alexametrics
23.3 C
Surakarta
Wednesday, 17 August 2022

Setahun Tiga Kali Panen

Pengembangan Sumur Submersible di Desa Jaten, Selogiri

WONOGIRI – Irigasi alias pengairan sangat vital perannya bagi petani, terutama di Desa Jaten, Selogiri. Mengingat daerah tersebut sering dilanda kekeringan. Nah, mengurai masalah yang dihadapi pertani, Pemerintah Desa (Pemdes) Jaten mulai mengembangkan sumur submersible alias sumur dalam.

Desa Jaten, Selogiri kerap jadi langganan kekeringan. Mengingat letak geografisnya, jauh dari sumber air dan jaringan irigasi sekunder. Dampaknya, petani hanya mampu memanen padi dua kali dalam setahun. Karena baru bisa menanam padi, saat musim penghujan tiba.

Kini, masalah tersebut sedikit demi sedikit bisa diatasi. Setelah pemdes setempat membuat sumur submersible. Total ada empat unit sumur dalam yang dibangun. Masing-masing titik menempati lahan kas desa.

“Kedalaman sumur sekitar 80 meter. Inovasi ini lebih menghemat biaya. Juga bisa mengatasi masalah pertanian di musim kemarau,” kata Kepala Desa (Kades) Jaten Joko Santoso, Jumat (5/8).

Pembuatan sumur submersible ini sudah dirintis sejak dua tahun terakhir. Keempat unit sumur tersebut, menelan anggaran sekitar Rp 300 juta. Karena kedalamannya cukup ekstrem, praktis membutuhkan sumber tenaga besar untuk menyedot air.

“Sumber energi untuk memompa air pakai listrik dari PLN. Setiap sumur mampu mengairi 4-5 hektare sawah, meskipun musim kemarau tiba. Jadi sekarang petani masih bisa menanam padi di musim kemarau,” imbuh Joko.

Sayangnya, keempat unit sumur dalam ini belum mampu memasok seluruh lahan pertanian di Desa Jaten. Rencananya, pemdes akan membuat instalasi pemipaan baru. Memanfaatkan pipa paralon yang diklaim lebih hemat biaya.

“Supaya distribusi airnya maksimal. Pendistribusian air irigasi melalui paralon lebih efisien, karena tidak banyak air yang terbuang,” ujar Joko.

Setelah hadirnya sumur submersible, kini petani Desa Jaten bisa panen tiga kali setahun. Padahal sebelumnya, hanya mampu memanen dua kali setahun. Sekali panen, mampu menghasilkan 7 ton gabah basah per bahu. Sebagai catatan, 1 bahu setara lahan 6.000-8.000 meter persegi.

“Kalau biasanya, panen di MT (masa tanam) ketiga, harganya bagus. Gabah basah bisa tembus sekitar Rp 4.500-Rp 4.700 per kilogram,” terang Joko.

Keuntungan lain dari hadirnya sumur submersible, yakni mendongkrak daya tawar tanah kas Desa Jaten. Dulu, tanah kas desa tidak ada yang menyewa, lantaran tandus dan kering. Kini, banyak yang berminat menyewa melalui sistem lelang. Ini berpotensi meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).

Sementar itu, pemanfaatan sumur submersible masih sebatas di tanah kas desa. Ke depan, Pemdes Jaten berniat menambah di sejumlah titik. Saat ini sudah dilakukan pendataan, terkait kebutuhan tersebut.

“Ke depan akan dikelola BUMDes (badan usaha milik desa). Tidak hanya di tanah kas desa saja. Mudah-mudahan juga bermanfaat bagi petani sekitar,” tandas Joko. (al/fer/dam)

WONOGIRI – Irigasi alias pengairan sangat vital perannya bagi petani, terutama di Desa Jaten, Selogiri. Mengingat daerah tersebut sering dilanda kekeringan. Nah, mengurai masalah yang dihadapi pertani, Pemerintah Desa (Pemdes) Jaten mulai mengembangkan sumur submersible alias sumur dalam.

Desa Jaten, Selogiri kerap jadi langganan kekeringan. Mengingat letak geografisnya, jauh dari sumber air dan jaringan irigasi sekunder. Dampaknya, petani hanya mampu memanen padi dua kali dalam setahun. Karena baru bisa menanam padi, saat musim penghujan tiba.

Kini, masalah tersebut sedikit demi sedikit bisa diatasi. Setelah pemdes setempat membuat sumur submersible. Total ada empat unit sumur dalam yang dibangun. Masing-masing titik menempati lahan kas desa.

“Kedalaman sumur sekitar 80 meter. Inovasi ini lebih menghemat biaya. Juga bisa mengatasi masalah pertanian di musim kemarau,” kata Kepala Desa (Kades) Jaten Joko Santoso, Jumat (5/8).

Pembuatan sumur submersible ini sudah dirintis sejak dua tahun terakhir. Keempat unit sumur tersebut, menelan anggaran sekitar Rp 300 juta. Karena kedalamannya cukup ekstrem, praktis membutuhkan sumber tenaga besar untuk menyedot air.

“Sumber energi untuk memompa air pakai listrik dari PLN. Setiap sumur mampu mengairi 4-5 hektare sawah, meskipun musim kemarau tiba. Jadi sekarang petani masih bisa menanam padi di musim kemarau,” imbuh Joko.

Sayangnya, keempat unit sumur dalam ini belum mampu memasok seluruh lahan pertanian di Desa Jaten. Rencananya, pemdes akan membuat instalasi pemipaan baru. Memanfaatkan pipa paralon yang diklaim lebih hemat biaya.

“Supaya distribusi airnya maksimal. Pendistribusian air irigasi melalui paralon lebih efisien, karena tidak banyak air yang terbuang,” ujar Joko.

Setelah hadirnya sumur submersible, kini petani Desa Jaten bisa panen tiga kali setahun. Padahal sebelumnya, hanya mampu memanen dua kali setahun. Sekali panen, mampu menghasilkan 7 ton gabah basah per bahu. Sebagai catatan, 1 bahu setara lahan 6.000-8.000 meter persegi.

“Kalau biasanya, panen di MT (masa tanam) ketiga, harganya bagus. Gabah basah bisa tembus sekitar Rp 4.500-Rp 4.700 per kilogram,” terang Joko.

Keuntungan lain dari hadirnya sumur submersible, yakni mendongkrak daya tawar tanah kas Desa Jaten. Dulu, tanah kas desa tidak ada yang menyewa, lantaran tandus dan kering. Kini, banyak yang berminat menyewa melalui sistem lelang. Ini berpotensi meningkatkan pendapatan asli desa (PADes).

Sementar itu, pemanfaatan sumur submersible masih sebatas di tanah kas desa. Ke depan, Pemdes Jaten berniat menambah di sejumlah titik. Saat ini sudah dilakukan pendataan, terkait kebutuhan tersebut.

“Ke depan akan dikelola BUMDes (badan usaha milik desa). Tidak hanya di tanah kas desa saja. Mudah-mudahan juga bermanfaat bagi petani sekitar,” tandas Joko. (al/fer/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/