23.7 C
Surakarta
Saturday, 28 January 2023

Gangguan Psikologis Bisa Perberat Gejala GERD, Harus Libatkan Ahli Kesehatan Jiwa

RADARSOLO.ID – Gangguan psikologis bisa memperberat gejala gastroesophageal reflux disease atau GERD. Penanganannya pun sebaiknya harus melibatkan ahli kesehatan jiwa.

“Faktor psikologis ini bisa memperberat gejala GERD, mengakibatkan gangguan daripada hormon-hormon di dalam tubuh, saraf-saraf di dalam tubuh khusus pencernaan, semua terganggu ritmenya,” kata dr Yongki SpPD, dalam diskusi mengenai GERD, Senin (9/1).

Gangguan psikologis seperti kecemasan dan stres yang tidak ditangani dengan benar bisa memperparah gejala GERD. Menurut Yongki, orang yang terkena GERD disertai gangguan psikologis biasanya sering berdebar-debar, dan dalam beberapa kasus mengalami rasa nyeri yang berpindah-pindah, merasa tidak bertenaga, dan pekerjaannya tidak tuntas.

“Itu memproduksi hal-hal yang menyebabkan asam lambungnya meningkat. Ini yang memicu terjadinya orang yang sudah memiliki GERD tadi karena pikiran yang berat,” ujar Yongki.

Stres juga dapat membuat sistem imun tubuh melemah sehingga kesehatan tubuh jadi lebih mudah terganggu. Lebih lanjut, Yongki menyebut, penderita GERD saat ini banyak yang berusia 20 sampai 30 tahun, dan di antaranya ada yang mengalami gangguan psikologis.

Penanganan penderita GERD yang mengalami gangguan psikologis, menurut dia, lebih baik dilakukan dengan dukungan dari ahli kesehatan jiwa.

“Pasien saya secara keseluruhan beberapa persennya juga dikonsultasikan atau istilahnya rawat bersama dengan teman-teman dari psikiater, kesehatan jiwa, karena kita harus tahu bahwa sehat itu ada dua, secara fisik dan secara mental,” papar Yongki.

Menurut artikel yang disiarkan di laman resmi Siloam Hospitals, GERD terjadi akibat melemahnya otot-otot pembatas antara kerongkongan dan lambung sehingga menyebabkan refluks (aliran balik) atau naiknya isi dan asam lambung ke saluran esofagus.

Paparan asam lambung yang berulang-ulang ke esofagus akan mengakibatkan iritasi pada lapisan esofagus atau kerongkongan.

GERD juga dapat dipicu oleh faktor makanan, seperti mengonsumsi makanan dan minuman dengan rasa yang kuat serta kebiasaan makan yang kurang baik seperti makan terburu-buru, sering makan dalam porsi banyak sekaligus, dan langsung tidur setelah makan.

Gejala GERD antara lain mual, rasa pahit di mulut, karies pada gigi, regurgitasi (makanan kembali ke mulut dari kerongkongan), nyeri saat menelan atau kesulitan menelan, batuk kronis, sakit tenggorokan dan suara serak, serta bau mulut. (antara/ria)

RADARSOLO.ID – Gangguan psikologis bisa memperberat gejala gastroesophageal reflux disease atau GERD. Penanganannya pun sebaiknya harus melibatkan ahli kesehatan jiwa.

“Faktor psikologis ini bisa memperberat gejala GERD, mengakibatkan gangguan daripada hormon-hormon di dalam tubuh, saraf-saraf di dalam tubuh khusus pencernaan, semua terganggu ritmenya,” kata dr Yongki SpPD, dalam diskusi mengenai GERD, Senin (9/1).

Gangguan psikologis seperti kecemasan dan stres yang tidak ditangani dengan benar bisa memperparah gejala GERD. Menurut Yongki, orang yang terkena GERD disertai gangguan psikologis biasanya sering berdebar-debar, dan dalam beberapa kasus mengalami rasa nyeri yang berpindah-pindah, merasa tidak bertenaga, dan pekerjaannya tidak tuntas.

“Itu memproduksi hal-hal yang menyebabkan asam lambungnya meningkat. Ini yang memicu terjadinya orang yang sudah memiliki GERD tadi karena pikiran yang berat,” ujar Yongki.

Stres juga dapat membuat sistem imun tubuh melemah sehingga kesehatan tubuh jadi lebih mudah terganggu. Lebih lanjut, Yongki menyebut, penderita GERD saat ini banyak yang berusia 20 sampai 30 tahun, dan di antaranya ada yang mengalami gangguan psikologis.

Penanganan penderita GERD yang mengalami gangguan psikologis, menurut dia, lebih baik dilakukan dengan dukungan dari ahli kesehatan jiwa.

“Pasien saya secara keseluruhan beberapa persennya juga dikonsultasikan atau istilahnya rawat bersama dengan teman-teman dari psikiater, kesehatan jiwa, karena kita harus tahu bahwa sehat itu ada dua, secara fisik dan secara mental,” papar Yongki.

Menurut artikel yang disiarkan di laman resmi Siloam Hospitals, GERD terjadi akibat melemahnya otot-otot pembatas antara kerongkongan dan lambung sehingga menyebabkan refluks (aliran balik) atau naiknya isi dan asam lambung ke saluran esofagus.

Paparan asam lambung yang berulang-ulang ke esofagus akan mengakibatkan iritasi pada lapisan esofagus atau kerongkongan.

GERD juga dapat dipicu oleh faktor makanan, seperti mengonsumsi makanan dan minuman dengan rasa yang kuat serta kebiasaan makan yang kurang baik seperti makan terburu-buru, sering makan dalam porsi banyak sekaligus, dan langsung tidur setelah makan.

Gejala GERD antara lain mual, rasa pahit di mulut, karies pada gigi, regurgitasi (makanan kembali ke mulut dari kerongkongan), nyeri saat menelan atau kesulitan menelan, batuk kronis, sakit tenggorokan dan suara serak, serta bau mulut. (antara/ria)

Populer

Berita Terbaru

spot_img