23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

Pemkab Sragen Ajukan Anggaran Rp 200 Juta untuk Penanganan Wabah LSD

RADARSOLO.ID – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sragen cukup intens mengantisipasi wabah lumpy skin disease (LSD) atau benjolan pada kulit sapi. Sebagai langkah pencegahan, diajukan anggaran Rp 200 juta untuk pengadaan obat.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sragen Toto Sukarno menyampaikan, hingga kemarin tercatat ada lima kematian sapi karena LSD. Dua di antaranya masih pedet atau anak sapi, sedangkan tiga lainnya sapi dewasa. Sedangkan jumlah kasus 540 kasus aktif dari total 552 kasus. Dua kasus pedet di kawasan Kecamatan Sukodono, satu sapi dewasa di Sukodono, satu sapi di Miri dan satu sapi di Sambungmacan.

”Jadi induknya kena LSD, anaknya terpapar dan mati,” ungkapnya, Selasa (24/1/2023).

Terkait pengobatan, Toto menyampaikan sementara penanganan hanya spot-spot laporan dari peternak. Sedangkan untuk massal, di Sragen diperkirakan ada 90 ribu ekor sapi. Sehingga kebutuhan sekira Rp 4,5 miliar.

”Pengobatan saya hanya dikasih stimulan untuk sapi yang sakit saja. Sekali obat gratis, selanjutnya berobat sendiri. Kami dapat informasi ada dana sekira Rp 150-200 juta, masih jauh dari estimasi, tapi kan pemerintah hanya fokus ke LSD saja, ada hal lain yang harus dikawal,” jelasnya.

Toto menambahkan, untuk pengobatan gratis dari dinas hanya sekali. Biasanya agar ternak bisa sembuh, butuh 4-5 kali pengobatan. Sekali memberi suntikan obat berkisar Rp 100 ribu. Seperti menggunakan antibiotik, antiparasit dan vitamin dosis tinggi. ”Estimasi sapi bisa sembuh sekira 1 bulan,” jelasnya.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan, vaksinasi LSD untuk sapi ada 4.000 dosis. Vaksin tersebut disuntikkan pada wilayah yang belum terpapar LSD.  Sedangkan yang sudah dilakukan pengobatan.

”Dinas mengajukan anggaran untuk pengadaan antibiotik dan sejumlah obat sekira hampir Rp 200 juta,” terang bupati.

Yuni masih mengkaji permohonan tersebut. Bisa diambil dari penggeseran anggaran atau  pos anggaran belanja tidak terduga (BTT). Dia berharap pekan ini sudah bisa direalisasikan. Namun sejauh ini angka kematian LSD cukup rendah. (din/adi/dam)

RADARSOLO.ID – Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sragen cukup intens mengantisipasi wabah lumpy skin disease (LSD) atau benjolan pada kulit sapi. Sebagai langkah pencegahan, diajukan anggaran Rp 200 juta untuk pengadaan obat.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sragen Toto Sukarno menyampaikan, hingga kemarin tercatat ada lima kematian sapi karena LSD. Dua di antaranya masih pedet atau anak sapi, sedangkan tiga lainnya sapi dewasa. Sedangkan jumlah kasus 540 kasus aktif dari total 552 kasus. Dua kasus pedet di kawasan Kecamatan Sukodono, satu sapi dewasa di Sukodono, satu sapi di Miri dan satu sapi di Sambungmacan.

”Jadi induknya kena LSD, anaknya terpapar dan mati,” ungkapnya, Selasa (24/1/2023).

Terkait pengobatan, Toto menyampaikan sementara penanganan hanya spot-spot laporan dari peternak. Sedangkan untuk massal, di Sragen diperkirakan ada 90 ribu ekor sapi. Sehingga kebutuhan sekira Rp 4,5 miliar.

”Pengobatan saya hanya dikasih stimulan untuk sapi yang sakit saja. Sekali obat gratis, selanjutnya berobat sendiri. Kami dapat informasi ada dana sekira Rp 150-200 juta, masih jauh dari estimasi, tapi kan pemerintah hanya fokus ke LSD saja, ada hal lain yang harus dikawal,” jelasnya.

Toto menambahkan, untuk pengobatan gratis dari dinas hanya sekali. Biasanya agar ternak bisa sembuh, butuh 4-5 kali pengobatan. Sekali memberi suntikan obat berkisar Rp 100 ribu. Seperti menggunakan antibiotik, antiparasit dan vitamin dosis tinggi. ”Estimasi sapi bisa sembuh sekira 1 bulan,” jelasnya.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyampaikan, vaksinasi LSD untuk sapi ada 4.000 dosis. Vaksin tersebut disuntikkan pada wilayah yang belum terpapar LSD.  Sedangkan yang sudah dilakukan pengobatan.

”Dinas mengajukan anggaran untuk pengadaan antibiotik dan sejumlah obat sekira hampir Rp 200 juta,” terang bupati.

Yuni masih mengkaji permohonan tersebut. Bisa diambil dari penggeseran anggaran atau  pos anggaran belanja tidak terduga (BTT). Dia berharap pekan ini sudah bisa direalisasikan. Namun sejauh ini angka kematian LSD cukup rendah. (din/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img