alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Dampak Ekonomi BRI Liga 1 2022-2023 Diprediksi Lebih Besar, Capai Rp 2,7 T

JAKARTA – Sepak bola lebih dari sekadar cabang olahraga dengan penggemar terbanyak di dunia. Lebih dari itu, ketika dikelola dengan baik maka sepak bola bisa memutar roda perekonomian dengan begitu menjanjikan. Tak terkecuali BRI Liga 1 musim kompetisi 2022-2023 yang sudah kick off pada Sabtu (23/07), prospek ekonominya diproyeksikan bisa melebihi sebelum masa pandemi.

Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesa (FEB UI) Mohamad Dian Revindo mengatakan, bergulirnya kembali kasta tertinggi kompetisi sepak bola Tanah Air itu berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang besar dibandingkan dengan kompetisi sebelum pandemi.

“Bahkan bisa melebihi Rp 2,7 triliun seperti sebelum masa pandemi. Hal ini dikarenakan antusiasme penonton dan fans yang tetap tinggi. Mobilitas masyarakat yang berangsur normal sehingga dapat mendorong penonton datang ke stadion. Makin kuatnya bisnis hiburan TV dan saluran digital, serta pulihnya perekonomian,” ujarnya

Lebih lanjut, dia menjelaskan antusiasme publik sepak bola Tanah Air yang luar biasa. Terbukti dari tingginya jumlah penonton di stadion sejak dilonggarkannya aturan mobilitas pascapandemi mereda. Antusiasme penonton yang tinggi untuk menonton tim kebanggaannya secara langsung di stadion terlihat pada pertandingan Piala AFF 2022 dan Piala Presiden 2022 baru-baru ini.

Hal itu diperkuat pula dari pertumbuhan ekonomi 2021 tercatat positif 3,7 persen. Dan diperkirakan akan berlanjut lebih dari 5 persen pada 2022. Ini secara tidak langsung mengindikasikan mulai pulihnya daya beli masyarakat. Pemulihan daya beli ini diiringi dengan keinginan yang kuat untuk bepergian dan hiburan, di mana pertandingan sepak bola bisa menjadai salah satu alternatif yang murah.

“Dan antusiasme untuk hadir di stadion ini tidak akan mengurangi nilai dari tontonan TV dan saluran digital. Karena pandemi telah membuat masyarakat lebih dekat dengan gawai,” tutur dia.

Oleh karena itu, lanjutnya, prospek ekonomi dari sepak bola sangat bergantung dari pengendalian pandemi Covid-19 varian baru, vaksinasi booster, kebijakan mobilitas masyarakat dan efektivitas komunikasi publik atas kebijakan terkait. Termasuk efektivitas koordinasi antara aparat keamanan dengan panitia penyelenggara pertandingan dan klub.

Hal senada disampaikan Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto. Dia mengatakan, BRI kembali menjadi title sponsor BRI Liga I musim 2022-2023. Salah satu alasannya karena BRI ingin terus menghidupkan mata rantai ekonomi kerakyatan melalui industri sepak bola nasional.

Catur menjelaskan, perhelatan BRI Liga 1 musim 2022-2023 berbeda apabila dibandingkan dengan musim lalu. “Saat ini alhamdulillah pandemi sudah lebih terkendali sehingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat sudah mulai kembali pulih. Sehingga saat ini pertandingan sudah dapat dihadiri langsung oleh suporter secara bertahap sebanyak 75 persen dari kapasitas stadion,” tambahnya.

“Oleh karenanya, kami optimistis BRI Liga 1 musim ini akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian dan akan memberi multiplier effect yang lebih besar kepada UMKM di industri turunannya. Seperti pelaku usaha jersey, merchandise, transportasi, hingga usaha rumah makan/kuliner dan lain sebagainya,” lanjut Catur.

Nilai Ekonomi

Revindo pun menggambarkan secara rinci efek ganda prospek ekonomi Liga 1 dengan berkaca pada data musim kompetisi 2018-2019, ketika pandemi belum melanda. Pada 2019, perputaran uang langsung dalam kompetisi Liga 1 diperkirakan mencapi Rp 1,35 triliun.

Rinciannya, pada tahun tersebut pengeluaran untuk tiket penonton mencapai Rp 171, 82 miliar dengan menarik sekitar 2,86 juta penonton. Pengeluaran penonton untuk transportasi diperkirakan mencapai Rp 85,91 miliar, dengan pengeluaran untuk makan minum di angka yang sama.

Sedangkan pengeluaran untuk marchandise dari penggemar mencapai Rp 300 miliar. Sementara iklan untuk kompetisi musim tersebut senilai Rp 180 miliar, iklan televisi Rp 354 miliar dan sponsor klub Rp 180 miliar.

