RADARSOLO.COM – Konflik geopolitik kembali memanas, dampak agresi militer Iran ke Israel. Akibatnya, pasar keuangan global ikut gelisah. Kendati demikian, krisis ini justru mendongkrak nilai jual emas.
Guru Besar Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan menjelaskan, ketegangan geopolitik biasanya berimbas pada perekonomian. Konflik Iran dan Israel membuat harga minyak dunia merangkak naik.
Dalam situasi seperti ini, investor mulai waswas. Harga saham cenderung tertekan, bahkan mengalami penurunan tajam. Atau setidaknya bergerak fluktuatif.
“Sejarah mencatat, dalam kondisi seperti ini instrumen investasi paling stabil dari sisi harga adalah emas. Kalau orang investasi jangka panjang, menabung jangka panjang, tidak tergerus inflasi, pilihan tepat adalah emas,” ucapnya.
Mengutip Jawapos.com, harga emas Antam, Selasa (17/6) anjlok menjadi Rp 1.950.000 per gram. Setelah sehari sebelumnya, Senin (16/6), sempat naik jadi Rp 1.968.000 per gram.
“Semua instrumen investasi berisiko, ada fluktuasi, naik, atau turun. Penyebabnya banyak. Emas juga mengalami fluktuasi. Ini yang perlu dipahami investor,” imbuhnya.
Kendati demikian, Anton menyebut naik-turunnya harga emas cenderung bisa diterima atau acceptable. Apalagi orang cenderung berinvestasi emas itu jangka panjang, tidak dibuat jangka pendek.
"Sehingga cenderung harganya akan stabil, apalagi tujuannya supaya aset atau harga tidak mengalami penurunan nilai riil," lanjutnya.
Anton mengimbau para investor terus memperhatikan instrumen investasi yang lain. Baik fluktuasi maupun kecenderungannya. Jika skalanya besar, perlu diperhatikan variabel lain yang bisa memengaruhi investasi.
"Kondisi ekonomi makro, yang itu bisa diakses dari media atau sumber sumber yang bisa dipercaya. Memang kalau mau berinvestasi juga harus melek ekonomi dan berita politik," paparnya. (nis/fer)
Editor : fery ardi susanto