alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Kredit Berkelanjutan BRI Tembus Rp 657,1 Triliun, Kian Kokoh Terapkan ESG

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI semakin kuat menerapkan prinsip ESG atau environmental (lingkungan), social (sosial) dan governance (tata kelola yang baik), khususnya dalam menjaga kinerja fundamental. Hal itu tercermin dari konsistensi pertumbuhan kredit berkelanjutan dan pembiayaan hijau yang dibukukan perseroan.

Pada acara Diskusi Taman BRI yang diselenggarakan BRI Research Institute dan mengambil tema “Green Financing dan Komitmen Pengurangan Emisi”, SEVP Treasury & Global Services BRI Achmad Royadi menjelaskan, kredit berkelanjutan BRI hingga akhir kuartal II 2022 telah mencapai Rp 657,1 triliun. Atau setara dengan 65,5 persen dari total portofolio. Dari jumlah tersebut, Rp 74,7 triliun di antaranya disalurkan kepada pembiayaan hijau.

“Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan akhir kuartal I 2022,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada kuartal I 2022 kredit berkelanjutan BRI tercatat sebesar Rp 639,9 triliun atau setara dengan 65,5 persen dari total portofolio. Dengan pembiayaan hijau sebesar Rp 71,5 triliun. Sementara pada akhir 2021, kredit berkelanjutan yang dibukukan BRI mencapai Rp 617,8 triliun sekitar 65,5 persen dari total portofolio, dengan pembiayaan hijau mencapai Rp66 triliun.

Royadi mengungkapkan, pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator implementasi prinsip ESG dalam kinerja BRI. Perseroan pun senantiasa aktif mengikuti rating MSCI, SUSTAINALYTICS, Dow Jones, S&P Global sebagai bagian dari continuous improvement penerapan ESG dan sustainability. Hal ini juga sesuai dengan POJK Nomor 51/POJK.03.2017.

“Dari sisi wholesale funding yang diterbitkan oleh treasury BRI juga mengalami peningkatan. Komposisi wholesale funding yang berbasis ESG sebesar 9 persen pada 2021. Tumbuh pesat mencapai 49,7 persen hingga akhir semester I 2022,” ujar Royadi.

Wholesale funding merupakan nondana pihak ketiga (DPK) sebagai alternatif pemulihan likuiditas dan potensi diversifikasi funding berbasis ESG. BRI pun optimistis mampu mencapai target wholesale funding hingga lebih dari 50 persen pada 2024.

Penguatan penerapan prinsip ESG oleh BRI tersebut memiliki alasan kuat. Hal ini berkaitan dengan tren investasi global yang lebih peduli terhadap peningkatan kualitas sosial melalui tata kelola perusahaan yang baik. Dengan demikian, BRI sebagai BUMN dengan reputasi global akan terus berkomitmen menganut principle of responsible investment untuk keberlanjutan bisnis yang lebih baik.

Di samping itu, pada Juni 2022 lalu, telah diterbitkan obligasi berwawasan lingkungan berkelanjutan I Bank BRI. Menargetkan penghimpunan dana sebesar Rp 15 triliun, dengan jumlah emisi tahap I  2022 sebanyak-banyaknya Rp 5 triliun. Penerbitan yang dilakukan BRI tersebut berhasil diserap seluruhnya oleh pasar, bahkan oversubscribed 4,4 kali.

Hasil penghimpunan dana tersebut akan dialokasikan paling sedikit 70 persen untuk kegiatan usaha atau kegiatan lain yang termasuk dalam kriteria kegiatan usaha berwawasan lingkungan (KUBL) yang baru, sedang berjalan, atau telah selesai sesuai dengan kerangka kerja obligasi. (*/ria)

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI semakin kuat menerapkan prinsip ESG atau environmental (lingkungan), social (sosial) dan governance (tata kelola yang baik), khususnya dalam menjaga kinerja fundamental. Hal itu tercermin dari konsistensi pertumbuhan kredit berkelanjutan dan pembiayaan hijau yang dibukukan perseroan.

Pada acara Diskusi Taman BRI yang diselenggarakan BRI Research Institute dan mengambil tema “Green Financing dan Komitmen Pengurangan Emisi”, SEVP Treasury & Global Services BRI Achmad Royadi menjelaskan, kredit berkelanjutan BRI hingga akhir kuartal II 2022 telah mencapai Rp 657,1 triliun. Atau setara dengan 65,5 persen dari total portofolio. Dari jumlah tersebut, Rp 74,7 triliun di antaranya disalurkan kepada pembiayaan hijau.

“Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan akhir kuartal I 2022,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada kuartal I 2022 kredit berkelanjutan BRI tercatat sebesar Rp 639,9 triliun atau setara dengan 65,5 persen dari total portofolio. Dengan pembiayaan hijau sebesar Rp 71,5 triliun. Sementara pada akhir 2021, kredit berkelanjutan yang dibukukan BRI mencapai Rp 617,8 triliun sekitar 65,5 persen dari total portofolio, dengan pembiayaan hijau mencapai Rp66 triliun.

Royadi mengungkapkan, pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator implementasi prinsip ESG dalam kinerja BRI. Perseroan pun senantiasa aktif mengikuti rating MSCI, SUSTAINALYTICS, Dow Jones, S&P Global sebagai bagian dari continuous improvement penerapan ESG dan sustainability. Hal ini juga sesuai dengan POJK Nomor 51/POJK.03.2017.

“Dari sisi wholesale funding yang diterbitkan oleh treasury BRI juga mengalami peningkatan. Komposisi wholesale funding yang berbasis ESG sebesar 9 persen pada 2021. Tumbuh pesat mencapai 49,7 persen hingga akhir semester I 2022,” ujar Royadi.

Wholesale funding merupakan nondana pihak ketiga (DPK) sebagai alternatif pemulihan likuiditas dan potensi diversifikasi funding berbasis ESG. BRI pun optimistis mampu mencapai target wholesale funding hingga lebih dari 50 persen pada 2024.

Penguatan penerapan prinsip ESG oleh BRI tersebut memiliki alasan kuat. Hal ini berkaitan dengan tren investasi global yang lebih peduli terhadap peningkatan kualitas sosial melalui tata kelola perusahaan yang baik. Dengan demikian, BRI sebagai BUMN dengan reputasi global akan terus berkomitmen menganut principle of responsible investment untuk keberlanjutan bisnis yang lebih baik.

Di samping itu, pada Juni 2022 lalu, telah diterbitkan obligasi berwawasan lingkungan berkelanjutan I Bank BRI. Menargetkan penghimpunan dana sebesar Rp 15 triliun, dengan jumlah emisi tahap I  2022 sebanyak-banyaknya Rp 5 triliun. Penerbitan yang dilakukan BRI tersebut berhasil diserap seluruhnya oleh pasar, bahkan oversubscribed 4,4 kali.

Hasil penghimpunan dana tersebut akan dialokasikan paling sedikit 70 persen untuk kegiatan usaha atau kegiatan lain yang termasuk dalam kriteria kegiatan usaha berwawasan lingkungan (KUBL) yang baru, sedang berjalan, atau telah selesai sesuai dengan kerangka kerja obligasi. (*/ria)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/