Dia pun menjelaskan, dari sisi ekonomi, produk akhir dari industri olah raga sepak bola ada dua. Yaitu acara tontonan di stadion dan acara siaran pertandingan di televisi. Untuk produk akhir berupa hiburan tontonan stadion, perputaran uangnya ada di industri sewa stadion, pembelian tiket, transportasi, dan biaya makan minum penonton, serta kostum dan pernak-pernik (marchandise).

“Pada masa sebelum pandemi, untuk nilai ekonomi tontonan stadion diperkirakan total nilai ekonominya sekitar Rp 644 miliar satu musim kompetisi untuk liga teratas saja. Belum termasuk liga level yang lebih rendah,” tuturnya.

Sementara untuk produk akhir yang berupa hiburan tontonan televisi, perputaran uang ada di industri penyiaran, periklanan dan teknologi informasi. Baik iklan untuk penyelenggara kompetisi, iklan pada stasiun televisi dan sponsor klub, nilainya total mencapai Rp 714 miliar.

“Kemudian, uang yang berputar dalam industri ini pada gilirannya bisa memicu kegiatan ekonomi di sektor-sektor lainnya. Sektor ekonomi yang terdampak positif terutama adalah informasi dan komunikasi, perdagangan, industri pengolahan, dan berbagai jasa lainnya.  Keseluruhan dampak ekonomi yang tercipta secara nasional mencapai tak kurang dari Rp 2,7 triliun dan penciptaan 25.000 kesempatan kerja,” imbuhnya.

Dengan potensi ekonomi yang besar tersebut, Revindo menyatakan tak heran BRI tetap berkomitmen untuk menjadi sponsor utama Liga 1, liga sepak bola kasta tertinggi di Indonesia. Menurut dia, keputusan BRI sebagai bank BUMN yang selama ini identik dengan layanan keuangan untuk UMKM dan masyarakat pedesaan, dan kini menjadi sponsor, juga menarik untuk dicermati.

“Dari sisi produk, layanan BRI dan penonton sepak bola tidak beririsan sempurna. Tapi jangkauan dan pengenalan BRI yang luas di seantero nusantara berpotensi meningkatkan citra dan gairah dari kompetisi sampai ke pelosok dan semangat kedaerahan untuk mendukung tim kesayangan juga akan kuat,” pungkas dosen UI tersebut. (*/ria)

JAKARTA – Sepak bola lebih dari sekadar cabang olahraga dengan penggemar terbanyak di dunia. Lebih dari itu, ketika dikelola dengan baik maka sepak bola bisa memutar roda perekonomian dengan begitu menjanjikan. Tak terkecuali BRI Liga 1 musim kompetisi 2022-2023 yang sudah kick off pada Sabtu (23/07), prospek ekonominya diproyeksikan bisa melebihi sebelum masa pandemi.

Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesa (FEB UI) Mohamad Dian Revindo mengatakan, bergulirnya kembali kasta tertinggi kompetisi sepak bola Tanah Air itu berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang besar dibandingkan dengan kompetisi sebelum pandemi.

“Bahkan bisa melebihi Rp 2,7 triliun seperti sebelum masa pandemi. Hal ini dikarenakan antusiasme penonton dan fans yang tetap tinggi. Mobilitas masyarakat yang berangsur normal sehingga dapat mendorong penonton datang ke stadion. Makin kuatnya bisnis hiburan TV dan saluran digital, serta pulihnya perekonomian,” ujarnya

Lebih lanjut, dia menjelaskan antusiasme publik sepak bola Tanah Air yang luar biasa. Terbukti dari tingginya jumlah penonton di stadion sejak dilonggarkannya aturan mobilitas pascapandemi mereda. Antusiasme penonton yang tinggi untuk menonton tim kebanggaannya secara langsung di stadion terlihat pada pertandingan Piala AFF 2022 dan Piala Presiden 2022 baru-baru ini.

Hal itu diperkuat pula dari pertumbuhan ekonomi 2021 tercatat positif 3,7 persen. Dan diperkirakan akan berlanjut lebih dari 5 persen pada 2022. Ini secara tidak langsung mengindikasikan mulai pulihnya daya beli masyarakat. Pemulihan daya beli ini diiringi dengan keinginan yang kuat untuk bepergian dan hiburan, di mana pertandingan sepak bola bisa menjadai salah satu alternatif yang murah.

“Dan antusiasme untuk hadir di stadion ini tidak akan mengurangi nilai dari tontonan TV dan saluran digital. Karena pandemi telah membuat masyarakat lebih dekat dengan gawai,” tutur dia.

