alexametrics
25.5 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Berbekal Modal BRI, Bubu Songket Asal Padang Bangkit Kembali

BUKIT TINGGI – Yosi Irawati, 43, asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat memilih berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan. Pada 2016 silam, pasca melahirkan anak ketiganya, Yosi memulai usahanya dengan menjual pakaian anak-anak hingga perlengkapan dapur.

“Saya sudah terbiasa bekerja jadi bingung mau ngapain di rumah, saya coba untuk usaha kecil-kecilan,” kata Yosi.

Namun setelah beberapa lama menjalankan berbagai usaha tersebut, Yosi merasa tidak ada kemajuan yang signifikan. Yosi mencoba mencari peluang bisnis yang baru. Dia merasa tertarik dengan usaha kain songket.

Keinginan ada di dalam dirinya. Namun, modal belum di tangan. Yosi memutuskan menabung untuk membeli satu batang kain songket seharga Rp 2,5 juta.

Bermodalkan satu batang kain songket ini, Yosi mulai menawarkan produk tersebut kepada rekan-rekannya. Gayung bersambut, pelanggan pun memberikan respons yang baik. Seiring berjalannya waktu, usaha songket Yosi pun mulai memperoleh banyak permintaan.

“Coba ditawari ke teman-teman kuliah dulu dan ternyata banyak yang minat, di situlah mulai berkembangnya usaha saya,” ujarnya.

Usaha Bubu Songket pun kian berkembang dan memiliki banyak peminat. Kini, produk songket sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia, termasuk ke Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Untuk pasar ekspor, Bubu Songket sudah menjangkau Malaysia dan Turki.

Biasanya dalam sebulan, minimal dia mampu menjual 15 kain songket. Harganya dibanderol mulai dari Rp 2,2 juta hingga Rp 8 juta. Dalam sebulan, Yosi mampu meraup keuntungan Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan.

Tak dimungkiri, dalam berusaha tentunya ada kesulitan yang harus dihadapi. Hal itu juga dialami oleh Yosi pada 2018 lalu. Dia mengalami kesulitan karena keterbatasan modal. Kala itu, Bank BRI hadir menjadi penolong bagi usaha songketnya hingga bisa bertahan dan berlanjut sampai saat ini.

“Sekitar tahun 2018, saya bekerja sama dengan keluarga suami. Namun, kini saya sudah berdiri sendiri. Saat mencoba mandiri, awalnya saya mengalami keterbatasan modal yang akhirnya mendapatkan solusi dari BRI untuk merintis usaha songket saya agar lebih maju lagi,” papar dia.

Yosi sangat terbantu dengan pinjaman yang diberikan BRI. Ditambah lagi dengan proses pengajuan yang praktis.

“Saya sangat terbantu waktu saya mengajukan. Prosesnya tidak sulit selama dokumen kita lengkap. Saya baru sekali pinjam ke BRI, tapi ternyata prosesnya cepat dan mudah,” tambah Yosi.

Kini, Yosi mampu memberdayakan 10 orang masyarakat sekitar. Tujuh orang di antaranya bertugas sebagai perajin tenun songket. Sementara sisanya bertugas sebagai penjahit dan packaging.

“Jumlah pekerjanya terdiri dari lima orang perempuan dan lima orang laki-lakinya,” jelasnya.

Selain bantuan modal, Yosi juga mendapatkan bantuan berupa pelatihan dari BRI. Pelatihan mengenai cara memasarkan produk di masa pandemi, peluang ekspor ke luar negeri dan lainnya.

Berkat kerja keras dan kemauan yang tinggi untuk belajar hal baru, Yosi akhirnya terpilih oleh BRI untuk tampil di pameran BRI UMKM EXPO(RT) BRILianpreneur. Menurut Yosi, kesempatan itu merupakan pengalaman yang membanggakan baginya.

“Kemarin pernah ikut pameran BRILianpreneur 2020 di Jakarta secara online. Waktu itu saya diminta mengajukan oleh BRI. Setelah melakukan kurasi nyata usaha saya lolos dan bisa ikut pameran online. Pengaruhnya, banyak buyer yang menghubungi saya baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga permintaan terus meningkat,” pungkas Yosi. (*/ria)

BUKIT TINGGI – Yosi Irawati, 43, asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat memilih berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan. Pada 2016 silam, pasca melahirkan anak ketiganya, Yosi memulai usahanya dengan menjual pakaian anak-anak hingga perlengkapan dapur.

