25 C
Surakarta
Sunday, 4 December 2022

Kecelakaan Maut Minibus Nguntoronadi, KNKT: Jalan Tak Layak, Sopir Hanya Andalkan Traksi

RADARSOLO.ID – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai jalan yang menjadi lokasi kecelakaan minibus rombongan tilik bayi di Kecamatan Nguntoronadi pada Senin (21/11) malam, dalam kondisi tidak layak. Fatalitas kecelakaan itu tinggi karena jumlah penumpang overload.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Sub Komite Moda Investigasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT Ahmad Wildan mengatakan, KNKT telah melakukan pengecekan di lokasi kecelakaan minibus yang terjadi di Dusun Kepuh Kulon, Desa Bumiharjo, Kecamatan Nguntoronadi. Dia juga turun ke lokasi.

“Kita lihat jalannya. Kondisi jalannya tak layak ya. Pertama, jalan itu curam dan pendek,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Solo lewat sambungan telepon, Kamis (24/11).

Pria yang akrab disapa Wildan itu menambahkan, surface atau permukaan jalan adalah beton. Yang menjadi masalah, ada lumut di jalan beton tersebut. Karena itu, skid resistance jalan rendah.

“Dan itu (jalan) licin berbahaya. Jadi jalan itu berbahaya jika dilalui minibus seperti itu,” ucap Wildan.

Bahkan, Wildan menilai jalan tersebut juga berbahaya dilalui sepeda motor jika pengendara tak menguasai medan. Sebab, kondisi jalan licin.

Selain itu, kata Wildan, kapasitas minibus seharusnya hanya 14 orang penumpang. Namun saat kejadian, minibus diisi 36 penumpang. Otomatis, sopir minibus berkendara dengan pelan dan mengandalkan traksi (gaya gesek maksimal antara ban dengan permukaan jalan untuk menghindari selip,Red).

lebih lanjut, Wildan juga telah menanyai pengemudi. Pengemudi mengaku naik dengan gigi satu, berjalan pelan. Dengan begitu, daya dorong kendaraan hanya mengandalkan traksi, di mana ban belakang mendorong ke depan. Pihaknya juga menemukan adanya ban yang gundul.

“Saat mengandalkan traksi dengan berat muatan dan jalan yang licin, akhirnya roda belakang sliding. Saya menemukan jejak sliding. Roda belakang berputar-putar tak bisa menanjak,” papar Wildan.

“Akhirnya kendaraan itu merosot karena muatan terlalu berat dan jalannya licin,” imbuh dia.

Bisa dikatakan, minibus itu melintas di jalan yang tak tepat. Sebab, itu bukan jalur yang tepat untuk minibus. Di samping itu, imbuh dia, kondisi jalan perkampungan itu juga tak bagus karena banyak lumut.

“Kemudian, peningkatan fatalitasnya karena bus kecil itu diisi 36 orang. Ketika jatuh orang tumplek blek di situ, tak ada sabuk keselamatan jadi saling berhimpit. Sementara seperti itu yang bisa kami capture. Kita akan buat analisa lebih mendalam,” pungkas dia. (al/ria)






Reporter: Iwan Adi Luhung

RADARSOLO.ID – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai jalan yang menjadi lokasi kecelakaan minibus rombongan tilik bayi di Kecamatan Nguntoronadi pada Senin (21/11) malam, dalam kondisi tidak layak. Fatalitas kecelakaan itu tinggi karena jumlah penumpang overload.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Sub Komite Moda Investigasi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT Ahmad Wildan mengatakan, KNKT telah melakukan pengecekan di lokasi kecelakaan minibus yang terjadi di Dusun Kepuh Kulon, Desa Bumiharjo, Kecamatan Nguntoronadi. Dia juga turun ke lokasi.

“Kita lihat jalannya. Kondisi jalannya tak layak ya. Pertama, jalan itu curam dan pendek,” kata dia kepada Jawa Pos Radar Solo lewat sambungan telepon, Kamis (24/11).

Pria yang akrab disapa Wildan itu menambahkan, surface atau permukaan jalan adalah beton. Yang menjadi masalah, ada lumut di jalan beton tersebut. Karena itu, skid resistance jalan rendah.

“Dan itu (jalan) licin berbahaya. Jadi jalan itu berbahaya jika dilalui minibus seperti itu,” ucap Wildan.

Bahkan, Wildan menilai jalan tersebut juga berbahaya dilalui sepeda motor jika pengendara tak menguasai medan. Sebab, kondisi jalan licin.

Selain itu, kata Wildan, kapasitas minibus seharusnya hanya 14 orang penumpang. Namun saat kejadian, minibus diisi 36 penumpang. Otomatis, sopir minibus berkendara dengan pelan dan mengandalkan traksi (gaya gesek maksimal antara ban dengan permukaan jalan untuk menghindari selip,Red).

lebih lanjut, Wildan juga telah menanyai pengemudi. Pengemudi mengaku naik dengan gigi satu, berjalan pelan. Dengan begitu, daya dorong kendaraan hanya mengandalkan traksi, di mana ban belakang mendorong ke depan. Pihaknya juga menemukan adanya ban yang gundul.

“Saat mengandalkan traksi dengan berat muatan dan jalan yang licin, akhirnya roda belakang sliding. Saya menemukan jejak sliding. Roda belakang berputar-putar tak bisa menanjak,” papar Wildan.

“Akhirnya kendaraan itu merosot karena muatan terlalu berat dan jalannya licin,” imbuh dia.

Bisa dikatakan, minibus itu melintas di jalan yang tak tepat. Sebab, itu bukan jalur yang tepat untuk minibus. Di samping itu, imbuh dia, kondisi jalan perkampungan itu juga tak bagus karena banyak lumut.

“Kemudian, peningkatan fatalitasnya karena bus kecil itu diisi 36 orang. Ketika jatuh orang tumplek blek di situ, tak ada sabuk keselamatan jadi saling berhimpit. Sementara seperti itu yang bisa kami capture. Kita akan buat analisa lebih mendalam,” pungkas dia. (al/ria)






Reporter: Iwan Adi Luhung

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/