alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Patut Dicoba, Ini Tips agar Anak Tak Terabaikan saat Ortu WFH

RADARSOLO.ID – Selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat sebagian perkantoran kembali memberlakukan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Di saat yang bersamaan, anak-anak sekolah juga memasuki musim liburan. Bagaimana cara mengatur waktu agar anak tak merasa diabaikan?

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani mengatakan, orang tua perlu menciptakan suasana yang dapat membuat anak senang dan tak merasa diabaikan.

“Luangkan waktu, tidak harus setiap waktu, ada waktu-waktu yang sengaja diluangkan untuk beraktivitas bersama anaknya,” ujar Anna, Jumat (2/7).

Untuk orang tua yang bekerja dari rumah, Anna menyarankan untuk mengambil waktu cuti satu hari. Waktu ini harus digunakan secara optimal dan tidak terganggu dengan kegiatan lain.

“Setengah hari juga enggak apa-apa kita optimalkan bersama anggota keluarga. Kalau bapak dan ibu bekerja, kita luangkan waktu tertentu. Misalnya hari Jumat pagi sampai siang beraktivitas bersama,” kata psikolog dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia itu.

“Jadi tetap ada waktunya untuk orang tua menyediakan waktunya untuk anak-anak di rumah. Anak-anak juga jadi enggak merasa diabaikan saat di rumah,” lanjut dia.

Anna menyebutkan, dalam beberapa kasus terdapat remaja yang mengalami depresi ringan selama pandemi. Beberapa faktor pun menjadi pemicu, salah satunya lantaran orang tua tidak memiliki waktu bersama anak.

“Karena buat anak-anak dan remaja, ini masa yang sangat membosankan banget. Itu amat sangat bisa dipahami dan beberapa ketika ditelaah lagi, bukan hanya karena mereka enggak bisa keluar rumah. Tapi juga ada macam-macam perdebatan di keluarga, itu yang membuat mereka stress. Orang tua juga enggak punya waktu untuk beraktivitas bersama mereka,” papar Anna.

Orang tua bisa membangun aktivitas sederhana bersama anak, dan sebisa mungkin hal tersebut belum pernah dilakukan. Misalnya, menata ulang letak perabot rumah atau memasak bersama.

Berbincang hal-hal ringan yang dapat membuat tertawa dan mengetahui apa yang digemari anak juga bisa menciptakan perasaan nyaman. Yang paling penting, orang tua dapat memahami mana yang menjadi prioritas.

“Walau harus bekerja enggak apa-apa, tapi harus ada waktu-waktu tertentu. Kalau enggak mungkin seharian, ya enggak usah dipaksain. Bosen juga kali, kan mau ngapain,” tandas Anna. (Antara)


RADARSOLO.ID – Selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat sebagian perkantoran kembali memberlakukan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Di saat yang bersamaan, anak-anak sekolah juga memasuki musim liburan. Bagaimana cara mengatur waktu agar anak tak merasa diabaikan?

Psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani mengatakan, orang tua perlu menciptakan suasana yang dapat membuat anak senang dan tak merasa diabaikan.

“Luangkan waktu, tidak harus setiap waktu, ada waktu-waktu yang sengaja diluangkan untuk beraktivitas bersama anaknya,” ujar Anna, Jumat (2/7).

Untuk orang tua yang bekerja dari rumah, Anna menyarankan untuk mengambil waktu cuti satu hari. Waktu ini harus digunakan secara optimal dan tidak terganggu dengan kegiatan lain.

“Setengah hari juga enggak apa-apa kita optimalkan bersama anggota keluarga. Kalau bapak dan ibu bekerja, kita luangkan waktu tertentu. Misalnya hari Jumat pagi sampai siang beraktivitas bersama,” kata psikolog dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia itu.

“Jadi tetap ada waktunya untuk orang tua menyediakan waktunya untuk anak-anak di rumah. Anak-anak juga jadi enggak merasa diabaikan saat di rumah,” lanjut dia.

Anna menyebutkan, dalam beberapa kasus terdapat remaja yang mengalami depresi ringan selama pandemi. Beberapa faktor pun menjadi pemicu, salah satunya lantaran orang tua tidak memiliki waktu bersama anak.

“Karena buat anak-anak dan remaja, ini masa yang sangat membosankan banget. Itu amat sangat bisa dipahami dan beberapa ketika ditelaah lagi, bukan hanya karena mereka enggak bisa keluar rumah. Tapi juga ada macam-macam perdebatan di keluarga, itu yang membuat mereka stress. Orang tua juga enggak punya waktu untuk beraktivitas bersama mereka,” papar Anna.

Orang tua bisa membangun aktivitas sederhana bersama anak, dan sebisa mungkin hal tersebut belum pernah dilakukan. Misalnya, menata ulang letak perabot rumah atau memasak bersama.

Berbincang hal-hal ringan yang dapat membuat tertawa dan mengetahui apa yang digemari anak juga bisa menciptakan perasaan nyaman. Yang paling penting, orang tua dapat memahami mana yang menjadi prioritas.

“Walau harus bekerja enggak apa-apa, tapi harus ada waktu-waktu tertentu. Kalau enggak mungkin seharian, ya enggak usah dipaksain. Bosen juga kali, kan mau ngapain,” tandas Anna. (Antara)

Populer

Berita Terbaru