Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Misteri Ahool, Sang Penguasa Langit Malam Gunung Salak dengan Bentang Sayap 8 Meter

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 13 Februari 2026 | 15:42 WIB
Ilustrasi Ahool
Ilustrasi Ahool

RADARSOLO.COM – Di balik rimbunnya hutan tropis Pulau Jawa, tersimpan sebuah legenda yang telah lama memikat perhatian para peneliti makhluk misterius dunia.

Makhluk itu adalah Ahool, sesosok mamalia terbang raksasa yang keberadaannya hingga kini masih menjadi teka-teki besar bagi para ilmuwan dan penggemar kriptozoologi.

Baca Juga: Kongamato: Makhluk Terbang Misterius yang Menghantui Sungai Afrika

Berdasarkan referensi buku Bigfoot to Mothman: A Global Encyclopedia of Legendary Beasts and Monsters karya Margo DeMello, Ahool bukan sekadar kelelawar biasa.

Ia digambarkan sebagai penguasa langit malam dengan ukuran yang melampaui logika spesies mamalia terbang yang dikenal saat ini.

Fisik yang Ganjil: Antara Kelelawar dan Primata

Salah satu hal yang membuat Ahool begitu ikonik adalah ciri fisiknya yang menyeramkan. Jika kalong terbesar (flying fox) hanya memiliki bentang sayap sekitar 1,5 meter, Ahool dilaporkan memiliki bentang sayap fantastis, berkisar antara 3,6 meter hingga mencapai 8,5 meter.

Saksi mata kerap mendeskripsikan Ahool dengan ciri-ciri berikut:

Baca Juga: Legenda Mahamba: Misteri Buaya Raksasa dari Sungai Kongo

Suara yang Menjadi Nama

Nama "Ahool" sendiri diambil dari bunyi yang dihasilkan. Makhluk ini dikenal mengeluarkan teriakan keras yang terdengar seperti "Ahool".

Suara inilah yang sering menjadi tanda kehadirannya di tengah keheningan hutan pegunungan di Jawa.

Kesaksian Ernst Bartels dan Penjelajahan Gunung Salak

Laporan tertulis mengenai Ahool mulai mencuat ke dunia internasional pada awal abad ke-20. Adalah Ernst Bartels, seorang naturalis berkebangsaan Belanda yang memberikan salah satu catatan paling kredibel.

Pada tahun 1925, saat Bartels sedang mengeksplorasi kawasan Gunung Salak, ia melaporkan sesosok makhluk raksasa terbang tepat di atas kepalanya.

Dua tahun kemudian, pada 1927, ia kembali mendengar suara pekikan misterius yang sama. Pengalaman Bartels ini kemudian menjadi rujukan utama bagi kriptozoolog dunia dalam memetakan keberadaan Ahool di wilayah Nusantara.

Analisis Ilmiah: Spesies Langka atau Salah Identifikasi?

Meskipun bukti fisik seperti kerangka atau foto yang jelas belum ditemukan, para ahli mencoba merangkai beberapa kemungkinan logis mengenai identitas Ahool:

  1. Salah Identifikasi Burung Hantu: Salah satu kandidat terkuat adalah burung hantu besar. Suara pekikan burung hantu tertentu memang bisa terdengar seperti "Ahool". Salah satu kandidatnya adalah Blakiston’s fish owl, meski bentang sayapnya "hanya" sekitar 2 meter.

  2. Kelelawar Buah Raksasa: Teori lain merujuk pada kelelawar buah Bismarck yang memiliki bentang sayap besar dan habitat yang tidak jauh dari wilayah Indonesia.

  3. Sisa-Sisa Pterosaurus: Bagi para penganut teori ekstrem, Ahool dianggap sebagai relic species atau spesies purba yang belum punah, kemungkinan besar dari keluarga Pterosaurus, yang masih bertahan hidup di ekosistem terisolasi di pedalaman Jawa.

Hingga saat ini, Ahool tetap menjadi bagian dari identitas misteri hutan Jawa. Apakah ia murni makhluk biologis yang belum terklasifikasi, ataukah sekadar mitos yang lahir dari perpaduan kekayaan alam dan kepercayaan mistis masyarakat? Jawabannya masih tersembunyi di balik lebatnya tajuk pepohonan hutan kita. (Per)

Editor : Perdana Bayu Saputra
#kriptid