alexametrics
23.7 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Imbas Perjalanan ke Luar Negeri Dibatasi, Ada Potensi Wisatawan Domestik Naik

SOLO – Pariwisata Indonesia sangat berpotensi kebanjiran wisatawan domestik dari masyarakat menengah atas yang terbiasa berlibur ke luar negeri.

Kondisi ini merupakan imbas munculnya varian Covid-19 omicron, sehingga perjalanan ke luar negeri dibatasi. Dan masyarakat yang ingin berlibur bisa mengalihkan destinasi wisatanya ke dalam negeri. Kota Solo diminta bersiap menyambut wisatawan domestik.

“Sekarang kita buat gerakan, selain bangga buatan Indonesia, juga berwisata di Indonesia saja. Itu suatu gerakan yang bagus. Karena potensinya besar masyarakat Indonesia yang biasanya liburan ke luar negeri sekarang beralih ke domestik. Tapi jangan hanya Bali yang jadi jujugan. Solo juga sudah harus siap,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo, Nugroho Joko Prastowo kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Potensi yang dimaksud Joko adalah pengeluarannya yang besar. Sebab, di masa pandemi covid-19 ini masyarakat menengah atas yang lebih banyak menahan konsumsi. Termasuk konsumsi berwisata. Dalam satu rangkaian wisata, konsumsi tidak hanya untuk biaya perjalanan wisatanya, namun juga konsumsi akomodasi, pakaian, dan lain sebagainya.

“Nah, di tengah pandemi, ada upaya mengalihkan dari MICE tourism ke quality tourism. Maka didorong wellness dan sport tourism. Jenis pariwisata itu yang masih bisa berkegiatan wisata tapi kesehatan tetap terjamin,” sambungnya.

Menurutnya, penyesuaian jenis wisata itu dilakukan agar perekonomian tetap bisa berjalan meski di tengah pandemi. Biasanya, jika bisa menggaet wisatawan asing, devisa Indonesia bakal bertambah. Atau minimal, masyarakat Indonesia yang biasa berlibur ke luar negeri, sekarang cukup berwisata di dalam negeri saja.

“Itu kita menghindari membayar dengan dolar. Tapi kita menggerakkan ekonomi tanpa harus membutuhkan dolar,” imbuhnya.

Maka saat ini perlu dikembangkan destinasi baru yang menjadi prioritas termasuk kegiatannya. Misalnya, ada kawasan ekonomi khusus pariwisata Mandalika. Kegiatannya, gelaran MotoGP yang mampu mendatangkan wisatawan. Harapannya, saat wisatawan datang maka length of stay meningkat. Maka bisa di-bundling dengan beberapa kegiatan piknik.

“Bisa saja kegiatannya meeting ditambah piknik. Nah, Solo juga harus mengembangkan. Banyak orang yang meeting di Solo. Tapi jangan hanya makan kemudian pulang. Harus piknik juga. Jadi length of stay bisa ditingkatkan dari 1,47 hari menjadi 2,5 hari,” pungkasnya. (aya/dam)

SOLO – Pariwisata Indonesia sangat berpotensi kebanjiran wisatawan domestik dari masyarakat menengah atas yang terbiasa berlibur ke luar negeri.

Kondisi ini merupakan imbas munculnya varian Covid-19 omicron, sehingga perjalanan ke luar negeri dibatasi. Dan masyarakat yang ingin berlibur bisa mengalihkan destinasi wisatanya ke dalam negeri. Kota Solo diminta bersiap menyambut wisatawan domestik.

“Sekarang kita buat gerakan, selain bangga buatan Indonesia, juga berwisata di Indonesia saja. Itu suatu gerakan yang bagus. Karena potensinya besar masyarakat Indonesia yang biasanya liburan ke luar negeri sekarang beralih ke domestik. Tapi jangan hanya Bali yang jadi jujugan. Solo juga sudah harus siap,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo, Nugroho Joko Prastowo kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Potensi yang dimaksud Joko adalah pengeluarannya yang besar. Sebab, di masa pandemi covid-19 ini masyarakat menengah atas yang lebih banyak menahan konsumsi. Termasuk konsumsi berwisata. Dalam satu rangkaian wisata, konsumsi tidak hanya untuk biaya perjalanan wisatanya, namun juga konsumsi akomodasi, pakaian, dan lain sebagainya.

“Nah, di tengah pandemi, ada upaya mengalihkan dari MICE tourism ke quality tourism. Maka didorong wellness dan sport tourism. Jenis pariwisata itu yang masih bisa berkegiatan wisata tapi kesehatan tetap terjamin,” sambungnya.

Menurutnya, penyesuaian jenis wisata itu dilakukan agar perekonomian tetap bisa berjalan meski di tengah pandemi. Biasanya, jika bisa menggaet wisatawan asing, devisa Indonesia bakal bertambah. Atau minimal, masyarakat Indonesia yang biasa berlibur ke luar negeri, sekarang cukup berwisata di dalam negeri saja.

“Itu kita menghindari membayar dengan dolar. Tapi kita menggerakkan ekonomi tanpa harus membutuhkan dolar,” imbuhnya.

Maka saat ini perlu dikembangkan destinasi baru yang menjadi prioritas termasuk kegiatannya. Misalnya, ada kawasan ekonomi khusus pariwisata Mandalika. Kegiatannya, gelaran MotoGP yang mampu mendatangkan wisatawan. Harapannya, saat wisatawan datang maka length of stay meningkat. Maka bisa di-bundling dengan beberapa kegiatan piknik.

“Bisa saja kegiatannya meeting ditambah piknik. Nah, Solo juga harus mengembangkan. Banyak orang yang meeting di Solo. Tapi jangan hanya makan kemudian pulang. Harus piknik juga. Jadi length of stay bisa ditingkatkan dari 1,47 hari menjadi 2,5 hari,” pungkasnya. (aya/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/