Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Cerita Sukses Pembudidaya Maggot setelah Bekerjasama Dengan JNE

Damianus Bram • Senin, 3 Oktober 2022 | 05:26 WIB
MITRA JNE: Muhammad Jafar Khaerudin menunjukkan sejumlah produk olahan maggotnya. Dia menggandeng JNE untuk mengirim pesanan ke penjuru Indonesia.
MITRA JNE: Muhammad Jafar Khaerudin menunjukkan sejumlah produk olahan maggotnya. Dia menggandeng JNE untuk mengirim pesanan ke penjuru Indonesia.
BOYOLALI – Budidaya maggot mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Seperti yang ditekuni Muhammad Jafar Khaerudin, 27, warga Dusun Trimulyo, Penggung, Boyolali ini. Dia sukses membudidayakan maggot Black Soldier Fly (BSF). Terlebih setelah menggandeng JNE, usahanya semakin berkembang pesat.

BSF adalah sejenis lalat berwarna hitam yang larvanya (maggot) mampu mendegradasi sampah organik. Maggot atau belatung yang dihasilkan dari telur lalat hitam ini sangat aktif memakan sampah organik. Lalat besar ini memiliki banyak manfaat.

Selain berguna untuk mengurangi dampak negatif dari penumpukan material organik di alam, maggot BSF juga baik dan ekonomis untuk dimanfaatkan sebagai pakan hewan hias dan ternak. Hal tersebut terus dikembangkan Jafar sejak 2017 silam. Selain mengembangkan maggot kering, dia juga mengolah menjadi beberapa produk turunan. Seperti tepung dan minyak maggot, pakan ikan koi, hingga pupuk asam animo. Serta hormon perangsang tanaman. Modal awal Rp 60 juta untuk pengembangan maggot ini berbuah manis. Dia dan sang istri, Prastiyana Mahda Risqia Ridani, 27, memiliki empat turunan produk.

”Awalnya untuk pengembangan maggot saja. Kini kami punya 21 karyawan yang membantu,” terangnya.

Ada tiga karyawan di Boyolali Kota, tiga karyawan di Klaten dan 15 karyawan untuk mengurus marketplace serta customer service. Produksi maggot difokuskan di Klaten, sedangkan Boyolali fokus untuk pengembangan produk maggot serta pemasarannya.

”Karena produk kami banyak, pengiriman paketnya juga banyak. Lalu saya bekerja sama dengan JNE sejak Maret lalu. Pelayanannya juga extra, kami dapat semua kemudahan dan benefit,” jelasnya.

Jafar merasakan banyak keuntungan dari jasa pengiriman paket JNE. Terutama untuk pengiriman luar Jawa. Pengiriman bisa memuaskan pelanggan. Karena angka retur juga turun banyak, tingkat retur barang cukup rendah yakni 15 persen. Sebab, semakin tinggi retur barang, maka kerugian yang ditanggung semakin besar.

”Sebelumnya kami pernah coba ekspedisi, tapi yang paling bagus JNE. Tingkat retur masih rendah di bawah 15 persen. Kalau retur banyak makin besar ruginya. Selain itu masih dapat cashback 25 persen. Lumayan untuk nutup sudah cukup,” terangnya.

Tiap bulannya dia bisa mengirimkan hingga 5.000 alamat dengan ribuan paket. Hampir semua produknya ramai di pasaran. Apalagi untuk pengiriman luar Jawa, seperti Papua, Kalimantan dan lainnya. Selain itu, dia juga diuntungkan dengan kantor JNE yang tersebar merata di luar Jawa.

”Kemarin kami juga didatangi JNE Cabang Utama Solo dan Regional Jateng-DIY untuk evaluasi pelayanan dan kerjasama kedepan karena kiriman kami per bulan paling mendominasi wilayah Boyolali,” terangnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#maggot Black Soldier Fly #maggot BSF #budidaya maggot #Jne