"Meskipun Solo tidak punya sawah untuk panen padi, tapi ada kabupaten lain yang men-support itu. Secara wilayah kerja kami kan Solo dan sekitarnya. Dan itu tidak terbatas kabupaten tertentu. Jadi secara prinsip pemerataan dan distribusi itu pasti dan bisa dilakukan," ungkap Kepala Bulog Solo Andi Nugroho kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Artinya, masyarakat Kota Solo tidak perlu ikut khawatir terhadap isu resesi pangan tersebut. Sebab, saat ini stok beras di Bulog Solo masih tersedia melimpah sampai setidaknya Maret 2023. Sebanyak 6.950 ton. Jumlah itu masih cukup banyak sampai tahun depan. Bahkan ketika panen berikutnya, stok itu masih sisa. Prediksinya, akhir Februari 2023 sudah mulai panen lagi. Sedangkan panen raya mulai Maret 2023.
"Minyak goreng dan gula, biasanya dua komoditas ini yang harganya sering bergejolak, stoknya juga masih banyak. Gula masih 315 ton. Sedangkan minyak goreng masih 20 ribu liter. Itu masih cukup banyak," sambungnya.
Andi menyebut saat ini stok minyak goreng sudah tersedia banyak. Tidak seperti medio tahun ini yang sempat langka. Andi mengaku pihaknya sudah berkolaborasi dengan dinas perdagangan kota dan kabupaten untuk meminta rekomendasi ke produsen atau pabrik minyak goreng. Untuk ikut men-supply ke Buloh Solo sebagai persediaan operasi pasar.
"Jadi kami memang sudah tersedia stok. Dan kami juga sudah koordinasi dengan dinas maupun produsen untuk menambah supply lagi. Dengan stok yang ada di Bulog, masih tercukupi. Kemarin sudah mulai banyak yang ambil. Untuk kebutuhan operasi pasar sudah kami keluarkan banyak dan ini masih tersisa banyak juga," jelasnya.
Biasanya yang membuat harga di pasaran naik, lanjut Andi, adalah perilaku panic buying dari masyarakat. Saat ada momen-momen tertentu, masyarakat khawatir tidak kebagian barang. Maka mereka akan belanja yang banyak. Perilaku semacam itu yang justru menimbulkan harga di konsumen terkesan naik. Padahal dari produsen dan distributor, supply mereka tidak ada masalah secara harga.
"Banyak event di Solo ini juga pasti memengaruhi stok di Bulog. Pasti pembelian dari distributor atau jaringan kami kan juga banyak. Kemarin juga pada Desember, ketiga komoditas ini, beras, gula, dan minyak goreng, keluarnya banyak. Beda dengan bulan-bulan sebelumnya. Meski begitu dipastikan kebutuhan untuk masyarakat tetap aman dan tercukupi. Kami sudah kalkulasikan," bebernya.
Andi memastikan Bulog sudah memproyeksikan. Jika di Solo ada momen tertentu, persediaan di gudang Bulog harus seberapa, itu sudah dihitung. Panen selanjutnya pada Februari dan Maret 2023 memang belum bisa diprediksi. Karena ada banyak faktornya. Dari sisi hulunya, produksinya nanti seperti apa. Apakah memang berlimpah. Dari sisi Bulog saat membeli, apakah nanti harga acuan pemerintah sesuai atau tidak dengan harga pasar.
"Kalau kami sendiri ketika memang produksi banyak, harga pemerintah juga sesuai dengan harga lapangan, ya kami pasti akan menyerap banyak. Bisa maksimal. Hanya saja biasanya, problem ada di hulunya. Mungkin di produksinya ada gangguan, akhirnya tidak maksimal. Tapi di hilirnya, ketika kami menyerap kadang-kadang harga pemerintahnya hanya bisa jalan sekian bulan. Setelah itu mungkin harga pasar sudah gerak. Sehingga terjadi kenaikan. Akhirnya harga pemerintahnya sudah tidak sesuai lagi," ujar dia. (Septina Fadia Putri/bun) Editor : Damianus Bram