alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

36 Desa di Sukoharjo Zona Merah PMK, Ternak Hidup Dilarang Keluar

SUKOHARJO – Sebanyak 36 dari 167 desa/kelurahan di Sukoharjo ditetapkan sebagai zona merah penyakit mulut dan kuku (PMK). Ternak hidup dipastikan tidak diperbolehkan keluar dari desa zona merah itu.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertan) Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno menyebut, per 16 Juni 2022 ini tercatat ada 511 ekor hewan ternak yang terpapar PMK. Dengan rincian 497 ekor sapi, tujuh ekor kerbau, satu ekor domba dan enam ekor kambing.

“Yang sudah sembuh ada 67 ekor, 59 sapi, dan delapan kambing,” ujarnya.

Sementara dari kasus pertama PMK ditemukan di Sukoharjo, ada empat ekor sapi yang mati. Serta 10 ekor sapi yang terpaksa dilakukan pemotongan. Bagas menyebut, jumlah populasi hewan ternak di Sukoharjo mencapai 35 ribu ekor.

“Total populasi hewan ternak di Sukoharjo ada 35 ribu ekor,” ucap Bagas.

Hingga kini, ada 36 dari 167 desa/kelurahan yang ditetapkan sebagai zona merah. Artinya, tidak boleh ada hewan hidup yang keluar dari desa itu. Namun, masih diperbolehkan melakukan jual beli.

“Kalau ada jual beli, ternak disembelih di tempat atau di desa itu. Ini sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo,, beberapa hari lalu saat vaksinasu ternak,” papar dia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menggelar vaksinasi PMK perdana di kelompok ternak sapi Sumber Makmur di Dusun Juron RT 2 RW 2, Desa Mertan Kecamatan, Bendosari, Sabtu (18/6). Mentan memberi arahan bahwa selain vaksin,  lalu lintas hewan juga diperketat.

Hewan ternak boleh keluar dari tempat yang ditentukan, tapi pakai sertifikat atau surat keterangan hewan. Namun, khusus untuk daerah zona merah itu ada di kecamatan. Di desa yang tertular PMK tidak boleh keluar hewan hidup.

“Oleh karena itu, apabila ada pemotongan hewan ternak dilakukan di tempat tersebut,” kata mentan.

Ada pembagian daerah, yakni daerah merah berbasis kecamatan dan desa. Daerah kuning berarti satu radius tertentu yang sudah ditetapkan sekitar zona merah. Lalu, radius hijau merupakan daerah yang tidak ditemukan PMK.

“Gugus tugas kabupaten ini diatur. Jadi memang sudah terkena di 180 kabupaten. Khusus daerah merah akan dijaga penuh oleh gugus tugas yang ada. Dipantau menggunakan aplikasi pemantau yang ada,” papar mentan.

Gugus tugas setiap hari melakukan pelaporan dan koordinasi tingkat kabupaten. Sedangkan di tingkat provinsi dua hari sekali memperbarui data, langkah dan mengintervensi yang perlu dilakukan. Gugus tugas nasional tiap tiga hari sekali melakukan rapat evaluasi semua yang telah dikerjakan. (kwl/ria)






Reporter: Iwan Kawul

SUKOHARJO – Sebanyak 36 dari 167 desa/kelurahan di Sukoharjo ditetapkan sebagai zona merah penyakit mulut dan kuku (PMK). Ternak hidup dipastikan tidak diperbolehkan keluar dari desa zona merah itu.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Dispertan) Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno menyebut, per 16 Juni 2022 ini tercatat ada 511 ekor hewan ternak yang terpapar PMK. Dengan rincian 497 ekor sapi, tujuh ekor kerbau, satu ekor domba dan enam ekor kambing.

“Yang sudah sembuh ada 67 ekor, 59 sapi, dan delapan kambing,” ujarnya.

Sementara dari kasus pertama PMK ditemukan di Sukoharjo, ada empat ekor sapi yang mati. Serta 10 ekor sapi yang terpaksa dilakukan pemotongan. Bagas menyebut, jumlah populasi hewan ternak di Sukoharjo mencapai 35 ribu ekor.

“Total populasi hewan ternak di Sukoharjo ada 35 ribu ekor,” ucap Bagas.

Hingga kini, ada 36 dari 167 desa/kelurahan yang ditetapkan sebagai zona merah. Artinya, tidak boleh ada hewan hidup yang keluar dari desa itu. Namun, masih diperbolehkan melakukan jual beli.

“Kalau ada jual beli, ternak disembelih di tempat atau di desa itu. Ini sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo,, beberapa hari lalu saat vaksinasu ternak,” papar dia.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menggelar vaksinasi PMK perdana di kelompok ternak sapi Sumber Makmur di Dusun Juron RT 2 RW 2, Desa Mertan Kecamatan, Bendosari, Sabtu (18/6). Mentan memberi arahan bahwa selain vaksin,  lalu lintas hewan juga diperketat.

Hewan ternak boleh keluar dari tempat yang ditentukan, tapi pakai sertifikat atau surat keterangan hewan. Namun, khusus untuk daerah zona merah itu ada di kecamatan. Di desa yang tertular PMK tidak boleh keluar hewan hidup.

“Oleh karena itu, apabila ada pemotongan hewan ternak dilakukan di tempat tersebut,” kata mentan.

Ada pembagian daerah, yakni daerah merah berbasis kecamatan dan desa. Daerah kuning berarti satu radius tertentu yang sudah ditetapkan sekitar zona merah. Lalu, radius hijau merupakan daerah yang tidak ditemukan PMK.

“Gugus tugas kabupaten ini diatur. Jadi memang sudah terkena di 180 kabupaten. Khusus daerah merah akan dijaga penuh oleh gugus tugas yang ada. Dipantau menggunakan aplikasi pemantau yang ada,” papar mentan.

Gugus tugas setiap hari melakukan pelaporan dan koordinasi tingkat kabupaten. Sedangkan di tingkat provinsi dua hari sekali memperbarui data, langkah dan mengintervensi yang perlu dilakukan. Gugus tugas nasional tiap tiga hari sekali melakukan rapat evaluasi semua yang telah dikerjakan. (kwl/ria)






Reporter: Iwan Kawul

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/