alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Impian Desa Wisata Batik Kliwonan Bisa Mendunia: Seperti Joger di Bali

Batik menjadi salah satu komoditi unggul di wilayah eks Karesidenan Surakarta. Termasuk Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen. Tak heran Pemerintah Desa (Pemdes) Kliwonan ingin menggaet wisatawan asing lewat potensi tersebut.

MAYORITAS warga Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran menekuni usaha batik tulis. Dikembangkan beberapa pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tak hanya diminati berbagai kota di Indonesia. Batik Kliwonan (Bakli) sudah tembus pasar ekspor.

Hanya saja, potensi tersebut belum banyak yang melirik. Maklum, karena transaksi perdagangan Batik Kliwonan masih berpusat di Kota Solo. Inilah yang mendasari Pemdes Kliwonan untuk membuat desa wisata batik. Ditunjang pesona alam desa sekitar yang mempesona.

Kepala Desa (Kades) Kliwonan Aswanda menjelaskan, berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat pamor Batik Kliwonan. Salah satunya dengan memaksimalkan peran badan usaha milik desa (BUMDes) setempat sebagai langkah percepatan sekaligus membangun kesejahteraan warga sekitar.

Upaya paling nyata, dengan pengurusan sertifikasi legalitas desa wisata. Diperkuat surat keputusan (SK) bupati Sragen dan didukung perencanaan pembangunan infrastruktur.

“Kami siapkan galeri batik yang akan dikelola BUMDes. Kemudian disiapkan booth atau UMKM dan kuliner. Selain itu, kami juga siapkan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan. Kami latih warga menjadi tour guide wisatawan,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Terkait anggaran pendukung rencana tersebut, disedot dari dana desa (DD). Namun, lanjut Aswanda, penghitungannya harus cermat. Karena saat ini masih pandemi Covid-19. Juga mempertimbangkan kebutuhan desa. “Anggaran kami masukkan ke BUMDes, tapi belum bisa dipastikan berapanya,” imbuhnya.

Aswanda tidak ingin rencana tersebut hanya dicap sebagai isapan jempol belaka. Palagi dia juga berkaca kesuksesan daerah lain, yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

”Gambarannya seperti Joger di Bali. Terpenting, sekarang ini bisa dikunjungi wisatawan domestik dulu. Nggak masalah. Baru nanti bertahap ke wisatawan antarpulau. Tapi, target utama kami, bisa dikunjungi wisatawan internasional,” ujarnya.

ISTIMEWA: Corak batik khas Desa Kliwonan. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Mengenalkan Bakli ke mata dunia, belum cukup sekadar membangun infrastruktur. Harus diimbangi SDM mumpuni. Termasuk mendorong sinergitas para pelaku UMKM batik. Total, jumlahnya sekitar 25 UMKM. Sudah bergabung dalam paguyuban. “Itu baru pengusaha. Belum pekerja atau perajinnya. Jumlahnya sampai ratusan orang,” bebernya.

Upaya mengenalkan Desa Batik Kliwonan, tak cukup hanya menggerakkan potensi lokal. Harus menggandeng banyak pihak. termasuk gencar promosi di media sosial, media cetak, dan digital. Tak kalah penting, peran para pekerja dan pengusa tour dan travel.

Soal dukungan Pemkab Sragen, Aswanda menyebut wilayahnya sudah tercatat sebagai desa wisata. Tapi, status tersebut belum cukup. Karena harus bersaing dengan desa sekitar. Seperti Desa Pilang dan Pungsari, Kecamatan Masaran.

“Dua desa itu juga masuk wilayah unggulan produksi batik. Tapi, desa kami unggul pada nilai historisnya. Istilahnya, desa kami lebih memelopori kerajinan batik. Selain itu, kami juga siapkan produk UMKM asli Desa Kliwonan. Selanjutnya menyediakan tempat kuliner dengan melibatkan warga,” ungkapnya. (din/ria)

 

Batik menjadi salah satu komoditi unggul di wilayah eks Karesidenan Surakarta. Termasuk Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen. Tak heran Pemerintah Desa (Pemdes) Kliwonan ingin menggaet wisatawan asing lewat potensi tersebut.

MAYORITAS warga Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran menekuni usaha batik tulis. Dikembangkan beberapa pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Tak hanya diminati berbagai kota di Indonesia. Batik Kliwonan (Bakli) sudah tembus pasar ekspor.

Hanya saja, potensi tersebut belum banyak yang melirik. Maklum, karena transaksi perdagangan Batik Kliwonan masih berpusat di Kota Solo. Inilah yang mendasari Pemdes Kliwonan untuk membuat desa wisata batik. Ditunjang pesona alam desa sekitar yang mempesona.

Kepala Desa (Kades) Kliwonan Aswanda menjelaskan, berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat pamor Batik Kliwonan. Salah satunya dengan memaksimalkan peran badan usaha milik desa (BUMDes) setempat sebagai langkah percepatan sekaligus membangun kesejahteraan warga sekitar.

Upaya paling nyata, dengan pengurusan sertifikasi legalitas desa wisata. Diperkuat surat keputusan (SK) bupati Sragen dan didukung perencanaan pembangunan infrastruktur.

“Kami siapkan galeri batik yang akan dikelola BUMDes. Kemudian disiapkan booth atau UMKM dan kuliner. Selain itu, kami juga siapkan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan. Kami latih warga menjadi tour guide wisatawan,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Terkait anggaran pendukung rencana tersebut, disedot dari dana desa (DD). Namun, lanjut Aswanda, penghitungannya harus cermat. Karena saat ini masih pandemi Covid-19. Juga mempertimbangkan kebutuhan desa. “Anggaran kami masukkan ke BUMDes, tapi belum bisa dipastikan berapanya,” imbuhnya.

Aswanda tidak ingin rencana tersebut hanya dicap sebagai isapan jempol belaka. Palagi dia juga berkaca kesuksesan daerah lain, yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

”Gambarannya seperti Joger di Bali. Terpenting, sekarang ini bisa dikunjungi wisatawan domestik dulu. Nggak masalah. Baru nanti bertahap ke wisatawan antarpulau. Tapi, target utama kami, bisa dikunjungi wisatawan internasional,” ujarnya.

ISTIMEWA: Corak batik khas Desa Kliwonan. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Mengenalkan Bakli ke mata dunia, belum cukup sekadar membangun infrastruktur. Harus diimbangi SDM mumpuni. Termasuk mendorong sinergitas para pelaku UMKM batik. Total, jumlahnya sekitar 25 UMKM. Sudah bergabung dalam paguyuban. “Itu baru pengusaha. Belum pekerja atau perajinnya. Jumlahnya sampai ratusan orang,” bebernya.

Upaya mengenalkan Desa Batik Kliwonan, tak cukup hanya menggerakkan potensi lokal. Harus menggandeng banyak pihak. termasuk gencar promosi di media sosial, media cetak, dan digital. Tak kalah penting, peran para pekerja dan pengusa tour dan travel.

Soal dukungan Pemkab Sragen, Aswanda menyebut wilayahnya sudah tercatat sebagai desa wisata. Tapi, status tersebut belum cukup. Karena harus bersaing dengan desa sekitar. Seperti Desa Pilang dan Pungsari, Kecamatan Masaran.

“Dua desa itu juga masuk wilayah unggulan produksi batik. Tapi, desa kami unggul pada nilai historisnya. Istilahnya, desa kami lebih memelopori kerajinan batik. Selain itu, kami juga siapkan produk UMKM asli Desa Kliwonan. Selanjutnya menyediakan tempat kuliner dengan melibatkan warga,” ungkapnya. (din/ria)

 

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/