23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

HUT PHRI ke-54

Saat Okupansi di Solo Ramai, Hotel Melati Harus Kecipratan Kuenya

RADARSOLO.ID – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo masih punya pekerjaan rumah (PR) besar untuk memberdayakan hotel bintang dua ke bawah, sampai hotel nonbintang alias hotel melati. Terlebih di tengah kebangkitan pariwisata leisure di Kota Bengawan, usai banyak destinasi wisata baru dibuka. Selama ini, hotel bintang dua ke bawah tidak pernah mendapatkan kue pengunjung wisata, alhasil okupansinya selalu rendah.

“Selama ini kalau okupansi Solo ramai, sebenarnya mereka (hotel bintang dua ke bawah) tidak dapat kuenya. Karena pengunjung pasti memilih hotel bintang tiga ke atas. Memang ada hotel bintang satu yang berkomitmen menjaga harga, layanan, dan fasilitas, sehingga hotel tersebut masih dalam kondisi layak. Tapi bagi hotel lain, itu sulit dilakukan,” ungkap Ketua PHRI Solo Abdullah Soewarno kepada Jawa Pos Radar Solo dalam press conference Hari Ulang Tahun (HUT) PHRI ke-54, Selasa (24/1/2023).

Abdullah menyebut mayoritas hotel bintang dua ke bawah adalah hotel warisan keluarga. Sehingga pengelolanya pun bukan dari orang yang berkompeten di bidang hospitality. Kendati hotel-hotel tersebut merupakan anggota PHRI Solo, namun Abdullah mengaku tidak bisa berbuat banyak.

“Kami hanya mengimbau agar mereka memperbaiki sarana prasarana. Tapi terkendala modal. Kesulitannya di situ. Bagaimana mau membangun, kalau tidak ada kunjungan. Jadi mereka sekadar hidup untuk membiayai dirinya sendiri,” sambungnya.

Menurutnya, mengisi okupansi hotel bintang dua ke bawah menjadi buah simalakama bagi PHRI Solo. Saat ini, kondisi mereka setengah hidup. Bahkan hidup enggan, mati tak mau. Biasanya selama ini, mereka mendapatkan luapan pengunjung jika ada pejabat yang membawa stafnya.

“Kalau pejabat datang ke Solo menginap di hotel bintang tiga ke atas. Nah, sopir atau stafnya menginap di hotel bintang dua ke bawah. Tapi kami tetap mendorong mereka memberikan pelayanan yang bagus. Supaya mereka mendapatkan okupansi. Karena kadang-kadang okupansi kami di hotel bintang 3 ke atas bagus. Tapi hotel bintang dua ke bawah rendah,” jelasnya.

Sementara itu memasuki usia PHRI ke-54 tahun ini, lanjut Abdullah, pihaknya gencar melakukan pemberdayaan seluruh anggota PHRI Solo. Agar hotel-hotel itu tetap menjaga hospitality dan menerapkan CHSE. Rutin mengadakan pelatihan sertifikasi baik untuk karyawan hotel besar dan kecil.

“Kuncinya sebenarnya mereka harus memperbarui diri. Melakukan perubahan. Menyesuaikan situasi dan kondisi. Sekarang ini kondisinya, mereka tidak tutup. Tapi mati segan hidup tak mau. Karena terpenting masih bisa untuk menggaji karyawannya saja. Meskipun mereka anggota PHRI. Kami sudah mendorong setengah mati untuk karyawannya kami beri pelatihan, tapi mereka kadang-kadang tidak mau. Karena karyawannya cuman satu. Itu jadi buah simalakama,” urainya.

Sementara itu Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Surakarta Retno Wulandari menambahkan, PHRI Solo diharapkan mampu mengangkat seluruh pelaku pariwisata agar sejahtera. Dengan adanya stimulan yang diberikan wali kota Surakarta, berupa pengembangan destinasi baru.

“Tahun ini menjadi tonggak baru untuk wisata leisure, itu betul. Karena selama ini lebih banyak MICE government. Harapannya, stimula ini meningkatkan length of stay dan jumlah kunjungan leisure. Ini momentum untuk meningkatkan kesejahteraan bersama,” tandasnya.

