alexametrics
23.3 C
Surakarta
Thursday, 18 August 2022

Penonton Konser Musik di Alun-Alun Wonogiri Dilarang Keras Bawa Atribut Silat

WONOGIRI – Polisi memastikan siap melakukan pengamanan dalam Festival Agustus Merdeka. Salah satu yang ditekankan, penonton dilarang membawa atribut perguruan silat area Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiri selama gelaran berlangsung.

Kapolres Wonogiri AKBP Dydit Dwi Susanto melalui Kabag Ops AKP Dwi Krisyanto memastikan jajaran kepolisian bersama stakeholder lain memberikan perhatian lebih terhadap jalannya Festival Agustus Merdeka. Itu dibuktikan dengan pengamanan superketat personel gabungan saat rangkaian acara berlangsung.

Dia menerangkan, pengamanan telah dilakukan sejak adanya deklarasi Classic Rock Wonogiri (Crown) yang mendatangkan Roy Jeconiah sebagai salah satu bintang tamu pada Minggu (31/7) lalu. Pengamanan juga bakal dimaksimalkan saat penampilan PADI Reborn pada Sabtu (13/8) mendatang.

“Tiap malam selama rangkaian acara berlangsung dari Polri telah menyiagakan 100 personel. Khusus saat acara 31 Juli lalu dan saat PADI Reborn nanti akan ada 150 personel, ditambah 95 personel dari Satpol PP, dishub dan kodim, jadi ada 245 orang personel,” ujar dia.

Dwi menerangkan, berdasarkan petunjuk Kapolres Wonogiri, area alun-alun diatur seperti car free night. Dengan begitu, masyarakat bisa menikmati gelaran pertunjukan dengan nyaman tanpa lalu lalang kendaraan bermotor. Oleh karena itu, sudah dilakukan pengaturan arus lalu lintas di sejumlah titik.

Di samping itu, antisipasi tindakan kriminalitas juga dilaksanakan. Caranya dengan melakukan skrining pengunjung oleh tim gabungan di empat titik. Titik itu di antaranya adalah di simpang empat kantor Kecamatan Wonogiri Kota, depan patung Ir Soekarno, depan Kantor Kementerian Agama dan depan Kantor BRI Wonogiri.

Skrining itu dilakukan untuk memastikan pengunjung yang masuk ke area alun-alun tidak membawa senjata tajam, minuman keras dan juga atribut perguruan silat seperti bendera, pakaian dan lain sebagainya. Itu untuk meminimalkan potensi terjadinya konflik.

“Jadi masuk alun-alun steril. Masyarakat bisa menikmati pertunjukan,” ujar Dwi.

Dia menambahkan, pengunjung tak boleh membawa atribut perguruan silat. Jika kedapatan membawa , petugas bakal menyita atribut tersebut.

Pihaknya meminta agar hal itu bisa dipahami oleh masyarakat. Sebab, tujuan utamanya adalah menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif saat gelaran acara.

“Kami harapkan ini bisa dipahami bersama. Demi kebaikan bersama. Intinya yang tidak boleh dibawa masuk area alun-alun itu miras, sajam dan atribut organisasi perguruan silat mana pun,” terang Dwi.

Lebih jauh, dia memastikan pengamanan dilakukan secara melekat. Termasuk dalam mengantisipasi terjadinya pencopetan saat gelaran alun-alun. Sebab, ada mata yang selalu mengawasi gerak-gerik setiap orang di alun-alun.

“Resmob dan intel sudah kita sebar. Itu demi kenyamanan masyarakat saat menikmati hiburan yang digelar,” ujar dia.

Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Solo pada Kamis malam, animo masyarakat dalam menikmati pertunjukan musik sangat terasa. Para pengunjung menikmati gelaran konser yang diisi pentas band pelajar, The Five, Sisi Selatan, OM PNS dan Vloska. Bupati Wonogiri Joko Sutopo juga tampak hadir di tengah penonton. Bupati menyapa masyarakat dan juga melayani ajakan swafoto masyarakat Kota Sukses.

Selain itu, bupati juga sempat mengamankan jaket berlogo salah satu perguruan silat yang dibawa pengunjung. Saat konser selesai, seorang pemuda bersama sejumlah rekannya bertemu bupati dan diperbolehkan membawa pulang kembali jaket tersebut. Mereka diberi pemahaman agar tak perlu membawa atau memakai atribut berbau perguruan saat konser. Mereka pun sepakat dengan hal tersebut dan kemudian pulang kembali.

“Atribut organisasi apapun kami mohon tidak perlu dibawa atau ditampilkan untuk menjaga semuanya. Pemkab Wonogiri bermohon kepada semua pihak untuk bisa memahami ini,” ujar bupati kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pria yang akrab disapa Jekek itu menambahkan, gelaran di Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiri adalah pesta rakyat. Menurut dia, Festival Agustus Merdeka adalah representasi komitmen warga Wonogiri sebagai anak bangsa untuk beraktualisasi dengan sejumlah potensi yang ada, baik pentas musik, seni budaya dan lain sebagainya.

“Maka kebersamaan kita merepresentasikan kerukunan, kebhinekaan dan pluralisme. Maka semua harus punya komitmen agar event ini berjalan aman dan baik,” kata dia.

Disinggung soal tindakannya mengamankan barang milik penonton yang berbau organisasi perguruan, Jekek mengamini bahwa hal tersebut adalah tindakan pencegahan dan tidak ada maksud lain. “Tadi kita beri pemahaman secara langsung dan itu juga bisa dipahami,” pungkas bupati. (al/ria)






Reporter: Iwan Adi Luhung

WONOGIRI – Polisi memastikan siap melakukan pengamanan dalam Festival Agustus Merdeka. Salah satu yang ditekankan, penonton dilarang membawa atribut perguruan silat area Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiri selama gelaran berlangsung.

Kapolres Wonogiri AKBP Dydit Dwi Susanto melalui Kabag Ops AKP Dwi Krisyanto memastikan jajaran kepolisian bersama stakeholder lain memberikan perhatian lebih terhadap jalannya Festival Agustus Merdeka. Itu dibuktikan dengan pengamanan superketat personel gabungan saat rangkaian acara berlangsung.

Dia menerangkan, pengamanan telah dilakukan sejak adanya deklarasi Classic Rock Wonogiri (Crown) yang mendatangkan Roy Jeconiah sebagai salah satu bintang tamu pada Minggu (31/7) lalu. Pengamanan juga bakal dimaksimalkan saat penampilan PADI Reborn pada Sabtu (13/8) mendatang.

“Tiap malam selama rangkaian acara berlangsung dari Polri telah menyiagakan 100 personel. Khusus saat acara 31 Juli lalu dan saat PADI Reborn nanti akan ada 150 personel, ditambah 95 personel dari Satpol PP, dishub dan kodim, jadi ada 245 orang personel,” ujar dia.

Dwi menerangkan, berdasarkan petunjuk Kapolres Wonogiri, area alun-alun diatur seperti car free night. Dengan begitu, masyarakat bisa menikmati gelaran pertunjukan dengan nyaman tanpa lalu lalang kendaraan bermotor. Oleh karena itu, sudah dilakukan pengaturan arus lalu lintas di sejumlah titik.

Di samping itu, antisipasi tindakan kriminalitas juga dilaksanakan. Caranya dengan melakukan skrining pengunjung oleh tim gabungan di empat titik. Titik itu di antaranya adalah di simpang empat kantor Kecamatan Wonogiri Kota, depan patung Ir Soekarno, depan Kantor Kementerian Agama dan depan Kantor BRI Wonogiri.

Skrining itu dilakukan untuk memastikan pengunjung yang masuk ke area alun-alun tidak membawa senjata tajam, minuman keras dan juga atribut perguruan silat seperti bendera, pakaian dan lain sebagainya. Itu untuk meminimalkan potensi terjadinya konflik.

“Jadi masuk alun-alun steril. Masyarakat bisa menikmati pertunjukan,” ujar Dwi.

Dia menambahkan, pengunjung tak boleh membawa atribut perguruan silat. Jika kedapatan membawa , petugas bakal menyita atribut tersebut.

Pihaknya meminta agar hal itu bisa dipahami oleh masyarakat. Sebab, tujuan utamanya adalah menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif saat gelaran acara.

“Kami harapkan ini bisa dipahami bersama. Demi kebaikan bersama. Intinya yang tidak boleh dibawa masuk area alun-alun itu miras, sajam dan atribut organisasi perguruan silat mana pun,” terang Dwi.

Lebih jauh, dia memastikan pengamanan dilakukan secara melekat. Termasuk dalam mengantisipasi terjadinya pencopetan saat gelaran alun-alun. Sebab, ada mata yang selalu mengawasi gerak-gerik setiap orang di alun-alun.

“Resmob dan intel sudah kita sebar. Itu demi kenyamanan masyarakat saat menikmati hiburan yang digelar,” ujar dia.

Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Solo pada Kamis malam, animo masyarakat dalam menikmati pertunjukan musik sangat terasa. Para pengunjung menikmati gelaran konser yang diisi pentas band pelajar, The Five, Sisi Selatan, OM PNS dan Vloska. Bupati Wonogiri Joko Sutopo juga tampak hadir di tengah penonton. Bupati menyapa masyarakat dan juga melayani ajakan swafoto masyarakat Kota Sukses.

Selain itu, bupati juga sempat mengamankan jaket berlogo salah satu perguruan silat yang dibawa pengunjung. Saat konser selesai, seorang pemuda bersama sejumlah rekannya bertemu bupati dan diperbolehkan membawa pulang kembali jaket tersebut. Mereka diberi pemahaman agar tak perlu membawa atau memakai atribut berbau perguruan saat konser. Mereka pun sepakat dengan hal tersebut dan kemudian pulang kembali.

“Atribut organisasi apapun kami mohon tidak perlu dibawa atau ditampilkan untuk menjaga semuanya. Pemkab Wonogiri bermohon kepada semua pihak untuk bisa memahami ini,” ujar bupati kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pria yang akrab disapa Jekek itu menambahkan, gelaran di Alun-Alun Giri Krida Bakti Wonogiri adalah pesta rakyat. Menurut dia, Festival Agustus Merdeka adalah representasi komitmen warga Wonogiri sebagai anak bangsa untuk beraktualisasi dengan sejumlah potensi yang ada, baik pentas musik, seni budaya dan lain sebagainya.

“Maka kebersamaan kita merepresentasikan kerukunan, kebhinekaan dan pluralisme. Maka semua harus punya komitmen agar event ini berjalan aman dan baik,” kata dia.

Disinggung soal tindakannya mengamankan barang milik penonton yang berbau organisasi perguruan, Jekek mengamini bahwa hal tersebut adalah tindakan pencegahan dan tidak ada maksud lain. “Tadi kita beri pemahaman secara langsung dan itu juga bisa dipahami,” pungkas bupati. (al/ria)






Reporter: Iwan Adi Luhung

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/