Oleh karena itu, lanjutnya, prospek ekonomi dari sepak bola sangat bergantung dari pengendalian pandemi Covid-19 varian baru, vaksinasi booster, kebijakan mobilitas masyarakat dan efektivitas komunikasi publik atas kebijakan terkait. Termasuk efektivitas koordinasi antara aparat keamanan dengan panitia penyelenggara pertandingan dan klub.

Hal senada disampaikan Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto. Dia mengatakan, BRI kembali menjadi title sponsor BRI Liga I musim 2022-2023. Salah satu alasannya karena BRI ingin terus menghidupkan mata rantai ekonomi kerakyatan melalui industri sepak bola nasional.

Catur menjelaskan, perhelatan BRI Liga 1 musim 2022-2023 berbeda apabila dibandingkan dengan musim lalu. “Saat ini alhamdulillah pandemi sudah lebih terkendali sehingga aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat sudah mulai kembali pulih. Sehingga saat ini pertandingan sudah dapat dihadiri langsung oleh suporter secara bertahap sebanyak 75 persen dari kapasitas stadion,” tambahnya.

“Oleh karenanya, kami optimistis BRI Liga 1 musim ini akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian dan akan memberi multiplier effect yang lebih besar kepada UMKM di industri turunannya. Seperti pelaku usaha jersey, merchandise, transportasi, hingga usaha rumah makan/kuliner dan lain sebagainya,” lanjut Catur.

Nilai Ekonomi

Revindo pun menggambarkan secara rinci efek ganda prospek ekonomi Liga 1 dengan berkaca pada data musim kompetisi 2018-2019, ketika pandemi belum melanda. Pada 2019, perputaran uang langsung dalam kompetisi Liga 1 diperkirakan mencapi Rp 1,35 triliun.

Rinciannya, pada tahun tersebut pengeluaran untuk tiket penonton mencapai Rp 171, 82 miliar dengan menarik sekitar 2,86 juta penonton. Pengeluaran penonton untuk transportasi diperkirakan mencapai Rp 85,91 miliar, dengan pengeluaran untuk makan minum di angka yang sama.

Sedangkan pengeluaran untuk marchandise dari penggemar mencapai Rp 300 miliar. Sementara iklan untuk kompetisi musim tersebut senilai Rp 180 miliar, iklan televisi Rp 354 miliar dan sponsor klub Rp 180 miliar.

Dia pun menjelaskan, dari sisi ekonomi, produk akhir dari industri olah raga sepak bola ada dua. Yaitu acara tontonan di stadion dan acara siaran pertandingan di televisi. Untuk produk akhir berupa hiburan tontonan stadion, perputaran uangnya ada di industri sewa stadion, pembelian tiket, transportasi, dan biaya makan minum penonton, serta kostum dan pernak-pernik (marchandise).

“Pada masa sebelum pandemi, untuk nilai ekonomi tontonan stadion diperkirakan total nilai ekonominya sekitar Rp 644 miliar satu musim kompetisi untuk liga teratas saja. Belum termasuk liga level yang lebih rendah,” tuturnya.

Sementara untuk produk akhir yang berupa hiburan tontonan televisi, perputaran uang ada di industri penyiaran, periklanan dan teknologi informasi. Baik iklan untuk penyelenggara kompetisi, iklan pada stasiun televisi dan sponsor klub, nilainya total mencapai Rp 714 miliar.

“Kemudian, uang yang berputar dalam industri ini pada gilirannya bisa memicu kegiatan ekonomi di sektor-sektor lainnya. Sektor ekonomi yang terdampak positif terutama adalah informasi dan komunikasi, perdagangan, industri pengolahan, dan berbagai jasa lainnya.  Keseluruhan dampak ekonomi yang tercipta secara nasional mencapai tak kurang dari Rp 2,7 triliun dan penciptaan 25.000 kesempatan kerja,” imbuhnya.

Dengan potensi ekonomi yang besar tersebut, Revindo menyatakan tak heran BRI tetap berkomitmen untuk menjadi sponsor utama Liga 1, liga sepak bola kasta tertinggi di Indonesia. Menurut dia, keputusan BRI sebagai bank BUMN yang selama ini identik dengan layanan keuangan untuk UMKM dan masyarakat pedesaan, dan kini menjadi sponsor, juga menarik untuk dicermati.

“Dari sisi produk, layanan BRI dan penonton sepak bola tidak beririsan sempurna. Tapi jangkauan dan pengenalan BRI yang luas di seantero nusantara berpotensi meningkatkan citra dan gairah dari kompetisi sampai ke pelosok dan semangat kedaerahan untuk mendukung tim kesayangan juga akan kuat,” pungkas dosen UI tersebut. (*/ria)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/