Di lain sisi, HUT PHRI ke-54 akan jatuh pada 9 Februari mendatang. PHRI Solo akan mengadakan sepeda santai yang diikuti owner, general manager, dan karyawan hotel restoran, termasuk lembaga pendidikan pariwisata seluruh anggota PHRI Solo pada Sabtu (11/2). (aya/nik/dam)

RADARSOLO.ID – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo masih punya pekerjaan rumah (PR) besar untuk memberdayakan hotel bintang dua ke bawah, sampai hotel nonbintang alias hotel melati. Terlebih di tengah kebangkitan pariwisata leisure di Kota Bengawan, usai banyak destinasi wisata baru dibuka. Selama ini, hotel bintang dua ke bawah tidak pernah mendapatkan kue pengunjung wisata, alhasil okupansinya selalu rendah.

“Selama ini kalau okupansi Solo ramai, sebenarnya mereka (hotel bintang dua ke bawah) tidak dapat kuenya. Karena pengunjung pasti memilih hotel bintang tiga ke atas. Memang ada hotel bintang satu yang berkomitmen menjaga harga, layanan, dan fasilitas, sehingga hotel tersebut masih dalam kondisi layak. Tapi bagi hotel lain, itu sulit dilakukan,” ungkap Ketua PHRI Solo Abdullah Soewarno kepada Jawa Pos Radar Solo dalam press conference Hari Ulang Tahun (HUT) PHRI ke-54, Selasa (24/1/2023).

Abdullah menyebut mayoritas hotel bintang dua ke bawah adalah hotel warisan keluarga. Sehingga pengelolanya pun bukan dari orang yang berkompeten di bidang hospitality. Kendati hotel-hotel tersebut merupakan anggota PHRI Solo, namun Abdullah mengaku tidak bisa berbuat banyak.

“Kami hanya mengimbau agar mereka memperbaiki sarana prasarana. Tapi terkendala modal. Kesulitannya di situ. Bagaimana mau membangun, kalau tidak ada kunjungan. Jadi mereka sekadar hidup untuk membiayai dirinya sendiri,” sambungnya.

Menurutnya, mengisi okupansi hotel bintang dua ke bawah menjadi buah simalakama bagi PHRI Solo. Saat ini, kondisi mereka setengah hidup. Bahkan hidup enggan, mati tak mau. Biasanya selama ini, mereka mendapatkan luapan pengunjung jika ada pejabat yang membawa stafnya.

“Kalau pejabat datang ke Solo menginap di hotel bintang tiga ke atas. Nah, sopir atau stafnya menginap di hotel bintang dua ke bawah. Tapi kami tetap mendorong mereka memberikan pelayanan yang bagus. Supaya mereka mendapatkan okupansi. Karena kadang-kadang okupansi kami di hotel bintang 3 ke atas bagus. Tapi hotel bintang dua ke bawah rendah,” jelasnya.

Sementara itu memasuki usia PHRI ke-54 tahun ini, lanjut Abdullah, pihaknya gencar melakukan pemberdayaan seluruh anggota PHRI Solo. Agar hotel-hotel itu tetap menjaga hospitality dan menerapkan CHSE. Rutin mengadakan pelatihan sertifikasi baik untuk karyawan hotel besar dan kecil.

“Kuncinya sebenarnya mereka harus memperbarui diri. Melakukan perubahan. Menyesuaikan situasi dan kondisi. Sekarang ini kondisinya, mereka tidak tutup. Tapi mati segan hidup tak mau. Karena terpenting masih bisa untuk menggaji karyawannya saja. Meskipun mereka anggota PHRI. Kami sudah mendorong setengah mati untuk karyawannya kami beri pelatihan, tapi mereka kadang-kadang tidak mau. Karena karyawannya cuman satu. Itu jadi buah simalakama,” urainya.

Sementara itu Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Surakarta Retno Wulandari menambahkan, PHRI Solo diharapkan mampu mengangkat seluruh pelaku pariwisata agar sejahtera. Dengan adanya stimulan yang diberikan wali kota Surakarta, berupa pengembangan destinasi baru.

“Tahun ini menjadi tonggak baru untuk wisata leisure, itu betul. Karena selama ini lebih banyak MICE government. Harapannya, stimula ini meningkatkan length of stay dan jumlah kunjungan leisure. Ini momentum untuk meningkatkan kesejahteraan bersama,” tandasnya.

Di lain sisi, HUT PHRI ke-54 akan jatuh pada 9 Februari mendatang. PHRI Solo akan mengadakan sepeda santai yang diikuti owner, general manager, dan karyawan hotel restoran, termasuk lembaga pendidikan pariwisata seluruh anggota PHRI Solo pada Sabtu (11/2). (aya/nik/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img