alexametrics
26.3 C
Surakarta
Thursday, 9 December 2021

Eks Napiter Beber Cara Cegah Terorisme, Hapus Tiga Sumbatan Pemicu

SUKOHARJO Pemerintah melakukan banyak cara menanggulangi terorisme. Nah, masukan dari mantan narapidana terorisme (napiter) Roki Aprisdianto dalam focus group discussion (FGD) yang digelar Polres Sukoharjo, Kamis (25/11), layak diperhitungkan. Dia menegaskan ada tiga poin yang menyumbat mewujudkan toleransi.

Selain Roki, hadir pada kegiatan bertema  Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme, yakni Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, dan para pakar lainnya.

Diterangkan kapolres, FGD merupakan kegiatan yang diinisiasi Satbinmas Polres Sukoharjo bertujuan mendapatkan masukan maupun sarana yang dapat ditindaklanjuti Pemkab Sukoharjo dan elemen lainnya.

Ditegaskan Wahyu, terorisme tidak ada kaitannya dengan agama, maka jangan dihubung-hubungkan dengan agama. Radikalisme terjadi karena sejumlah factor, antara lain ekonomi, pendidikan, dan pergaulan.

“Terorisme gaya baru bisa dipelajari lewat smartphone atau media internet, karena internet bisa diakses setiap orang, maka harus sangat berhati-hati mengaksesnya, beber kapolres.

Selain itu, para orang tua dan generasi milenial diminta mewaspadai upaya perekrutan kelompok radikal atau terorisme yang menyasar siswa SMA. Karena di usia tersebut, kawula muda masih labil.

“Pencegahan terorisme dapat dilakukan dengan meminimalkan kesenjangan sosial dan perbaikan tingkat ekonomi, pemahaman ilmu dengan baik dan benar. Karena ilmu adalah faktor utama dari segala aspek kehidupan. Ilmu sebagai fondasi yang membentengi seseorang dari pengaruh radikalisme,” urai Wahyu.

Sementara itu, Roki menyebut ada tiga poin yang menyumbat mewujudkan toleransi, yaitu sumbatan komunikasi sesama agama, sumbatan antaragama, serta sumbatan berbangsa dan bernegara.

“Jadi ingin mewujudkan toleransi dan mencegah terjadinya terorisme, maka harus menyelesaikan sumbatan-sumbatan tersebut,” ungkapnya. (kwl/wa/dam)

SUKOHARJO Pemerintah melakukan banyak cara menanggulangi terorisme. Nah, masukan dari mantan narapidana terorisme (napiter) Roki Aprisdianto dalam focus group discussion (FGD) yang digelar Polres Sukoharjo, Kamis (25/11), layak diperhitungkan. Dia menegaskan ada tiga poin yang menyumbat mewujudkan toleransi.

Selain Roki, hadir pada kegiatan bertema  Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme, yakni Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan, dan para pakar lainnya.

Diterangkan kapolres, FGD merupakan kegiatan yang diinisiasi Satbinmas Polres Sukoharjo bertujuan mendapatkan masukan maupun sarana yang dapat ditindaklanjuti Pemkab Sukoharjo dan elemen lainnya.

Ditegaskan Wahyu, terorisme tidak ada kaitannya dengan agama, maka jangan dihubung-hubungkan dengan agama. Radikalisme terjadi karena sejumlah factor, antara lain ekonomi, pendidikan, dan pergaulan.

“Terorisme gaya baru bisa dipelajari lewat smartphone atau media internet, karena internet bisa diakses setiap orang, maka harus sangat berhati-hati mengaksesnya, beber kapolres.

Selain itu, para orang tua dan generasi milenial diminta mewaspadai upaya perekrutan kelompok radikal atau terorisme yang menyasar siswa SMA. Karena di usia tersebut, kawula muda masih labil.

“Pencegahan terorisme dapat dilakukan dengan meminimalkan kesenjangan sosial dan perbaikan tingkat ekonomi, pemahaman ilmu dengan baik dan benar. Karena ilmu adalah faktor utama dari segala aspek kehidupan. Ilmu sebagai fondasi yang membentengi seseorang dari pengaruh radikalisme,” urai Wahyu.

Sementara itu, Roki menyebut ada tiga poin yang menyumbat mewujudkan toleransi, yaitu sumbatan komunikasi sesama agama, sumbatan antaragama, serta sumbatan berbangsa dan bernegara.

“Jadi ingin mewujudkan toleransi dan mencegah terjadinya terorisme, maka harus menyelesaikan sumbatan-sumbatan tersebut,” ungkapnya. (kwl/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru