alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Kolaborasi Warga, PKL, Pengusaha: Geliatkan Wisata Kelurahan Gayam

Pedagang kaki lima (PKL) merupakan tulang punggung ekonomi kerakyatan. Jika dikelola secara bijak, maka sendi-sendi perekonomian rakyat bakal menggeliat. Diimbangi kolaborasi apik dengan warga dan pengusaha.

PEMBERDAYAAN masyarakat ini yang sedang digarap Kelurahan Gayam, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. Mereka dilibatkan untuk menggarap sektor pariwisata. Melalui Taman Pakujoyo dan wisata air Kampung Menjing.

“Sejak 2016 kami diwarisi Taman Pakujoyo. Lahan persawahan yang tidak produktif, disulap jadi ruang terbuka hijau (RTH),” kata Lurah Gayam Havid Danang kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (23/7).

Wilayah administratif Kelurahan Gayam terletak di pusat Kota Makmur. Sejumlah kantor pemerintahan, termasuk rumah dinas (rumdin) wakil bupati dan ketua DPRD Sukoharjo ada di sana.

Kelurahan Gayam terdiri dari 17 kampung. Di antaranya Kampung Larangan, Darmosari, Bulusari, dan Jogobayan. Berbatasan langsung dengan Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari. Wilayah selatan berbatasan dengan Kelurahan Begajah, Kecamatan Sukoharjo. Sedangkan wilayah timur berbatasan dengan Desa Mulur, Kecamatan Bendosari. Dan wilayah barat dengan Kelurahan Joho dan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota.

Taman Pakujoyo merupakan program dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Dibangun pada 2015. Kemudian oleh Pemerintah Kelurahan Gayam, warga RT 1 RW 9 dirangkul untuk nguri-uri Taman Pakujoyo. Sedikit demi sedikit, RTH tersebut dibenahi dan ditanami aneka bunga serta pepohonan.

“Awalnya hanya ada dua kolam ikan kecil. Sebelah utara ada lapangan voli. Kami melihat, jika dikelola dengan baik, pasti hasilnya besar. Karena potensinya ada di pusat kota dengan penduduk padat. Sehingga bisa menjadi alternatif untuk bersantai,” terang Havid.

Perlahan, PKL digandeng. Mulai dari pedagang bakso, minuman, makanan ringan, dan sebagainya. Mereka dibuatkan lapak-lapak di sekeliling taman. Lambat laun, pohon yang ditanam tumbuh besar dan rindang. Sehingga taman mulai hijau dan ramai dikunjungi warga.

Melihat perkembangan yang luar biasa tersebut, Pemerintah Kelurahan Gayam mulai kembangkan lahan sisi utara yang tidak produktif. “Kami buatkan kolam pemancingan. Sehingga total luas Taman Pakujoyo mencapai 8.000 meter persegi. Ada taman lalu lintas, dua kolam ikan, dan aneka kuliner. Kami juga menggandeng pengusaha untuk menyediakan bus wisata. Namanya Bus Tayo,” bebernya.

Menariknya, PKL dan pengunjung yang ingin menikmati Taman Pakujoyo tidak ditarik retribusi. Lalu, dari mana biaya perawatan dan pengembangan fasilitas Taman Pakujoyo? Rupanya, berasal dari arisan paguyuban PKL setempat.

“Misalnya ada tambahan spot untuk selfie, dananya dari arisal paguyuban PKL,” urai Havid.

Wisata tubing dan perahu wisata Kampung Menjing. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Sementara itu, pengembangan pariwisata melebar ke Kampung Menjing. Lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Taman Pakujoyo. Memanfaatkan saluran irigasi DAM Colo.

“Warga sekitar kami gandeng. Kami rangkul untuk memberdayakan potensi Kampung Menjing. Saluran irigasinya di dekat pintu air kan relatif jernih airnya. Kami buat wahana tubing,” jelas Havid.

Pengembangan wisata tubing dimulai pada 2018. Dikelola karang taruna setempat. Disusul pembangunan Sekolah Hijau oleh ibu-ibu anggota kelompok tani. Mereka bersinergi mengelola paket wisata outbound di Menjing.

“Pendapatan dari wisata terpadu ini lumayan banyak. Bisa mencapai Rp 300 ribu-Rp 700 ribu per hari. Itu data sebelum pandemi Covid-19,” imbuh Havid.

Lokasi lain yang dikembangkan yakni Kampung Pulosari. Kampung di sisi barat Kelurahan Gayam itu dilintasi irigasi DAM Colo. Awalnya aliran sungai kumuh. Kemudian dibangun Taman Losari. Anggarannya dari swadaya warga. Dikelola lima kelompok sadar wisata (pokdarwis).

“Dulu bantaran sungai kumuh sekali. Ada kandang ternak dan tempat membuang sampah. Akhirnya dibersihkan dan dikelola menjadi objek wisata,” tandas Havid. (kwl/fer)


Pedagang kaki lima (PKL) merupakan tulang punggung ekonomi kerakyatan. Jika dikelola secara bijak, maka sendi-sendi perekonomian rakyat bakal menggeliat. Diimbangi kolaborasi apik dengan warga dan pengusaha.

PEMBERDAYAAN masyarakat ini yang sedang digarap Kelurahan Gayam, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo. Mereka dilibatkan untuk menggarap sektor pariwisata. Melalui Taman Pakujoyo dan wisata air Kampung Menjing.

“Sejak 2016 kami diwarisi Taman Pakujoyo. Lahan persawahan yang tidak produktif, disulap jadi ruang terbuka hijau (RTH),” kata Lurah Gayam Havid Danang kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (23/7).

Wilayah administratif Kelurahan Gayam terletak di pusat Kota Makmur. Sejumlah kantor pemerintahan, termasuk rumah dinas (rumdin) wakil bupati dan ketua DPRD Sukoharjo ada di sana.

Kelurahan Gayam terdiri dari 17 kampung. Di antaranya Kampung Larangan, Darmosari, Bulusari, dan Jogobayan. Berbatasan langsung dengan Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari. Wilayah selatan berbatasan dengan Kelurahan Begajah, Kecamatan Sukoharjo. Sedangkan wilayah timur berbatasan dengan Desa Mulur, Kecamatan Bendosari. Dan wilayah barat dengan Kelurahan Joho dan Jetis, Kecamatan Sukoharjo Kota.

Taman Pakujoyo merupakan program dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah. Dibangun pada 2015. Kemudian oleh Pemerintah Kelurahan Gayam, warga RT 1 RW 9 dirangkul untuk nguri-uri Taman Pakujoyo. Sedikit demi sedikit, RTH tersebut dibenahi dan ditanami aneka bunga serta pepohonan.

“Awalnya hanya ada dua kolam ikan kecil. Sebelah utara ada lapangan voli. Kami melihat, jika dikelola dengan baik, pasti hasilnya besar. Karena potensinya ada di pusat kota dengan penduduk padat. Sehingga bisa menjadi alternatif untuk bersantai,” terang Havid.

Perlahan, PKL digandeng. Mulai dari pedagang bakso, minuman, makanan ringan, dan sebagainya. Mereka dibuatkan lapak-lapak di sekeliling taman. Lambat laun, pohon yang ditanam tumbuh besar dan rindang. Sehingga taman mulai hijau dan ramai dikunjungi warga.

Melihat perkembangan yang luar biasa tersebut, Pemerintah Kelurahan Gayam mulai kembangkan lahan sisi utara yang tidak produktif. “Kami buatkan kolam pemancingan. Sehingga total luas Taman Pakujoyo mencapai 8.000 meter persegi. Ada taman lalu lintas, dua kolam ikan, dan aneka kuliner. Kami juga menggandeng pengusaha untuk menyediakan bus wisata. Namanya Bus Tayo,” bebernya.

Menariknya, PKL dan pengunjung yang ingin menikmati Taman Pakujoyo tidak ditarik retribusi. Lalu, dari mana biaya perawatan dan pengembangan fasilitas Taman Pakujoyo? Rupanya, berasal dari arisan paguyuban PKL setempat.

“Misalnya ada tambahan spot untuk selfie, dananya dari arisal paguyuban PKL,” urai Havid.

Wisata tubing dan perahu wisata Kampung Menjing. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Sementara itu, pengembangan pariwisata melebar ke Kampung Menjing. Lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Taman Pakujoyo. Memanfaatkan saluran irigasi DAM Colo.

“Warga sekitar kami gandeng. Kami rangkul untuk memberdayakan potensi Kampung Menjing. Saluran irigasinya di dekat pintu air kan relatif jernih airnya. Kami buat wahana tubing,” jelas Havid.

Pengembangan wisata tubing dimulai pada 2018. Dikelola karang taruna setempat. Disusul pembangunan Sekolah Hijau oleh ibu-ibu anggota kelompok tani. Mereka bersinergi mengelola paket wisata outbound di Menjing.

“Pendapatan dari wisata terpadu ini lumayan banyak. Bisa mencapai Rp 300 ribu-Rp 700 ribu per hari. Itu data sebelum pandemi Covid-19,” imbuh Havid.

Lokasi lain yang dikembangkan yakni Kampung Pulosari. Kampung di sisi barat Kelurahan Gayam itu dilintasi irigasi DAM Colo. Awalnya aliran sungai kumuh. Kemudian dibangun Taman Losari. Anggarannya dari swadaya warga. Dikelola lima kelompok sadar wisata (pokdarwis).

“Dulu bantaran sungai kumuh sekali. Ada kandang ternak dan tempat membuang sampah. Akhirnya dibersihkan dan dikelola menjadi objek wisata,” tandas Havid. (kwl/fer)

Populer

Berita Terbaru