alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Channa, Predator Air Tawar: Beringas saat Makan, Kadang Diet bak Atlet

RADARSOLO.ID – Ada sensasi berbeda ketika memilih ikan channa sebagai hewan peliharaan. Ikan predator ini sangat beringas kala diberi makan. Apalagi pakan hidup. Pemberian pakan harus diatur agar ikan gembrot dan menjadi malas bergerak.

Kondisi itulah yang membuat para pemilik channa terkadang menerapkan diet ketat. Seperti dilakukan Ricky Setiawan. Menurutnya, channa yang bersifat teritorial menjadi tantangan untuk memeliharanya.

“Saya mulai senang ikan ini sejak 7 tahun lalu. Awalnya cuma hobi. Ternyata prospek bisnisnya bagus. Semakin besar ukurannya, harganya kian mahal,” ujarnya di ditemui di kediamannya Jalan Jagir RT 01 RW 01 Gentan, Baki, Sukoharjo.

Di sejumlah daerah, ikan yang juga dikenal dengan sebutan snakehead ini dilarang dilepasliarkan di perairan karena dikhawatirkan menghabiskan populasi ikan air tawar di habitat setempat. Mengingat channa Tidak pernah merasa kenyang.

Di lain sisi, keagresifan channa menjadi daya tarik bagi penggemarnya. Soal perawatan, relatif simpel. Namun, pemberian pakan harus dikontrol agar tak kegemukan.

“Saya lebih senang menonjolkan performa keindahannya. Jadi untuk pakan, saya beri tiga hari sekali, kadang ada juga yang seminggu sekali. Kalau kegemukan kan sirip-siripnya malah nggak bisa panjang, nggak gondronglah istilahnya. Makanya perlu diet ketat kalau mau menonjolkan keindahannya,” beber Ricky.

Salah satu pakan hidup kegemaran channa adalah udang dan ikan, sedangkan untuk memunculkan warna sisik, bisa dengan pelet yang memiliki kandungan spirulina. Bisa pula ulat hongkong yang kaya protein.

“Saat corak warna dan motif sudah keluar, maka nilai jualnya tinggi,” ucap pemilik Fine Collection itu.

Selama ini, Ricky telah menjual puluhan ekor channa. Seperti auranti, albino agrus, asitica, pulcra, andrao, bleheri, red sampit, red barito, gacua dan masih banyak lagi.

“Harga tertinggi itu channa barca. Sepasang yang sudah jadi (keluar corak warna) bisa  sampai ratusan juta. Yang paling baru koleksi saya blue pulcra shortbody king. Ini sebetulnya ikan cacat genetic, tapi harganya malah tinggi. Anakan ukuran 2 sentimeter sekitar Rp 1,5 juta. Nah ini kalau bisa dipelihara sampai agak besar bisa sampai puluhan juta,” urainya.

Bagi penghobi, channa bisa dipelihara di aquarium. Tak perlu menggunakan aerator maupun pompa. “Perawatannya lebih mudah dibanding ikan lainnya. Jadi cocok untuk yang baru mau belajar memelihara ikan predator,” pungkas anggota Komunitas Snakehead Indonesia tersebut. (ves/wa/dam)

RADARSOLO.ID – Ada sensasi berbeda ketika memilih ikan channa sebagai hewan peliharaan. Ikan predator ini sangat beringas kala diberi makan. Apalagi pakan hidup. Pemberian pakan harus diatur agar ikan gembrot dan menjadi malas bergerak.

Kondisi itulah yang membuat para pemilik channa terkadang menerapkan diet ketat. Seperti dilakukan Ricky Setiawan. Menurutnya, channa yang bersifat teritorial menjadi tantangan untuk memeliharanya.

“Saya mulai senang ikan ini sejak 7 tahun lalu. Awalnya cuma hobi. Ternyata prospek bisnisnya bagus. Semakin besar ukurannya, harganya kian mahal,” ujarnya di ditemui di kediamannya Jalan Jagir RT 01 RW 01 Gentan, Baki, Sukoharjo.

Di sejumlah daerah, ikan yang juga dikenal dengan sebutan snakehead ini dilarang dilepasliarkan di perairan karena dikhawatirkan menghabiskan populasi ikan air tawar di habitat setempat. Mengingat channa Tidak pernah merasa kenyang.

Di lain sisi, keagresifan channa menjadi daya tarik bagi penggemarnya. Soal perawatan, relatif simpel. Namun, pemberian pakan harus dikontrol agar tak kegemukan.

“Saya lebih senang menonjolkan performa keindahannya. Jadi untuk pakan, saya beri tiga hari sekali, kadang ada juga yang seminggu sekali. Kalau kegemukan kan sirip-siripnya malah nggak bisa panjang, nggak gondronglah istilahnya. Makanya perlu diet ketat kalau mau menonjolkan keindahannya,” beber Ricky.

Salah satu pakan hidup kegemaran channa adalah udang dan ikan, sedangkan untuk memunculkan warna sisik, bisa dengan pelet yang memiliki kandungan spirulina. Bisa pula ulat hongkong yang kaya protein.

“Saat corak warna dan motif sudah keluar, maka nilai jualnya tinggi,” ucap pemilik Fine Collection itu.

Selama ini, Ricky telah menjual puluhan ekor channa. Seperti auranti, albino agrus, asitica, pulcra, andrao, bleheri, red sampit, red barito, gacua dan masih banyak lagi.

“Harga tertinggi itu channa barca. Sepasang yang sudah jadi (keluar corak warna) bisa  sampai ratusan juta. Yang paling baru koleksi saya blue pulcra shortbody king. Ini sebetulnya ikan cacat genetic, tapi harganya malah tinggi. Anakan ukuran 2 sentimeter sekitar Rp 1,5 juta. Nah ini kalau bisa dipelihara sampai agak besar bisa sampai puluhan juta,” urainya.

Bagi penghobi, channa bisa dipelihara di aquarium. Tak perlu menggunakan aerator maupun pompa. “Perawatannya lebih mudah dibanding ikan lainnya. Jadi cocok untuk yang baru mau belajar memelihara ikan predator,” pungkas anggota Komunitas Snakehead Indonesia tersebut. (ves/wa/dam)

Populer

Berita Terbaru