alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

Waspadai Tinnitus Post Covid-19, Serang Syaraf Pendengaran

RADARSOLO.ID – Pasca sembuh dari Covid-19, tak jarang pasien mengalami gejala lanjutan. Entah berimbas pada indra perasa dan penciuman (anosmia, Red), pencernaan maupun pendengaran. Salah satu yang harus diwaspadai adalah tinnitus alias gangguan syaraf di telinga. Jika mengalami telinga berdengung pasca terkena Covid-19, segera hubungi dokter telinga, hidung, tenggorokan (THT).

Pernahkah mengalami telinga berdenging pasca terkena Covid-19? Atau merasakan vertigo dan pusing hingga limbung? Sebaiknya, segera berkonsultasi pada dokter THT. Gejala-gejala tersebut mengarah pada kerusakan sistem syaraf telinga, alias tinnitus post covid-19.

“Tinnitus itu adalah gangguan di telinga karena ada suara tambahan yang dirasakan oleh pasien. Bisa seperti telinga gebrek-gebrek atau berdengung. Sedangkan tinnitus post covid-19 biasanya terjadi di satu sisi dan sifatnya gangguan syaraf,” papar dokter spesialis THT RSUD Pandan Arang dr Lenny Aprilia Sp THTKL.

Kasus tinnitus post Covid-19 ini dialami pada 8 persen dari total pasien Covid-19 di dunia. Namun, untuk tinnitus post Covid-19 ini hanya salah satu telinga saja yang mengalami gangguan fungsi pendengarannya. Tak hanya tinnitus, badai Covid-19 juga membuat pasien terkena audiovestibular atau kurang dengar dan gangguang pendengaran.

“Saya beberapa menemukan pasien tinnitus post Covid-19 di Boyolali. Saat pandemi kemarin, anak dari pasien yang sering kontrol ke saya terkena Covid-19. Lalu dia mengabarkan kalau anaknya mengalami vertigo, telinga berdengung dan gluyuran (limbung, Red). Lalu saya baca jurnal-jurnal, oh, memang tinnitus itu bisa terjadi pada post Covid-19,” terangnya.

Bahkan dia pernah menemukan kasus pada laki-laki dewasa dengan performance tubuh yang bagus, sehat dan tanpa kormobid. Pasien tersebut juga terkena tanpa gejala. Namun, pasca sembuh dari Covid-19, pasien tersebut justru mengalami tinnitus.

Sayangnya, tinnitus post Covid-19 tidak bisa dicegah. Karena virus tersebut menyerang dan bereplikasi hingga mencapai gejala tertentu. Bahkam merusak indra manusia. Sehingga hal tersebut tergantung daya tahan tubuh masing-masing.

Tinnitus dan audiovestibular post Covid-19 bisa menyerang siapa saja. Baik itu pasien tanpa gejala sampai dengan gejala ringan, sedang hingga berat. Bahkan serangan tinnitus post Covid-19 tak memandang usia. Sampai saat ini, tinnitus justru menyerang usia remaja dan dewasa.

“Ketika ada pasien tinnitus post Covid-19 datang, kami akan lihat. Kami pastikan dulu dengan tes pendengaran. Apakah ada gangguan pendengaran, tipe syaraf atau tipe hantaran atau tipe campuran,” terangnya.

Lenny menerangkan, tinnitus tipe syaraf biasanya sulit disembuhkan. Karena membuat kerusakan permanen. Sedangkan tipe hantaran masih bisa disembuhkan dengan obat-obatan dan cuci hidung. Kemudian, untuk tipe campuran harus dilihat seberapa berat gangguan tipe syaraf dan hantarannya.

“Sedangkan tinnitus post covid-19 itu sendiri merupakan tipe syaraf. Sehingga sulit disembuhkan. Namun, ada terapi untuk mengurangi gejala tinnitus tersebut. Salah satunya dengan obat-obatan vertigo dan cuci hidung. Karena tinnitus merespons baik obat vertigo. Itu hanya mengurangi keluhan dan mencegah agar tidak bertambah berat,” jelasnya.

Lenny menyarankan agar masyarakat tetap mawas diri. Jika muncul gejala-gejala yang mengarah pada tinnitus post Covid-19 segera hubungi dokter THT. Setidaknya terapi untuk memulihkan pendengan bisa dilakukan, meski belum tentu bisa kembali seperti semula. “Covid-19 is still going on. Semoga tidak muncul lagi gelombang selanjutnya. Tetap prokes diera new normal,” jelasnya. (rgl/bun/dam)

RADARSOLO.ID – Pasca sembuh dari Covid-19, tak jarang pasien mengalami gejala lanjutan. Entah berimbas pada indra perasa dan penciuman (anosmia, Red), pencernaan maupun pendengaran. Salah satu yang harus diwaspadai adalah tinnitus alias gangguan syaraf di telinga. Jika mengalami telinga berdengung pasca terkena Covid-19, segera hubungi dokter telinga, hidung, tenggorokan (THT).

Pernahkah mengalami telinga berdenging pasca terkena Covid-19? Atau merasakan vertigo dan pusing hingga limbung? Sebaiknya, segera berkonsultasi pada dokter THT. Gejala-gejala tersebut mengarah pada kerusakan sistem syaraf telinga, alias tinnitus post covid-19.

“Tinnitus itu adalah gangguan di telinga karena ada suara tambahan yang dirasakan oleh pasien. Bisa seperti telinga gebrek-gebrek atau berdengung. Sedangkan tinnitus post covid-19 biasanya terjadi di satu sisi dan sifatnya gangguan syaraf,” papar dokter spesialis THT RSUD Pandan Arang dr Lenny Aprilia Sp THTKL.

Kasus tinnitus post Covid-19 ini dialami pada 8 persen dari total pasien Covid-19 di dunia. Namun, untuk tinnitus post Covid-19 ini hanya salah satu telinga saja yang mengalami gangguan fungsi pendengarannya. Tak hanya tinnitus, badai Covid-19 juga membuat pasien terkena audiovestibular atau kurang dengar dan gangguang pendengaran.

“Saya beberapa menemukan pasien tinnitus post Covid-19 di Boyolali. Saat pandemi kemarin, anak dari pasien yang sering kontrol ke saya terkena Covid-19. Lalu dia mengabarkan kalau anaknya mengalami vertigo, telinga berdengung dan gluyuran (limbung, Red). Lalu saya baca jurnal-jurnal, oh, memang tinnitus itu bisa terjadi pada post Covid-19,” terangnya.

Bahkan dia pernah menemukan kasus pada laki-laki dewasa dengan performance tubuh yang bagus, sehat dan tanpa kormobid. Pasien tersebut juga terkena tanpa gejala. Namun, pasca sembuh dari Covid-19, pasien tersebut justru mengalami tinnitus.

Sayangnya, tinnitus post Covid-19 tidak bisa dicegah. Karena virus tersebut menyerang dan bereplikasi hingga mencapai gejala tertentu. Bahkam merusak indra manusia. Sehingga hal tersebut tergantung daya tahan tubuh masing-masing.

Tinnitus dan audiovestibular post Covid-19 bisa menyerang siapa saja. Baik itu pasien tanpa gejala sampai dengan gejala ringan, sedang hingga berat. Bahkan serangan tinnitus post Covid-19 tak memandang usia. Sampai saat ini, tinnitus justru menyerang usia remaja dan dewasa.

“Ketika ada pasien tinnitus post Covid-19 datang, kami akan lihat. Kami pastikan dulu dengan tes pendengaran. Apakah ada gangguan pendengaran, tipe syaraf atau tipe hantaran atau tipe campuran,” terangnya.

Lenny menerangkan, tinnitus tipe syaraf biasanya sulit disembuhkan. Karena membuat kerusakan permanen. Sedangkan tipe hantaran masih bisa disembuhkan dengan obat-obatan dan cuci hidung. Kemudian, untuk tipe campuran harus dilihat seberapa berat gangguan tipe syaraf dan hantarannya.

“Sedangkan tinnitus post covid-19 itu sendiri merupakan tipe syaraf. Sehingga sulit disembuhkan. Namun, ada terapi untuk mengurangi gejala tinnitus tersebut. Salah satunya dengan obat-obatan vertigo dan cuci hidung. Karena tinnitus merespons baik obat vertigo. Itu hanya mengurangi keluhan dan mencegah agar tidak bertambah berat,” jelasnya.

Lenny menyarankan agar masyarakat tetap mawas diri. Jika muncul gejala-gejala yang mengarah pada tinnitus post Covid-19 segera hubungi dokter THT. Setidaknya terapi untuk memulihkan pendengan bisa dilakukan, meski belum tentu bisa kembali seperti semula. “Covid-19 is still going on. Semoga tidak muncul lagi gelombang selanjutnya. Tetap prokes diera new normal,” jelasnya. (rgl/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru