Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tari Wireng Bandayuda, Penggambaran 4 Nafsu Manusia

Damianus Bram
Penulis: Damianus Bram❯
GAGAH PERKASA: Tari klasik Beksan Wireng Bandayuda disajikan dalam Karaton Art Festival di Bangsal Smarakata, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, belum lama ini.
GAGAH PERKASA: Tari klasik Beksan Wireng Bandayuda disajikan dalam Karaton Art Festival di Bangsal Smarakata, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, belum lama ini.

RADARSOLO.COM - Masih dalam agenda Karaton Art Festival 2024 di Bangsal Smarakata, Keraton Kasunanan Surakarta, akhir April lalu, disajikan empat tarian klasik yang berumur ratusan tahun. Salah satunya tari atau beksan Wireng Bandayuda.


Advertisement

Hari semakin malam di Bangsal Smarakatam waktu itu. Tiga tarian klasik sudah memanjakan mata penonton. Mulai dari Bedhaya Sukoharjo, Sancaya Kusuma Wicitra, dan Srimpi Sangupati.

Terakhir, penonton dibius perform tari Wireng Bandayuda. Ditampilkan empat penari laki-laki, sembari membawa properti berupa tongkat dan perisai. 

Setiap hentakan tubuh para penari tersebut menggambarkan kegagahan. Baik melalui tatapan mata, tangan, dan kakinya. 

Advertisement

Tari Wireng Bandayuda diciptakan pada zaman pemerintahan ISKS Paku Buwana IV (1787-1820) di Keraton Kasunanan Solo. 

Diilhami tarian Wireng Lawung ciptaan Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakra Kusumo dari Kerajaan Mataram (1613-1645). Menggambarkan empat orang prajurit yang sedang berlatih perang dengan tombak. 

“Tarian Wireng Bandayuda ini tombaknya diganti bindhi atau tongkat pendek. Dilengkapi dengan tameng atau perisai dari rotan,” ungkap pembawa acara yang mengiringi tarian tersebut.

Advertisement

Bukan tanpa arti, tarian ini mengandung makna yang cukup mendalam. Di mana manusia mempunyai empat nafsu. Yakni amarah (emosional), sofiah (duniawi), aluamah (biologis), dan mutmainah (spiritual). Keempat nafsu ini silih berganti memengaruhi kehidupan manusia.

“Maka manusia harus selalu waspada. Harus mengendalikan hawa nafsunya, agar mencapai kesempurnaan dalam hidupnya,” sambungnya. 

Sebagai informasi, pada zaman pemerintahan ISKS Paku Buwana IX (1861-1893), senjata dalam tari Wireng Bandayuda sdempat diganti dari bindhi menjadi pedang. Nama tariannya ikut diganti pula, menjadi Wireng Bandabaya. (nis/fer)

Advertisement

Artikel Terkait

Akses Sasana Sewaka Dipagari, Jumenengan PB XIV Purbaya Terancam Pindah

Akses Sasana Sewaka Dipagari, Jumenengan PB XIV Purbaya Terancam Pindah

Belasan titik akses Keraton Surakarta disebut dipagar menjelang Jumenengan PB XIV Purboyo pada 5 November 2026. Pihak Purboyo mempertimbangkan Keraton Kilen sebagai lokasi alternatif.

Temuan Benda Mencurigakan Gegerkan Keraton, Tim Jibom Sisir 13 Titik

Temuan Benda Mencurigakan Gegerkan Keraton, Tim Jibom Sisir 13 Titik

Benda berkarat yang diduga mortir ditemukan saat pembersihan area revitalisasi Keraton Surakarta. Tim Jibom Brimob memeriksa dan mengevakuasi benda tersebut.

Revitalisasi 13 Aset Keraton Surakarta, Pemerintah Gelontor Rp150 Miliar

Revitalisasi 13 Aset Keraton Surakarta, Pemerintah Gelontor Rp150 Miliar

Kementerian Kebudayaan mengalokasikan Rp150 miliar untuk revitalisasi 13 aset Keraton Kasunanan Surakarta. Proyek ditargetkan rampung akhir 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer