alexametrics
25.5 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Bisnis Maggot yang Menggiurkan, 

Budi Daya Belatung yang Bisa Bikin Untung

RADARSOLO.ID – Sampah di rumah kerap mendatangkan masalah. Apalagi sisa-sisa makanan dan bahan organik lain yang aromanya bisa menurunkan selera makan. Bahkan bisa muncul maggot atau belatung. Namun, siapa sangka maggot jika dibudi dayakan dengan benar, bisa berpotensi menjadi mendatangkan cuan.

Salah satu pembudi daya maggot yakni Agus Purwanto, kepala Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo sudah setahun belakangan ini, Desa Makamhaji mengembangkan budidaya maggot, yang pengelolaannya dipercayakan kepada BUMDes desa setempat. Bahkan, Desa Makamhaji menjadi percontohan bagi desa-desa lain untuk mengatasi masalah sampah dengan budi daya maggot.

“Setahun ini kita kembangkan budidaya maggot. Menempati lahan kas desa, dekat dengan Makam Pracimaloyo,” kata Agus Purwanto.

Agus menyebut, pengelolaan sampah selama ini hanya linier. Yakni dari rumah tangga, dibuang ke TPS, lalu diangkut dibuang ke TPA. Dengan budi daya maggot, pengelolaan sampah menjadi berputar. Dari rumah tangga, langsung bisa dipilah dan dikelola. Sisanya, yang tidak bisa dimanfaatkan baru dibuang ke TPS.

“Setiap RT, mulai kami arahkan untuk budi daya maggot,” katanya.

Bahkan, kata Agus, budi daya maggot sangat bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Modalnya pun sangat murah, tergantung lahan yang dimiliki.

“Modal Rp 1 jutaan sudah bisa untuk budi daya di rumah,” kata Agus.

Dengan modal Rp 1 jutaan sudah bisa jadi kandang, pakan dan telur. Untuk kandang rekomendasinya dibuat bersusun. Rangka bisa dari kayu atau bambu, sedangkan tempat pembiakan maggot rekomendasinya adalah papan GRC.

“Budi daya maggot belum banyak kompetitornya. Kami sampai kewalahan melayani permintaan peternak, maupun pelaku budi daya maggot yang lain. Selain menjual maggot, kami juga menyediakan pakan,” katanya.

Terkait pakan, untuk skala rumah tangga, bisa menggunakan sisa-sisa makanan, sayuran dan bahan organik lain. Sisa-sisa makanan cukup di blender saja, kemudian diberikan setiap harinya. Oleh karena itulah, maggot ini bisa menjadi solusi dalam pengolahan limbah organik, agar tidak menumpuk dan meningkatkan kadar amoniak di tempat pembuangan akhir.

Kemampuan satu larva dalam menghabiskan pakan limbah organik adalah sebanyak 25 mg-500 mg/hari.

“Siklus hidup maggot ini terdiri dari 5 fase, yaitu telur, larva, prepupa, pupa dan dewasa. Lama siklus hidup ini adalah antara 38-41 hari. Untuk kandang 1 m x 2 meter bisa panen sebulan 2 kali,” katanya.

Harga jual maggot sangat menggiurkan, untuk fresh maggot 1 kg mulai dari Rp 8000 sampai Rp 8500. Lalu, Pre Pupa 1 kg mencapai Rp 50.000 sampai Rp 60.000. Sedangkan Pupa 1 kg mencapai Rp 80.000 sampai Rp 100.000. Sedangkan telur lalatnya, Rp 4 juta perkilogramnya. Bahkan, sisa makanan maggot, bisa dijadikan kompos dan masuk kategori kompos terbaik untuk tanaman.

