alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Terkait Dugaan Penularan PMK dari Pracimantoro

1.415 Hewan Sudah Diperiksa, Bupati Joko Pertanyakan Data Disnakan Boyolali

WONOGIRI – Bupati Wonogiri Joko Sutopo mempertanyakan pernyataan Dinas Peternakan (Disnakan) Boyolali yang menduga kasus penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sejumlah sapi di Boyolali berasal dari Pracimantoro dan Jawa Timur.

Jika memang pernyataan itu dikeluarkan dari Disnakan Boyolali, maka dinas setempat harus menunjukkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang diterbitkan dari Wonogiri.

Sebab menurut Joko Sutopo, berdasarkan penelusuran yang dilakukan petugas Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Dislakpernak) Wonogiri, tidak ada hewan ternak di Wonogiri terjangkit PMK.

“Konon katanya ada pedagang dari Jawa Timur bertransaksi dengan pedagang dari Boyolali. Ada kemungkinan transaksinya di Pracimantoro, tapi sapinya bukan berasal dari Wonogiri. Setelah kami lakukan penelusuran di peternak kami, tidak ada PMK kok,” beber bupati, Jumat (13/5).

Sebab itu, Joko Sutopo mengaku keberatan bahwa pernyataan Disnakan Boyolali didasarkan asumsi yang seharusnya mengacu pada data.

Ditambahkan bupati, di Kota Sukses terdapat tiga pasar hewan, yakni di Kecamatan Purwantoro, Pracimantoro, dan Wuryantoro.

Pemkab melakukan koordinasi lintas sektoral untuk membentuk tim pencegahan dan investigasi PMK. “Hingga saat ini belum ada temuan atau laporan dari petugas yang turun di lapangan terkait hewan ternak yang bergejala mengarah PMK,” tuturnya.

Merujuk data dislakpernak, sebanyak 1.415 ekor hewan ternak di tiga pasar telah diperiksa. Rinciannya, 264 ekor di Pasar Hewan Wuryantoro, 465 ekor di Pasar Hewan Pracimantoro, dan 686 ekor di Pasar Hewan Purwantoro. Ribuan ekor hewan ternak itu milik 424 pedagang.

Beberapa tindakan telah dilakukan pemkab menangkal PMK, yakni secara formal mengecek kesehatan hewan dari luar daerah yang akan masuk ke Kota Sukses. Pengecekan dilakukan di pos pemantauan lalu lintas ternak. Pedagang harus menunjukkan SKKH.

Upaya lainnya mengumpulkan pedagang hewan dari luar daerah, khususnya dari Jawa Timur untuk mendapatkan pemahaman. Mereka diminta lebih memperhatikan kesehatan hewan sebelum dibawa ke Wonogiri.

“Sikap kami tegas. Kalau nanti (pedagang dari luar daerah) tidak kooperatif dan kami temukan kasus PMK di pasar, maka pasar langsung kami tutup untuk mencegah meluasnya penularan. Kalau ditutup, mereka (pedagang hewan) juga rugi,” urainya. (al/wa/dam)

WONOGIRI – Bupati Wonogiri Joko Sutopo mempertanyakan pernyataan Dinas Peternakan (Disnakan) Boyolali yang menduga kasus penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sejumlah sapi di Boyolali berasal dari Pracimantoro dan Jawa Timur.

Jika memang pernyataan itu dikeluarkan dari Disnakan Boyolali, maka dinas setempat harus menunjukkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) yang diterbitkan dari Wonogiri.

Sebab menurut Joko Sutopo, berdasarkan penelusuran yang dilakukan petugas Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Dislakpernak) Wonogiri, tidak ada hewan ternak di Wonogiri terjangkit PMK.

“Konon katanya ada pedagang dari Jawa Timur bertransaksi dengan pedagang dari Boyolali. Ada kemungkinan transaksinya di Pracimantoro, tapi sapinya bukan berasal dari Wonogiri. Setelah kami lakukan penelusuran di peternak kami, tidak ada PMK kok,” beber bupati, Jumat (13/5).

Sebab itu, Joko Sutopo mengaku keberatan bahwa pernyataan Disnakan Boyolali didasarkan asumsi yang seharusnya mengacu pada data.

Ditambahkan bupati, di Kota Sukses terdapat tiga pasar hewan, yakni di Kecamatan Purwantoro, Pracimantoro, dan Wuryantoro.

Pemkab melakukan koordinasi lintas sektoral untuk membentuk tim pencegahan dan investigasi PMK. “Hingga saat ini belum ada temuan atau laporan dari petugas yang turun di lapangan terkait hewan ternak yang bergejala mengarah PMK,” tuturnya.

Merujuk data dislakpernak, sebanyak 1.415 ekor hewan ternak di tiga pasar telah diperiksa. Rinciannya, 264 ekor di Pasar Hewan Wuryantoro, 465 ekor di Pasar Hewan Pracimantoro, dan 686 ekor di Pasar Hewan Purwantoro. Ribuan ekor hewan ternak itu milik 424 pedagang.

Beberapa tindakan telah dilakukan pemkab menangkal PMK, yakni secara formal mengecek kesehatan hewan dari luar daerah yang akan masuk ke Kota Sukses. Pengecekan dilakukan di pos pemantauan lalu lintas ternak. Pedagang harus menunjukkan SKKH.

Upaya lainnya mengumpulkan pedagang hewan dari luar daerah, khususnya dari Jawa Timur untuk mendapatkan pemahaman. Mereka diminta lebih memperhatikan kesehatan hewan sebelum dibawa ke Wonogiri.

“Sikap kami tegas. Kalau nanti (pedagang dari luar daerah) tidak kooperatif dan kami temukan kasus PMK di pasar, maka pasar langsung kami tutup untuk mencegah meluasnya penularan. Kalau ditutup, mereka (pedagang hewan) juga rugi,” urainya. (al/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/