alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Cara Pemkab Sukoharjo Perangi Stunting dengan Dapur Sehat

SUKOHARJO – Kasus stunting di Kota Makmur tercatat sebesar 7 persen, masih di bawah angka nasional sebesar 14 persen. Tapi pemkab tetap memprioritaskan pencegahan stunting dengan banyak terobosan. Di antaranya peluncuran dapur sehat atasi stunting di Dusun Suruhan, Desa Bulu, Kecamatan Polokarto.

Stunting terdapat di 10 kecamatan. Sebanyak 167 desa/kelurahan bisa dibilang rawan. Walaupun kasus stunting di bawah rata-rata nasional, tapi tetap menjadi penyumbang kasus. Maka harus dicegah,” terang Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3AKB) Sukoharjo Proboningsih Dwi Danarti ditemui di Polokarto, Selasa (21/6).

Penyebab stunting adalah anak kekurangan asupan gizi, infeksi pada ibu, serta anemia atau kekurangan sel darah merah. Kasus stunting diukur berdasarkan tinggi dan berat badan anak yang disesuaikan dengan usia.

Pertumbuhan anak dianggap normal ketika tinggi badan selalu bertambah. Sebaliknya, apabila pertumbuhan anak terhambat, maka tinggi badan anak lebih pendek dibanding ukuran normal.

“Maka, suami-istri harus sehat. Jika istri mengalami anemia, berat badan kurang, sebaiknya tunda kehamilan dulu. Karena kita harus siapkan generasi-generasi emas,” jelasnya.

Pemkab, lanjut Proboningsih,  telah membentuk tim pendamping keluarga yang bertugas memberikan penyuluhan dan edukasi kepada calon pengantin, ibu hamil, dan ibu yang memiliki bayi di bawah tiga tahun.

Masing-masing tim pendamping keluarga berisi tiga orang, yakni tenaga kesehatan, kader institusi masyarakat pedesaan (IMP), dan anggota tim PKK.

“Kunci membangun SDM yang berkualitas adalah bayi yang dilahirkan hingga berusia 1.000 hari harus mendapat asupan gizi, air susu ibu, dan pola pengasuhan yang baik,” ungkap dia.

Camat Polokarto Heri Mulyadi menuturkan, sesuai instruksi Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan dinas pengendalian penduduk, keluarga berencana dan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (Dinsos P3AKB), dibentuklah dapur sehat atasi stunting (Dashat).

Dashat berada di dalam kampung keluarga berkualitas (Kampung KB) Dusun Suruhan, Desa Bulu, Kecamatan Polokarto. Fasilitas ini menjadi pusat gizi serta pelayanan pada anak stunting.

“Ada menu sehat dengan konsep produk lokal. Itu sekaligus memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat,” kata camat.

Di Polokarto, lanjut Heri, kasus stunting sudah mengalami penurunan dibanding 2020. Saat ini, setiap bayi lahir dan balita sehat. “Stunting di Polokarto tinggal 200. Kami dampingi terus pemenuhan gizinya,” pungkas dia. (kwl/wa/dam)

SUKOHARJO – Kasus stunting di Kota Makmur tercatat sebesar 7 persen, masih di bawah angka nasional sebesar 14 persen. Tapi pemkab tetap memprioritaskan pencegahan stunting dengan banyak terobosan. Di antaranya peluncuran dapur sehat atasi stunting di Dusun Suruhan, Desa Bulu, Kecamatan Polokarto.

Stunting terdapat di 10 kecamatan. Sebanyak 167 desa/kelurahan bisa dibilang rawan. Walaupun kasus stunting di bawah rata-rata nasional, tapi tetap menjadi penyumbang kasus. Maka harus dicegah,” terang Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3AKB) Sukoharjo Proboningsih Dwi Danarti ditemui di Polokarto, Selasa (21/6).

Penyebab stunting adalah anak kekurangan asupan gizi, infeksi pada ibu, serta anemia atau kekurangan sel darah merah. Kasus stunting diukur berdasarkan tinggi dan berat badan anak yang disesuaikan dengan usia.

Pertumbuhan anak dianggap normal ketika tinggi badan selalu bertambah. Sebaliknya, apabila pertumbuhan anak terhambat, maka tinggi badan anak lebih pendek dibanding ukuran normal.

“Maka, suami-istri harus sehat. Jika istri mengalami anemia, berat badan kurang, sebaiknya tunda kehamilan dulu. Karena kita harus siapkan generasi-generasi emas,” jelasnya.

Pemkab, lanjut Proboningsih,  telah membentuk tim pendamping keluarga yang bertugas memberikan penyuluhan dan edukasi kepada calon pengantin, ibu hamil, dan ibu yang memiliki bayi di bawah tiga tahun.

Masing-masing tim pendamping keluarga berisi tiga orang, yakni tenaga kesehatan, kader institusi masyarakat pedesaan (IMP), dan anggota tim PKK.

“Kunci membangun SDM yang berkualitas adalah bayi yang dilahirkan hingga berusia 1.000 hari harus mendapat asupan gizi, air susu ibu, dan pola pengasuhan yang baik,” ungkap dia.

Camat Polokarto Heri Mulyadi menuturkan, sesuai instruksi Bupati Sukoharjo Etik Suryani dan dinas pengendalian penduduk, keluarga berencana dan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (Dinsos P3AKB), dibentuklah dapur sehat atasi stunting (Dashat).

Dashat berada di dalam kampung keluarga berkualitas (Kampung KB) Dusun Suruhan, Desa Bulu, Kecamatan Polokarto. Fasilitas ini menjadi pusat gizi serta pelayanan pada anak stunting.

“Ada menu sehat dengan konsep produk lokal. Itu sekaligus memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat,” kata camat.

Di Polokarto, lanjut Heri, kasus stunting sudah mengalami penurunan dibanding 2020. Saat ini, setiap bayi lahir dan balita sehat. “Stunting di Polokarto tinggal 200. Kami dampingi terus pemenuhan gizinya,” pungkas dia. (kwl/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/