alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Butuh Sarana Promosi Produk, UMKM Batik di Solo Kangen Ikut Pameran

SOLO Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) batik di Kota Bengawan butuh difasilitasi gelaran pameran, baik offline maupun online sebagai sarana promosi produk. Namun selama pandemi, event pameran yang biasa melibatkan UMKM batik tidak diselenggarakan.

“Apalagi pameran yang bisa menjangkau ke luar negeri. Kami sangat butuh itu. Agar produk UMKM batik bisa terserap ke luar negeri. Terlebih ada juga beberapa UMKM batik di Kampung Batik Kauman yang sudah menjadi eksporter,” ungkap Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Gunawan Setiawan kepada Jawa Pos Radar Solo dalam Sosialisasi KUR Syariah dan Digital Marketing Bank Syariah Indonesia (BSI) di Kampung Batik Kauman, kemarin.

Gunawan menyadari digitalisasi menjadi salah satu solusi dari kendala UMKM Batik selama pandemi. Dari sistem pemasaran sampai pendelegasian produksi, seluruhnya beralih ke online. Kendati menjadi hal baru, namun UMKM batik diklaim mulai terbiasa menggunakan sistem online.

“Sosialiasi dan pendampingan dari BSI ini mengajak kami belajar lebih dalam soal digitalisasi. Terutama digital marketing yang belum kami pahami. Selama ini, kami hanya mengandalkan database pelanggan yang sudah kami kenal sebelumnya,” sambungnya.

Saat awal pandemi mewabah di Kota Solo, Gunawan mengaku Kampung Batik Kauman sepi kunjungan. Lantaran ada penyekatan jalan dan penutupan akses pintu masuk ke Kota Solo. Sementara, mayoritas pelanggan berasal dari para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Imbasnya, UMKM yang ada di sana terdampak dari segi ekonomi.

“Sekarang dengan capaian vaksinasi yang tinggi di Kota Solo, kami optimistis perekonomian di Kampung Batik Kauman bisa kembali bergeliat,” sambungnya.

Area Manager BSI Solo Hari Nopa Kurniawan menyebut sosialisasi dan pendampingan UMKM di Kampung Batik Kauman adalah bentuk tanggung jawab pihak perbankan membantu UMKM agar naik kelas.

UMKM di Kampung Batik Kauman dinilai berpotensi dan punya ciri khas, sehingga jika dikembangkan, mampu menjadi ikon Kota Solo.

“Kebutuhan UMKM di masa pandemi adalah digitalisasi. Mereka harus sudah mulai terbiasa bertransaksi digital agar lebih maju dalam menghadapi perkembangan zaman. Untuk itu perlu pendampingan dalam penggunaan QRIS dan model digital lainnya,” pungkasnya. (aya/wa/dam)

SOLO Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) batik di Kota Bengawan butuh difasilitasi gelaran pameran, baik offline maupun online sebagai sarana promosi produk. Namun selama pandemi, event pameran yang biasa melibatkan UMKM batik tidak diselenggarakan.

“Apalagi pameran yang bisa menjangkau ke luar negeri. Kami sangat butuh itu. Agar produk UMKM batik bisa terserap ke luar negeri. Terlebih ada juga beberapa UMKM batik di Kampung Batik Kauman yang sudah menjadi eksporter,” ungkap Ketua Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Gunawan Setiawan kepada Jawa Pos Radar Solo dalam Sosialisasi KUR Syariah dan Digital Marketing Bank Syariah Indonesia (BSI) di Kampung Batik Kauman, kemarin.

Gunawan menyadari digitalisasi menjadi salah satu solusi dari kendala UMKM Batik selama pandemi. Dari sistem pemasaran sampai pendelegasian produksi, seluruhnya beralih ke online. Kendati menjadi hal baru, namun UMKM batik diklaim mulai terbiasa menggunakan sistem online.

“Sosialiasi dan pendampingan dari BSI ini mengajak kami belajar lebih dalam soal digitalisasi. Terutama digital marketing yang belum kami pahami. Selama ini, kami hanya mengandalkan database pelanggan yang sudah kami kenal sebelumnya,” sambungnya.

Saat awal pandemi mewabah di Kota Solo, Gunawan mengaku Kampung Batik Kauman sepi kunjungan. Lantaran ada penyekatan jalan dan penutupan akses pintu masuk ke Kota Solo. Sementara, mayoritas pelanggan berasal dari para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Imbasnya, UMKM yang ada di sana terdampak dari segi ekonomi.

“Sekarang dengan capaian vaksinasi yang tinggi di Kota Solo, kami optimistis perekonomian di Kampung Batik Kauman bisa kembali bergeliat,” sambungnya.

Area Manager BSI Solo Hari Nopa Kurniawan menyebut sosialisasi dan pendampingan UMKM di Kampung Batik Kauman adalah bentuk tanggung jawab pihak perbankan membantu UMKM agar naik kelas.

UMKM di Kampung Batik Kauman dinilai berpotensi dan punya ciri khas, sehingga jika dikembangkan, mampu menjadi ikon Kota Solo.

“Kebutuhan UMKM di masa pandemi adalah digitalisasi. Mereka harus sudah mulai terbiasa bertransaksi digital agar lebih maju dalam menghadapi perkembangan zaman. Untuk itu perlu pendampingan dalam penggunaan QRIS dan model digital lainnya,” pungkasnya. (aya/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru