Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

3.000 Penari dari Berbagai Negara Bakal Tampil di Hari Tari Dunia ISI Solo, 8 Penari Siap Menari 24 Jam

Fauziah Akmal • Sabtu, 27 April 2024 | 22:32 WIB
SPEKTAKULER: Pementasan drama musikal Garda The Musical dalam rangkaian peringatan Hari Tari Dunia, Solo 24 Jam Menari di Teater Besar ISI Surakarta, Sabtu (29/4/2023) malam. (M IHSAN/RADAR SOLO)
SPEKTAKULER: Pementasan drama musikal Garda The Musical dalam rangkaian peringatan Hari Tari Dunia, Solo 24 Jam Menari di Teater Besar ISI Surakarta, Sabtu (29/4/2023) malam. (M IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Merayakan Hari Tari Dunia, Institut Seni Indonesia (ISI) Solo kembali menggelar 24 Jam ISI Surakarta Menari ke-18 pada Senin-Selasa (29-30/4).

Mengusung tema Skena Menari: Bersua, Bercengkrama, Berkelana, Hari Tari Dunia di ISi Solo mengagendakan tiga kegiatan utama.

Yakni festival 24 jam menari, skena, dan penari 24 jam menari nonstop.

Event ini akan menandai pertemuan insan tari dan pementasan karya tari.

Membuka ruang diskusi dan sikap kritis, sehingga akan melahirkan wacana kekaryaan dan keilmuan baru dalam kredo seni pertunjukan.

Hari Tari Dunia di ISI Solo melibatkan 131 kontingen dengan 3.000 penari dari seluruh Indonesia dan mancanegara.

Ada delapan penari yang akan menari selama 24 jam nonstop. Bersama tiga musisi yang akan bermusik selama 24 jam mulai pukul 06.00.

"Salah satu yang akan menari selama 24 jam adalah Tony Broer, penari asal Bandung. Tony akan menari sejak turun dari kereta di Stasiun Solo Balapan menuju ISI Solo," terang Ketua panitia pelaksana, F Hari Mulyatno.

Selain 24 jam menari yang konsisten digelar sejak 2007 tersebut, perayaan Hari Tari Dunia di ISI Solo tahun ini menjadi istimewa dengan adanya panggung skena.

Pada pelaksanaan skena, para peserta tidak hanya mementaskan karyanya, tapi juga akan membuka ruang diskusi.

Mereka akan bercengkrama mengenai Gendon Legacy, tarian difabel, tarian anak-anak, tari rakyat, kontemporer, dan internasional.

"Kali pertama di Hari Tari Dunia akan melibatkan komunitas masyarakat Sangiran yang menjadi kawasan binaan Fakultas Seni Pertunjukan," ucap Hari.

Di panggung Skena pada Senin (29/4) pukul 11.00, juga akan hadir insan tari dari Rumania, Hungaria, Yunani, Amerika Serikat, dan Australia.

"Mereka akan berbagi pengalaman terkait kesenimanan mereka," tambahnya.

Selain itu, ada pula penampilan dari Keraton Solo, Kasultanan Yogyakarta, Pura Pakualaman, dan Pura Mangkunegaran dalam pertunjukan festival.

Tim kurasi penari sekaligus Ketua Program Studi Koreografi Inkuiri ISI Solo Eko Supriyanto mengatakan, festival ini menjadi wadah untuk mengapresiasi seniman tari dari berbagai daerah.

Termasuk sanggar-sanggar yang perlu diperlihatkan dan diapresiasi bukan menjadi suatu objek.

"Saya melihatnya, pada tahun 2019, ribuan penonton yang datang menjadi kenyataan bahwa sebetulnya subjeknya bukan pada para pemain atau para pelakunya, tapi ada pada penonton," ujar Eko.

"Bagaimana sebetulnya kita juga ingin merasa memiliki dan mengapresiasi. Penting untuk ada silaturahim yang kentara dan jelas," sambungnya.

Hari Tari Dunia di ISI Solo juga akan dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pada Senin (29/4) sore.

Sementara, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid akan memberikan orasi kebudayaan pada Senin (29/4) pagi, usai seremonial pembukaan oleh Rektor ISI Solo I Nyoman Sukerna.

“Skena Menari adalah upaya kami sebagai akademisi untuk berpikir secara kritis. Bagaimana melihat dinamika seni tari dan pertunjukan pada umumnya yang selalu diposisikan sebagai obyek, kami ingin membangun konstruksi, seni menjadi subyek,” bebernya. (zia/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Hari Tari Dunia #ISI Solo #Eko Supriyanto #24 Jam Menari