alexametrics
22.1 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Kepala Daerah Diminta Aktifkan Lumbung Cadangan Pangan

Mentan: Krisis Pangan di Depan Mata, Dampak Perubahan Iklim dan Perang

SUKOHARJO – Ancaman krisis pangan global harus diantisipasi sejak dini. Sebab itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meminta gubernur, bupati/wali kota, hingga kepala desa/lurah mengaktifkan lumbung cadangan pangan minimal untuk kebutuhan selama dua tahun.

Itu ditegaskan Syahrul dalam peringatan Hari Krida Pertanian Nasional Ke-50 di Desa Tegalsari, Kecamatan Weru, Rabu (22/6).

Penyebab krisis pangan, kata mentan, yakni perubahan iklim dan perang. Di antaranya Rusia dan Ukraina. “Perubahan iklim dan pemanasan global membuat cuaca tidak menentu. Daerah yang semula panas menjadi beku. Ada daerah yang tiba-tiba rumput bisa terbakar karena panas. Perang juga menghambat rantai pasok bahan makanan,” bebernya.

Kementerian Pertanian mulai mengumpulkan para ahli pertanian dan seluruh stakeholder untuk merumuskan strategi baru menghadapi krisis pangan.

“Ke depan kita akan bermasalah dengan gandum, bermasalah dengan kedelai yang selama ini menjadi importasi kita. Maka saatnya kita tanam sagu, singkong, sorgum, dan sebagainya. Lokasinya harus jelas,” tegas Syahrul.

Upaya lainnya, seluruh kepala daerah mengaktifkan cadangan pangan yang minimal dapat dimanfaatkan selama dua tahun. “Krisis pangan itu bukan masa depan, bukan masa mendatang, tapi sekarang. Di depan mata,” ujar mentan.

Di tempat yang sama, Kepala Perwakilan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Arya mengapresasi pencapaian pembangunan pertanian Indonesia pada masa pandemi.

Itu karena di saat kondisi pangan dan perekonomian dunia mengalami penurunan, Indonesia justru mampu menyediakan pangan dan menjadi penyelamat perekonomian nasional.

“Kita melihat Indonesia memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Dalam menghadapi krisis pangan dunia, Indonesia memiliki peranan penting dalam hal produksi pangan,” papar dia.

Sementara itu, produksi padi lewat program indeks pertanaman (IP) Padi 400 tak sesimpel yang dibayangkan. Banyak tantangannya. Di antaranya soal irigasi dan pemasaran.

Menurut Bupati Sukoharjo Etik Suryani, sejumlah saluran primer dan sekunder irigasi mengalami pendangkalan karena sedimentasi. Dampaknya, aliran air ke lahan pertanian tidak maksimal.

“Terkait pemasaran hasil panen padi super genjah, karena merupakan varietas baru, banyak yang meragukan hasil penjualannya dibandingkan jenis padi yang sudah biasa ditanam petani,” terangnya.

Di lain sisi, Etik sangat mendukung keberhasilan IP 400 yang merupakan terobosan Kementerian Pertanian sebagai upaya menggenjot hasil produksi padi dengan cara tanam dan panen empat kali di lahan yang sama.

Kabupaten Sukoharjo melaksanakan IP 400 kali pertama pada pada 2021 di lahan seluas 2.088 hektare dengan hasil sangat signifikan. Terdapat peningkatan produksi dan pendapatan petani. Maka pada tahun ini, respons petani terhadap IP 400 semakin meningkat. Total lahan yang ditanami bertama menjadi seluas 10 ribu hektare.

“Hasil panen pada musim tanam I sangat baik. Produktivitas mencapai 73,21 kuintal per hektare gabah kering giling (GKG) dengan varietas mayoritas Inpari 32. Lalu pada musim tanam II, produktivitas mencapai 70,6 kuintal per hektare gabah kering giling (GKG). Hasil musim tanam II sedikit menurun disebabkan serangan wereng batang cokelat,” urai bupati.

Lebih lanjut diterangkan Etik, salah satu upaya pemkab mendukung keberhasilan IP 400 adalah dengan menarik minat petani agar tidak membiarkan lahannya bero. Mereka mendapatkan pengarahan agar mempercepat tanam dan panen.

Petani di Kota Makmur, kata bupati, sangat responsif terhadap teknologi baru, sehingga untuk mewujudkan IP 400, mereka berswadaya dan disokong pemerintah desa melalui dana desa untuk pengadaan benih padi super genjah di musim tanam I.

“Oleh karena itu, pak menteri, nyuwun sewu, pada kesempatan yang baik ini, kami sangat  berharap bantuan dari Kementerian Pertanian berupa benih padi super genjah untuk musim tanam selanjutnya, agar dalam hitungan 1 tahun dapat terealisasi tanam dan panen empat kali,” ujar bupati.