“Saya sudah terbiasa bekerja jadi bingung mau ngapain di rumah, saya coba untuk usaha kecil-kecilan,” kata Yosi.

Namun setelah beberapa lama menjalankan berbagai usaha tersebut, Yosi merasa tidak ada kemajuan yang signifikan. Yosi mencoba mencari peluang bisnis yang baru. Dia merasa tertarik dengan usaha kain songket.

Keinginan ada di dalam dirinya. Namun, modal belum di tangan. Yosi memutuskan menabung untuk membeli satu batang kain songket seharga Rp 2,5 juta.

Bermodalkan satu batang kain songket ini, Yosi mulai menawarkan produk tersebut kepada rekan-rekannya. Gayung bersambut, pelanggan pun memberikan respons yang baik. Seiring berjalannya waktu, usaha songket Yosi pun mulai memperoleh banyak permintaan.

“Coba ditawari ke teman-teman kuliah dulu dan ternyata banyak yang minat, di situlah mulai berkembangnya usaha saya,” ujarnya.

Usaha Bubu Songket pun kian berkembang dan memiliki banyak peminat. Kini, produk songket sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia, termasuk ke Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Untuk pasar ekspor, Bubu Songket sudah menjangkau Malaysia dan Turki.

Biasanya dalam sebulan, minimal dia mampu menjual 15 kain songket. Harganya dibanderol mulai dari Rp 2,2 juta hingga Rp 8 juta. Dalam sebulan, Yosi mampu meraup keuntungan Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan.

Tak dimungkiri, dalam berusaha tentunya ada kesulitan yang harus dihadapi. Hal itu juga dialami oleh Yosi pada 2018 lalu. Dia mengalami kesulitan karena keterbatasan modal. Kala itu, Bank BRI hadir menjadi penolong bagi usaha songketnya hingga bisa bertahan dan berlanjut sampai saat ini.

“Sekitar tahun 2018, saya bekerja sama dengan keluarga suami. Namun, kini saya sudah berdiri sendiri. Saat mencoba mandiri, awalnya saya mengalami keterbatasan modal yang akhirnya mendapatkan solusi dari BRI untuk merintis usaha songket saya agar lebih maju lagi,” papar dia.

Yosi sangat terbantu dengan pinjaman yang diberikan BRI. Ditambah lagi dengan proses pengajuan yang praktis.

“Saya sangat terbantu waktu saya mengajukan. Prosesnya tidak sulit selama dokumen kita lengkap. Saya baru sekali pinjam ke BRI, tapi ternyata prosesnya cepat dan mudah,” tambah Yosi.

Kini, Yosi mampu memberdayakan 10 orang masyarakat sekitar. Tujuh orang di antaranya bertugas sebagai perajin tenun songket. Sementara sisanya bertugas sebagai penjahit dan packaging.

“Jumlah pekerjanya terdiri dari lima orang perempuan dan lima orang laki-lakinya,” jelasnya.

Selain bantuan modal, Yosi juga mendapatkan bantuan berupa pelatihan dari BRI. Pelatihan mengenai cara memasarkan produk di masa pandemi, peluang ekspor ke luar negeri dan lainnya.

Berkat kerja keras dan kemauan yang tinggi untuk belajar hal baru, Yosi akhirnya terpilih oleh BRI untuk tampil di pameran BRI UMKM EXPO(RT) BRILianpreneur. Menurut Yosi, kesempatan itu merupakan pengalaman yang membanggakan baginya.

“Kemarin pernah ikut pameran BRILianpreneur 2020 di Jakarta secara online. Waktu itu saya diminta mengajukan oleh BRI. Setelah melakukan kurasi nyata usaha saya lolos dan bisa ikut pameran online. Pengaruhnya, banyak buyer yang menghubungi saya baik dari dalam maupun luar negeri, sehingga permintaan terus meningkat,” pungkas Yosi. (*/ria)

Populer

Berita Terbaru