alexametrics
21.5 C
Surakarta
Thursday, 30 June 2022

Solusi Bagi Penderita Penyakit Saraf: Terapi Berenang Bisa Jadi Pilihan

RADARSOLO.ID – Penyakit saraf memang cukup menyakitkan untuk dirasakan. Namun banyak solusi yang bisa dijalani untuk mengobatinya. Salah satu dengan berenang.

Berenang ternyata menjadi olahraga yang disarankan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Klaten, Ronny Roekmito bagi penderita saraf. Mengingat dengan olahraga tersebut seluruh anggota tubuh dari tangan, tubuh dan kaki bergerak semua. Sementara itu yang menjadi pertanyaan lebih baik mana berenang di kolam renang dengan air yang tenang atau  mengalir?

“Kalau menurut pendapat saya di kolam dengan air mengalir. Tidak usah berenang pun, air akan mengalir mengenai tubuh. Menyentuh titik persarafan dan merangsang secara terus menerus. Ini akan menyebabkan aliran darahnya kembali berjalan lancar, sehingga menjadikan tubuh menjadi lebih sehat,” ucap Ronny yang sehari-harinya pratik di kliniknya di Gergunung, Klaten Utara ini.

Lebih lanjut, Ronny menjelaskan, bagi penderita persarafan memang sering kali disarankan para dokter untuk melakukan aktivitas berenang. Terlebih lagi di kolam dengan air mengalir yang mudah sekali ditemui di Kota Bersinar. Sejumlah objek wisata air yang menawarkan segarnya mata air alami bisa jadi pilihan untuk terapi.

Lewat berenang di kolam renang dengan air mengalir akan memberikan dua keuntungan sekaligus. Yakni merangsang untuk membuka pembuluh darah yang menjadikan lancar. Sekaligus memberikan asupan yang dibutuhkan tubuh sehingga berenang menjadi salah satu sarana untuk terapi.

“Ada juga yang memanfaatkan grojogan air yang mengalir untuk diarahkan ke bagian punggung. Memang bagian punggung banyak ditemukan titik persarafan. Kalau memanfaatkan grojogan air, jangan diarahkan ke area kepala. Karena perubahan suhu yang begitu cepat tidak bagus,” tambahnya.

Ronny mengungkapkan, tidak ada perbedaan waktu berenang yang dilakukan pagi atau sore hari, khususnya jika dilakukan di kolam dengan air mengalir. Mengingat air mengalir itu menjadikan kolam selalu dalam kondisi bersih. Apalagi aliran air tetap memberikan manfaat pada tubuh saat melakukan terapi.

Terkait waktu berenang bagi penderita saraf, tidak ada waktu baku tetapi disesuaikan dengan kekuatan masing-masing. Tetapi dia menyarankan untuk melakukan aktivitas berenang selama 30 menit. Sedangkan dalam seminggu bisa dilakukan selama tiga kali sehingga tidak menjadikan tubuh lelah.

“Bagi penderita saraf akan lebih tepat melakukan olahraga renang sekalipun tidak bisa berenang. Terutama bagi mereka yang mengalami stroke, gangguan saraf seperti saraf kejepit, nyeri di tengkuk maupun bentuk kelainan saraf lainnya. Semua kolam renang dengan air mengalir baik untuk terapi, terlebih lagi yang memiliki kandungan mineral yang tinggi,” ucapnya.

Ronny menekankan, jika berenang hanya menjadi salah satu sarana untuk terapi agar penderita saraf bisa kembali sehat. Perlu juga ditunjang dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama asupan makan yang benar. Apalagi bagi mereka penderita stroke harus menyantap makanan yang rendah lemak.

“Terkait terapi yang disarankan bagi penderita saraf sebenarnya tidak hanya dengan olahraga berenang saja. Tetapi ada beberapa gerakan yang nantinya akan diarahkan oleh fisioterapis untuk dilakukan secara rutin. Tentunya disesuaikan dengan kondisi dari masing-masing pasien,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang warga asal Kota Jogja yang melakukan terapi di Umbul Brintik, Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Hadi, 60, mengaku, jika awalnya mengalami gejala stroke. Dia sudah berobat ke dokter hingga pijat, tetapi tidak menunjukan perkembangan yang diinginkan.

“Lantas mencoba terapi dengan berenang di Umbul Brintik. Berenang selama tujuh kali sudah menunjukan perkembangan. Dalam seminggu setidaknya tiga kali berenang di Umbul Brintik,” ucapnya.

Dia pun menyarankan kepada siapapun yang yang mengalami gangguan saraf seperti stroke maupun saraf kejepit, untuk bisa memilih berenang sebagai terapi. Terlebih lagi bisa dilakukan secara rutin. (ren/nik)

RADARSOLO.ID – Penyakit saraf memang cukup menyakitkan untuk dirasakan. Namun banyak solusi yang bisa dijalani untuk mengobatinya. Salah satu dengan berenang.

Berenang ternyata menjadi olahraga yang disarankan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Klaten, Ronny Roekmito bagi penderita saraf. Mengingat dengan olahraga tersebut seluruh anggota tubuh dari tangan, tubuh dan kaki bergerak semua. Sementara itu yang menjadi pertanyaan lebih baik mana berenang di kolam renang dengan air yang tenang atau  mengalir?

“Kalau menurut pendapat saya di kolam dengan air mengalir. Tidak usah berenang pun, air akan mengalir mengenai tubuh. Menyentuh titik persarafan dan merangsang secara terus menerus. Ini akan menyebabkan aliran darahnya kembali berjalan lancar, sehingga menjadikan tubuh menjadi lebih sehat,” ucap Ronny yang sehari-harinya pratik di kliniknya di Gergunung, Klaten Utara ini.

Lebih lanjut, Ronny menjelaskan, bagi penderita persarafan memang sering kali disarankan para dokter untuk melakukan aktivitas berenang. Terlebih lagi di kolam dengan air mengalir yang mudah sekali ditemui di Kota Bersinar. Sejumlah objek wisata air yang menawarkan segarnya mata air alami bisa jadi pilihan untuk terapi.

Lewat berenang di kolam renang dengan air mengalir akan memberikan dua keuntungan sekaligus. Yakni merangsang untuk membuka pembuluh darah yang menjadikan lancar. Sekaligus memberikan asupan yang dibutuhkan tubuh sehingga berenang menjadi salah satu sarana untuk terapi.

“Ada juga yang memanfaatkan grojogan air yang mengalir untuk diarahkan ke bagian punggung. Memang bagian punggung banyak ditemukan titik persarafan. Kalau memanfaatkan grojogan air, jangan diarahkan ke area kepala. Karena perubahan suhu yang begitu cepat tidak bagus,” tambahnya.

Ronny mengungkapkan, tidak ada perbedaan waktu berenang yang dilakukan pagi atau sore hari, khususnya jika dilakukan di kolam dengan air mengalir. Mengingat air mengalir itu menjadikan kolam selalu dalam kondisi bersih. Apalagi aliran air tetap memberikan manfaat pada tubuh saat melakukan terapi.

Terkait waktu berenang bagi penderita saraf, tidak ada waktu baku tetapi disesuaikan dengan kekuatan masing-masing. Tetapi dia menyarankan untuk melakukan aktivitas berenang selama 30 menit. Sedangkan dalam seminggu bisa dilakukan selama tiga kali sehingga tidak menjadikan tubuh lelah.

“Bagi penderita saraf akan lebih tepat melakukan olahraga renang sekalipun tidak bisa berenang. Terutama bagi mereka yang mengalami stroke, gangguan saraf seperti saraf kejepit, nyeri di tengkuk maupun bentuk kelainan saraf lainnya. Semua kolam renang dengan air mengalir baik untuk terapi, terlebih lagi yang memiliki kandungan mineral yang tinggi,” ucapnya.

Ronny menekankan, jika berenang hanya menjadi salah satu sarana untuk terapi agar penderita saraf bisa kembali sehat. Perlu juga ditunjang dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama asupan makan yang benar. Apalagi bagi mereka penderita stroke harus menyantap makanan yang rendah lemak.

“Terkait terapi yang disarankan bagi penderita saraf sebenarnya tidak hanya dengan olahraga berenang saja. Tetapi ada beberapa gerakan yang nantinya akan diarahkan oleh fisioterapis untuk dilakukan secara rutin. Tentunya disesuaikan dengan kondisi dari masing-masing pasien,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang warga asal Kota Jogja yang melakukan terapi di Umbul Brintik, Desa Malangjiwan, Kecamatan Kebonarum, Hadi, 60, mengaku, jika awalnya mengalami gejala stroke. Dia sudah berobat ke dokter hingga pijat, tetapi tidak menunjukan perkembangan yang diinginkan.

“Lantas mencoba terapi dengan berenang di Umbul Brintik. Berenang selama tujuh kali sudah menunjukan perkembangan. Dalam seminggu setidaknya tiga kali berenang di Umbul Brintik,” ucapnya.

Dia pun menyarankan kepada siapapun yang yang mengalami gangguan saraf seperti stroke maupun saraf kejepit, untuk bisa memilih berenang sebagai terapi. Terlebih lagi bisa dilakukan secara rutin. (ren/nik)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/