alexametrics
31.1 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Pemkab Wonogiri Ancang-ancang Jadi Kabupaten Kreatif

WONOGIRI – Pemkab Wonogiri ancang-ancang menjadi kabupaten kreatif. Subsektor ekonomi kreatif yang akan diunggulkan mulai dipetakan.

Mendukung rencana tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda & Litbang) Wonogiri menggelar focus group discussion dengan sejumlah pihak terkait, Rabu (3/8).

Dalam diskusi yang digelar, muncul usulan dari Faris Wibisono, pelaku ekonomi kreatif dari Kecamatan Pracimantoru agar potensi ekonomi kreatif yang sudah ada dikembangkan. Mengingat sudah memiliki fondasi kuat. Di antaranya seni budaya.

Wonogiri memiliki Kampung Wayang di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran. Ekonomi kreatif di sana sudah ada sejak lama dan banyak perajin wayang, penatah, dan sebagainya berasal dari desa setempat.

“Sudah ada kontruksinya sejak lama. Kenapa tidak kita tangkap dan disesuaikan dengan ruang hari ini,” ujar Faris usai acara.

Event-event seni budaya, antara lain bersih dusun yang mementaskan wayang kulit bisa terlaksana dengan sokongan kolektif masyarakat. Banyak sektor ikut bergerak. Mulai dari perajin wayang, perajin kelengkapan pewayangan, hingga pedagang.

“Hal seperti ini yang harus diimbangi dengan inovasi. Kalau tidak, bisa mandek dan hilang. Inovasi dibutuhkan agar seni budaya tidak hilang tergerus zaman,” katanya.

Terpisah, Kepala Bapedda & Litbang Wonogiri Heru Utomo mengatakan, terdapat 17 subsektor ekonomi dalam penilaian mandiri kabupaten kota kreatif (PMK3I). Di antaranya pengembang permainan, arsitektur desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fashion, kuliner, film animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan terakhir aplikasi.

Saat bicara tentang seni pertunjukan, tak hanya wayang. “Pemahamannya harus seperti itu dulu. Kalau nanti wayang dimasukkan di seni pertunjukan, itu boleh. Tapi yang menilai kan dari kementerian,” ujar dia.

Bapedda & Litbang Wonogiri bakal membentuk kelompok yang mewakili 17 subsektor ekonomi kreatif. Mulai dari seni pertunjukan hingga kesenian lain. Setelah 17 subsektor ekonomi kreatif telah diinput, daerah akan menentukan beberapa subsektor ekonomi kreatif yang bisa diunggulkan.

Dalam FGD tersebut, pelaku ekonomi kreatif turut diundang. Mewakili 17 subsektor ekonomi kreatif. Setelah beberapa subsektor unggulan ditemukan, misalnya subsektor kuliner ditentukan bakso, maka akan dilihat mata rantai siapa saja yang terlibat dalam pembuatan bakso.

Kapan target Wonogiri bisa mendapatkan predikat kabupaten kreatif? Heru menuturkan, diupayakan secepatnya. Rampung FGD, bakal dibentuk Komite Kabupaten Kreatif Wonogiri. “Komite ini yang akan ikut kerja menyiapkan PMK3I,” pungkasnya. (al/wa/dam)

WONOGIRI – Pemkab Wonogiri ancang-ancang menjadi kabupaten kreatif. Subsektor ekonomi kreatif yang akan diunggulkan mulai dipetakan.

Mendukung rencana tersebut, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda & Litbang) Wonogiri menggelar focus group discussion dengan sejumlah pihak terkait, Rabu (3/8).

Dalam diskusi yang digelar, muncul usulan dari Faris Wibisono, pelaku ekonomi kreatif dari Kecamatan Pracimantoru agar potensi ekonomi kreatif yang sudah ada dikembangkan. Mengingat sudah memiliki fondasi kuat. Di antaranya seni budaya.

Wonogiri memiliki Kampung Wayang di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran. Ekonomi kreatif di sana sudah ada sejak lama dan banyak perajin wayang, penatah, dan sebagainya berasal dari desa setempat.

“Sudah ada kontruksinya sejak lama. Kenapa tidak kita tangkap dan disesuaikan dengan ruang hari ini,” ujar Faris usai acara.

Event-event seni budaya, antara lain bersih dusun yang mementaskan wayang kulit bisa terlaksana dengan sokongan kolektif masyarakat. Banyak sektor ikut bergerak. Mulai dari perajin wayang, perajin kelengkapan pewayangan, hingga pedagang.

“Hal seperti ini yang harus diimbangi dengan inovasi. Kalau tidak, bisa mandek dan hilang. Inovasi dibutuhkan agar seni budaya tidak hilang tergerus zaman,” katanya.

Terpisah, Kepala Bapedda & Litbang Wonogiri Heru Utomo mengatakan, terdapat 17 subsektor ekonomi dalam penilaian mandiri kabupaten kota kreatif (PMK3I). Di antaranya pengembang permainan, arsitektur desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fashion, kuliner, film animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan terakhir aplikasi.

Saat bicara tentang seni pertunjukan, tak hanya wayang. “Pemahamannya harus seperti itu dulu. Kalau nanti wayang dimasukkan di seni pertunjukan, itu boleh. Tapi yang menilai kan dari kementerian,” ujar dia.

Bapedda & Litbang Wonogiri bakal membentuk kelompok yang mewakili 17 subsektor ekonomi kreatif. Mulai dari seni pertunjukan hingga kesenian lain. Setelah 17 subsektor ekonomi kreatif telah diinput, daerah akan menentukan beberapa subsektor ekonomi kreatif yang bisa diunggulkan.

Dalam FGD tersebut, pelaku ekonomi kreatif turut diundang. Mewakili 17 subsektor ekonomi kreatif. Setelah beberapa subsektor unggulan ditemukan, misalnya subsektor kuliner ditentukan bakso, maka akan dilihat mata rantai siapa saja yang terlibat dalam pembuatan bakso.

Kapan target Wonogiri bisa mendapatkan predikat kabupaten kreatif? Heru menuturkan, diupayakan secepatnya. Rampung FGD, bakal dibentuk Komite Kabupaten Kreatif Wonogiri. “Komite ini yang akan ikut kerja menyiapkan PMK3I,” pungkasnya. (al/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/