“Semua dari maggot bisa menghasilkan uang. Terserah mau main dimana, fresh maggot, pre pupa, pupa, telur dan komposnya. Atau semua sekalian, tentunya diperlukan lebih banyak kandang untuk pembiakan,” pungkasnya. (kwl/dam)

RADARSOLO.ID – Sampah di rumah kerap mendatangkan masalah. Apalagi sisa-sisa makanan dan bahan organik lain yang aromanya bisa menurunkan selera makan. Bahkan bisa muncul maggot atau belatung. Namun, siapa sangka maggot jika dibudi dayakan dengan benar, bisa berpotensi menjadi mendatangkan cuan.

Salah satu pembudi daya maggot yakni Agus Purwanto, kepala Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo sudah setahun belakangan ini, Desa Makamhaji mengembangkan budidaya maggot, yang pengelolaannya dipercayakan kepada BUMDes desa setempat. Bahkan, Desa Makamhaji menjadi percontohan bagi desa-desa lain untuk mengatasi masalah sampah dengan budi daya maggot.

“Setahun ini kita kembangkan budidaya maggot. Menempati lahan kas desa, dekat dengan Makam Pracimaloyo,” kata Agus Purwanto.

Agus menyebut, pengelolaan sampah selama ini hanya linier. Yakni dari rumah tangga, dibuang ke TPS, lalu diangkut dibuang ke TPA. Dengan budi daya maggot, pengelolaan sampah menjadi berputar. Dari rumah tangga, langsung bisa dipilah dan dikelola. Sisanya, yang tidak bisa dimanfaatkan baru dibuang ke TPS.

“Setiap RT, mulai kami arahkan untuk budi daya maggot,” katanya.

Bahkan, kata Agus, budi daya maggot sangat bisa dilakukan dalam skala rumah tangga. Modalnya pun sangat murah, tergantung lahan yang dimiliki.

“Modal Rp 1 jutaan sudah bisa untuk budi daya di rumah,” kata Agus.

Dengan modal Rp 1 jutaan sudah bisa jadi kandang, pakan dan telur. Untuk kandang rekomendasinya dibuat bersusun. Rangka bisa dari kayu atau bambu, sedangkan tempat pembiakan maggot rekomendasinya adalah papan GRC.

“Budi daya maggot belum banyak kompetitornya. Kami sampai kewalahan melayani permintaan peternak, maupun pelaku budi daya maggot yang lain. Selain menjual maggot, kami juga menyediakan pakan,” katanya.

Terkait pakan, untuk skala rumah tangga, bisa menggunakan sisa-sisa makanan, sayuran dan bahan organik lain. Sisa-sisa makanan cukup di blender saja, kemudian diberikan setiap harinya. Oleh karena itulah, maggot ini bisa menjadi solusi dalam pengolahan limbah organik, agar tidak menumpuk dan meningkatkan kadar amoniak di tempat pembuangan akhir.

Kemampuan satu larva dalam menghabiskan pakan limbah organik adalah sebanyak 25 mg-500 mg/hari.

“Siklus hidup maggot ini terdiri dari 5 fase, yaitu telur, larva, prepupa, pupa dan dewasa. Lama siklus hidup ini adalah antara 38-41 hari. Untuk kandang 1 m x 2 meter bisa panen sebulan 2 kali,” katanya.

Harga jual maggot sangat menggiurkan, untuk fresh maggot 1 kg mulai dari Rp 8000 sampai Rp 8500. Lalu, Pre Pupa 1 kg mencapai Rp 50.000 sampai Rp 60.000. Sedangkan Pupa 1 kg mencapai Rp 80.000 sampai Rp 100.000. Sedangkan telur lalatnya, Rp 4 juta perkilogramnya. Bahkan, sisa makanan maggot, bisa dijadikan kompos dan masuk kategori kompos terbaik untuk tanaman.

“Semua dari maggot bisa menghasilkan uang. Terserah mau main dimana, fresh maggot, pre pupa, pupa, telur dan komposnya. Atau semua sekalian, tentunya diperlukan lebih banyak kandang untuk pembiakan,” pungkasnya. (kwl/dam)

Populer

Berita Terbaru