Bersama. Pola itu bisa diikuti desa lain untuk membantu pembiayaan pertanian. BUMDes juga membantu menyalurkan penjualan beras ke petani,” ungkapnya. (din/ria)


SRAGEN – Kabupaten Sragen memiliki potensi melimpah untuk sektor pertanian. Sayangnya, sektor ini belum tergarap maksimal. Salah satunya persoalan pembiayaan yang selalu menjadi ganjalan para petani. Untuk itu, perlu inovasi milenial untuk memaksimalkan potensi bisnis pertanian.

Direktur Inovasi Gerbang Tani Yosi Suparyo  menyampaikan, potensi sektor pertanian sangat besar. Namun, kondisi saat ini petani masalah berkutat pada kegiatan tanam hingga panen. Sementara mereka akan kedodoran saat pascapanen.

”Padahal ceruk bisnis pascapanen memiliki sisi bisnis lebih besar daripada saat panen,” terang Yosi dalam bimbingan teknis (bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh, Senin (13/9).

Dia menambahkan, Indonesia memiliki modal dasar, yakni luas wilayah yang tidak dimiliki setiap negara. Namun, pertanian dalam negeri justru terjebak pada lingkaran setan. Setiap panen raya harga panen anjlok dan pupuk mahal pada masa tanam.

”Kondisi ini karena kurangnya dukungan pembiayaan. Kalau ada dukungan pembiayaan, misalnya setiap desa memiliki bank desa dengan sistem yang berbeda dari bank konvensional. Misalnya tempo tiga bulanan mengikuti masa panen,” ujar Yosi.

Anggota DPR RI Luluk Nur Hamidah mengatakan, perlu merangkul anak-anak muda dalam sektor pertanian. Saat ini, anak muda lebih menguasai teknologi informasi (TI) dan potensi bisnis sektor pertanian.

”Kita ajak anak muda menggarap potensi pertanian yang belum digarap generasi sebelumnya,” ujarnya.

Selain itu, perlu peran media untuk mendorong branding produk pertanian Sragen. Apalagi, fakta membuktikan saat masa pendemi sektor pertanian paling bertahan. Bahkan, untuk produk pertanian di marketplace naik hingga 300 persen.

”Kita melihat ada peluang teman-teman muda dan milenial untuk masuk ke dunia pertanian dengan citra yang berbeda,” papar Luluk.

Sementara itu, Direktur Kemitraan dan Kerjasama BUMDes Bersama Brayan Bumi Banyumas Dodit Prasetyo menyampaikan, pihaknya membuat jejaring perbankan yang dikelola BUMDes sejumlah 25 desa. Dengan sistem ini  dapat saling menopang kebutuhan antardesa.

”Setiap desa ada lembaga BUMDes atau BUMDes Bersama. Pola itu bisa diikuti desa lain untuk membantu pembiayaan pertanian. BUMDes juga membantu menyalurkan penjualan beras ke petani,” ungkapnya. (din/ria)

Populer

Berita Terbaru