Merespons tantangan implementasi IP 400 terkait irigasi, mentan akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR guna mempercepat penanganan sedimentasi, sedangkan terkait pemasaran, hari ini Syahrul sudah melakukan penandatangan ekpors beras ke sejumlah negara. Antara lain Tiongkok dan Arab Saudi. (kwl/wa/dam)

SUKOHARJO – Ancaman krisis pangan global harus diantisipasi sejak dini. Sebab itu, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meminta gubernur, bupati/wali kota, hingga kepala desa/lurah mengaktifkan lumbung cadangan pangan minimal untuk kebutuhan selama dua tahun.

Itu ditegaskan Syahrul dalam peringatan Hari Krida Pertanian Nasional Ke-50 di Desa Tegalsari, Kecamatan Weru, Rabu (22/6).

Penyebab krisis pangan, kata mentan, yakni perubahan iklim dan perang. Di antaranya Rusia dan Ukraina. “Perubahan iklim dan pemanasan global membuat cuaca tidak menentu. Daerah yang semula panas menjadi beku. Ada daerah yang tiba-tiba rumput bisa terbakar karena panas. Perang juga menghambat rantai pasok bahan makanan,” bebernya.

Kementerian Pertanian mulai mengumpulkan para ahli pertanian dan seluruh stakeholder untuk merumuskan strategi baru menghadapi krisis pangan.

“Ke depan kita akan bermasalah dengan gandum, bermasalah dengan kedelai yang selama ini menjadi importasi kita. Maka saatnya kita tanam sagu, singkong, sorgum, dan sebagainya. Lokasinya harus jelas,” tegas Syahrul.

Upaya lainnya, seluruh kepala daerah mengaktifkan cadangan pangan yang minimal dapat dimanfaatkan selama dua tahun. “Krisis pangan itu bukan masa depan, bukan masa mendatang, tapi sekarang. Di depan mata,” ujar mentan.

Di tempat yang sama, Kepala Perwakilan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Arya mengapresasi pencapaian pembangunan pertanian Indonesia pada masa pandemi.

Itu karena di saat kondisi pangan dan perekonomian dunia mengalami penurunan, Indonesia justru mampu menyediakan pangan dan menjadi penyelamat perekonomian nasional.

“Kita melihat Indonesia memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Dalam menghadapi krisis pangan dunia, Indonesia memiliki peranan penting dalam hal produksi pangan,” papar dia.

Sementara itu, produksi padi lewat program indeks pertanaman (IP) Padi 400 tak sesimpel yang dibayangkan. Banyak tantangannya. Di antaranya soal irigasi dan pemasaran.

Menurut Bupati Sukoharjo Etik Suryani, sejumlah saluran primer dan sekunder irigasi mengalami pendangkalan karena sedimentasi. Dampaknya, aliran air ke lahan pertanian tidak maksimal.

“Terkait pemasaran hasil panen padi super genjah, karena merupakan varietas baru, banyak yang meragukan hasil penjualannya dibandingkan jenis padi yang sudah biasa ditanam petani,” terangnya.

Di lain sisi, Etik sangat mendukung keberhasilan IP 400 yang merupakan terobosan Kementerian Pertanian sebagai upaya menggenjot hasil produksi padi dengan cara tanam dan panen empat kali di lahan yang sama.

Kabupaten Sukoharjo melaksanakan IP 400 kali pertama pada pada 2021 di lahan seluas 2.088 hektare dengan hasil sangat signifikan. Terdapat peningkatan produksi dan pendapatan petani. Maka pada tahun ini, respons petani terhadap IP 400 semakin meningkat. Total lahan yang ditanami bertama menjadi seluas 10 ribu hektare.

“Hasil panen pada musim tanam I sangat baik. Produktivitas mencapai 73,21 kuintal per hektare gabah kering giling (GKG) dengan varietas mayoritas Inpari 32. Lalu pada musim tanam II, produktivitas mencapai 70,6 kuintal per hektare gabah kering giling (GKG). Hasil musim tanam II sedikit menurun disebabkan serangan wereng batang cokelat,” urai bupati.

Lebih lanjut diterangkan Etik, salah satu upaya pemkab mendukung keberhasilan IP 400 adalah dengan menarik minat petani agar tidak membiarkan lahannya bero. Mereka mendapatkan pengarahan agar mempercepat tanam dan panen.

Petani di Kota Makmur, kata bupati, sangat responsif terhadap teknologi baru, sehingga untuk mewujudkan IP 400, mereka berswadaya dan disokong pemerintah desa melalui dana desa untuk pengadaan benih padi super genjah di musim tanam I.

“Oleh karena itu, pak menteri, nyuwun sewu, pada kesempatan yang baik ini, kami sangat  berharap bantuan dari Kementerian Pertanian berupa benih padi super genjah untuk musim tanam selanjutnya, agar dalam hitungan 1 tahun dapat terealisasi tanam dan panen empat kali,” ujar bupati.

Merespons tantangan implementasi IP 400 terkait irigasi, mentan akan berkoordinasi dengan Kementerian PUPR guna mempercepat penanganan sedimentasi, sedangkan terkait pemasaran, hari ini Syahrul sudah melakukan penandatangan ekpors beras ke sejumlah negara. Antara lain Tiongkok dan Arab Saudi. (kwl/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/