
RADARSOLO.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perhatian masyarakat.
Kondisi ini semakin disorot setelah harga sejumlah kebutuhan sehari-hari, termasuk mi instan, ikut menjadi perbincangan.
Pada perdagangan Senin (2/11), nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp 18.156 per dolar AS.
Di tengah kondisi tersebut, harga Indomie Goreng juga menjadi sorotan.
Produk mi instan yang selama ini dikenal sebagai salah satu pilihan makanan praktis dan terjangkau itu dilaporkan dijual dengan harga Rp 4.000 per bungkus di sejumlah gerai.
Harga tersebut menarik perhatian karena mi instan kerap menjadi pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, termasuk kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pekerja.
Pelemahan rupiah sendiri berpotensi memberikan tekanan terhadap biaya produksi sejumlah industri.
Hal ini berkaitan dengan kebutuhan bahan baku maupun komponen produksi yang masih bergantung pada impor.
Baca Juga: Pajak Digital Disebut Diperluas 9 November 2026, Ini 22 Jenis Pajak yang Berlaku di Indonesia
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian bahan baku dari luar negeri dapat meningkat apabila transaksi menggunakan dolar AS.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya produksi dan distribusi, meskipun penyesuaian harga di tingkat konsumen juga dipengaruhi berbagai faktor lainnya.




