alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Nihil Penyakit Mulut dan Kuku, Harga Sapi di Sukoharjo Meroket

SUKOHARJO – Meski terancam adanya penyakit mulut dan kuku (PMK), namun harga sapi menjelang Idul Adha tahun ini. Hanya saja, pembeli dari luar kota masih wait and see enggan berspekulasi.

Sardiyanto, 40, pedagang sapi asal Sragen saat ditemui di Pasar Hewan Bekonang, Mojolaban mengaku bahwa harga sapi naik antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta per ekor. Adanya penyakit kuku dan mulut tidak berpengaruh terhadap harga sapi.

“Kalau penyakitnya enggak pengaruh, harganya tetap naik, kan mau Idul Adha. Saya hari ini beli tiga, harga yang biasanya Rp 18 juta dibeli Rp 19 juta enggak dikasih, mintanya Rp 20 juta,” kata Sardiyanto, Sabtu (14/5).

Di tempat sama, Anton, 40, salah seorang peternak sekaligus penjual sapi asal Kecamatan Ngutermengatakan, PMK yang melanda saat ini seperti pukulan telak bagi peternak. Apalagi, momen menjelang Idul Adha menjadi kesempatan bagi peternak sapi untuk meraih untung karena permintaan sapi meningkat.

“PMK ini pengaruh sekali, karena biasanya momentum pembeli dari luar kota ambil sapi ke Sukoharjo, tapi ini mereka enggak ke sini, menunggu kondisi,” ucap Anton.

Anton menyebut, di tahun-tahun sebelumnya, pembeli sapi dari luar kota mayoritas berasal dari Bandung dan Jakarta. Meski mengalami penurunan pembeli dari luar kota, namun harga sapi naik. Dari pasaran Rp 18 juta dijual menjadi Rp 20 juta.

“Terdapat kendala di perjalanan, biasanya pembeli melihat perkembangannya dulu, kalau sudah baik baru beli,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sukoharjo Etik Suryani usai melakukan pemantauan kesehatan sapi di Pasar Hewan Bekonang menegaskan, meski belum ditemukan kasus PMK di Sukoharjo, namun pedagang sapi yang masuk ke Pasar Hewan Bekonang wajib membawa surat kesehatan hewan ternaknya.

“Kalau dari Boyolali kondisinya sehat tidak apa-apa, tapi harus bawa surat sehat,” tegas Etik didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertan) Sukoharjo Bagas Windaryatno.

Dilanjutkan Etik, apabila pedagang tersebut tidak membawa surat kesehatan, maka yang bersangkutan dilarang masuk dan diminta kembali ke daerahnya masing-masing. Oleh sebab itu, dia meminta kepada petugas agar ketat melakukan pengawasan di Pasar Hewan Bekonang tersebut.

“Nanti petugas harus ketat, mulai dari dokter dinas setempat. Di sini nanti ada satgas untuk memonitor kesehatan sapi,” terangnya. (kwl/ria)






Reporter: Iwan Kawul

SUKOHARJO – Meski terancam adanya penyakit mulut dan kuku (PMK), namun harga sapi menjelang Idul Adha tahun ini. Hanya saja, pembeli dari luar kota masih wait and see enggan berspekulasi.

Sardiyanto, 40, pedagang sapi asal Sragen saat ditemui di Pasar Hewan Bekonang, Mojolaban mengaku bahwa harga sapi naik antara Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta per ekor. Adanya penyakit kuku dan mulut tidak berpengaruh terhadap harga sapi.

“Kalau penyakitnya enggak pengaruh, harganya tetap naik, kan mau Idul Adha. Saya hari ini beli tiga, harga yang biasanya Rp 18 juta dibeli Rp 19 juta enggak dikasih, mintanya Rp 20 juta,” kata Sardiyanto, Sabtu (14/5).

Di tempat sama, Anton, 40, salah seorang peternak sekaligus penjual sapi asal Kecamatan Ngutermengatakan, PMK yang melanda saat ini seperti pukulan telak bagi peternak. Apalagi, momen menjelang Idul Adha menjadi kesempatan bagi peternak sapi untuk meraih untung karena permintaan sapi meningkat.

“PMK ini pengaruh sekali, karena biasanya momentum pembeli dari luar kota ambil sapi ke Sukoharjo, tapi ini mereka enggak ke sini, menunggu kondisi,” ucap Anton.

Anton menyebut, di tahun-tahun sebelumnya, pembeli sapi dari luar kota mayoritas berasal dari Bandung dan Jakarta. Meski mengalami penurunan pembeli dari luar kota, namun harga sapi naik. Dari pasaran Rp 18 juta dijual menjadi Rp 20 juta.

“Terdapat kendala di perjalanan, biasanya pembeli melihat perkembangannya dulu, kalau sudah baik baru beli,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sukoharjo Etik Suryani usai melakukan pemantauan kesehatan sapi di Pasar Hewan Bekonang menegaskan, meski belum ditemukan kasus PMK di Sukoharjo, namun pedagang sapi yang masuk ke Pasar Hewan Bekonang wajib membawa surat kesehatan hewan ternaknya.

“Kalau dari Boyolali kondisinya sehat tidak apa-apa, tapi harus bawa surat sehat,” tegas Etik didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertan) Sukoharjo Bagas Windaryatno.

Dilanjutkan Etik, apabila pedagang tersebut tidak membawa surat kesehatan, maka yang bersangkutan dilarang masuk dan diminta kembali ke daerahnya masing-masing. Oleh sebab itu, dia meminta kepada petugas agar ketat melakukan pengawasan di Pasar Hewan Bekonang tersebut.

“Nanti petugas harus ketat, mulai dari dokter dinas setempat. Di sini nanti ada satgas untuk memonitor kesehatan sapi,” terangnya. (kwl/ria)






Reporter: Iwan Kawul

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/