alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Pemkab Sukoharjo: Tolak Hewan Ternak tanpa Surat Sehat

SUKOHARJO – Pemkab Sukoharjo tetap mengizinkan sapi dari Boyolali masuk ke Kota Makmur dengan syarat harus dilengkapi surat keterangan sehat dari dinas terkait. Mengingat di Boyolali sudah ditemukan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi.

Itu disampaikan Bupati Sukoharjo Etik Suryani di sela memantau kesehatan sapi di Pasar Hewan Bekonang, Kecamatan Mojolaban didampingi Wakil Bupati Agus Santosa dan unsur forkompimda, Sabtu (14/5).

“Setiap sapi masuk ada tim yang mengecek. Apakah ada indikasi atau tanda-tanda penyakit mulut dan kuku,” terang Etik, Sabtu (14/5).

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, lanjut bupati, sudah menyosialisasikan kepada peternak dan pedagang sapi bahwa sapi dari luar Sukoharjo harus disertai surat kesehatan hewan dari dinas terkait. Tanpa syarat itu, hewan ternak dilarang masuk ke Pasar Hewan Bekonang.

“Termasuk sapi dari Boyolali. Asalkan sehat dan membawa surat keterangan sehat, boleh masuk (Sukoharjo,” ungkap Etik.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Boyolali, pihaknya melakukan berbagai antisipasi.

“Kami siapkan tempat karantina hewan, antisipasi dampak terburuk. Lokasinya di Begajah, Sukoharjo Kota dengan kapasitas 100 ekor,” terangnya.

Pada pemantauan kesehatan ternak di Pasar Hewan Bekonang, Kepala UPTD Rumah Potong dan Pusat Kesehatan Hewan Sukoharjo drh Leni Sri Lestari memberikan edukasi tentang tanda klinis PMK.

Di antaranya demam tinggi, keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah,  sehingga hewan ternak tidak mau makan, kaki pincang, luka pada kaki berujung pada lepasnya kuku, dan kondisi lemas karena kurang makan. “Kalau diobati lebih cepat, tingkat kesembuhan lebih baik,” jelasnya.

Menurut Leni, tingkat penularan PMK sekitar 90- 100 persen. Salah satunya melalui udara dengan jangkauan yang luas. “Kena angin bisa mencapai jarak 120 kilometer (penyebaran virus). Jangkauannya sangat luas,” terangnya. (kwl/wa/dam)

SUKOHARJO – Pemkab Sukoharjo tetap mengizinkan sapi dari Boyolali masuk ke Kota Makmur dengan syarat harus dilengkapi surat keterangan sehat dari dinas terkait. Mengingat di Boyolali sudah ditemukan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi.

Itu disampaikan Bupati Sukoharjo Etik Suryani di sela memantau kesehatan sapi di Pasar Hewan Bekonang, Kecamatan Mojolaban didampingi Wakil Bupati Agus Santosa dan unsur forkompimda, Sabtu (14/5).

“Setiap sapi masuk ada tim yang mengecek. Apakah ada indikasi atau tanda-tanda penyakit mulut dan kuku,” terang Etik, Sabtu (14/5).

Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, lanjut bupati, sudah menyosialisasikan kepada peternak dan pedagang sapi bahwa sapi dari luar Sukoharjo harus disertai surat kesehatan hewan dari dinas terkait. Tanpa syarat itu, hewan ternak dilarang masuk ke Pasar Hewan Bekonang.

“Termasuk sapi dari Boyolali. Asalkan sehat dan membawa surat keterangan sehat, boleh masuk (Sukoharjo,” ungkap Etik.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Boyolali, pihaknya melakukan berbagai antisipasi.

“Kami siapkan tempat karantina hewan, antisipasi dampak terburuk. Lokasinya di Begajah, Sukoharjo Kota dengan kapasitas 100 ekor,” terangnya.

Pada pemantauan kesehatan ternak di Pasar Hewan Bekonang, Kepala UPTD Rumah Potong dan Pusat Kesehatan Hewan Sukoharjo drh Leni Sri Lestari memberikan edukasi tentang tanda klinis PMK.

Di antaranya demam tinggi, keluar lendir berlebihan dari mulut dan berbusa, luka-luka seperti sariawan pada rongga mulut dan lidah,  sehingga hewan ternak tidak mau makan, kaki pincang, luka pada kaki berujung pada lepasnya kuku, dan kondisi lemas karena kurang makan. “Kalau diobati lebih cepat, tingkat kesembuhan lebih baik,” jelasnya.

Menurut Leni, tingkat penularan PMK sekitar 90- 100 persen. Salah satunya melalui udara dengan jangkauan yang luas. “Kena angin bisa mencapai jarak 120 kilometer (penyebaran virus). Jangkauannya sangat luas,” terangnya. (kwl/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/