alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Usai Idul Fitri, Penyakit Metabolik Mengancam

SOLO – Ancaman penyakit metabolik rentan terjadi usai Idul Fitri. Perubahan pola makan menjadi faktor utama. Perilaku sebagian masyarakat terkait konsumsi makanan saat Lebaran menjadi kurang terkontrol.

“Biasanya, peningkatan frekuensi makan melebihi tiga kali sehari terjadi karena seseorang mengunjungi banyak kerabat ataupun tetangga di satu hari yang sama,” ujar Dono Indarto, pakar ilmu gizi Univesitas Sebelas Maret (UNS) dalam seminar kesehatan, kemarin.

Ditambah Dono, makanan dan minuman yang dikonsumsi saat perayaan Idul Fitri sarat akan tinggi karbohidrat, lemak, garam, gula, santan, dan kolesterol. Aktivitas fisik pun menurun seperti terlalu banyak duduk. Kondisi ini rentan terhadap ancaman penyakit metabolik.

Untuk mencegah ini, kata Dono, ada beberapa hal yang harus dilakukan pascalebaran. Dua atau tiga hari setelahnya, masyarakat dapat kembali ke adaptasi yang sudah terbentuk selama puasa Ramadan. Perbaikan dapat dilakukan dengan puasa sunah selama enam hari secara berurutan.

“Selain itu, dapat juga mulai kembali memperhatikan peningkatan aktivitas fisik dan durasi tidur masing-masing. Pencegahan penyakit metabolik juga dapat dilakukan dengan diet gizi seimbang,” ujarnya.

Di forum yang sama, praktisi gizi Florentinus Nurtitus mengatakan, keseimbangan gizi dapat tercapai ketika zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sesuai dengan asupan sehari-hari. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan dapat diperoleh melalui konsultasi dengan dietisien atau nutrisionis. Dengan mengikuti petunjuk ahli, masyarakat akan dituntun dalam mengetahui beragam kebutuhan tubuhnya.

“Pola diet yang benar adalah tidak mengubah kebiasaan makan sehari-hari, tetapi diarahkan ke pola yang dianjurkan,” ujar dia.

Empat pilar pedoman umum gizi seimbang itu, yakni selalu mengonsumsi makanan dengan menu beragam, bergizi, berimbang, dan halal (3BH). Selalu berolahraga dan menjaga kebersihan. Terakhir, selalu menjaga berat badan ideal. (ian/bun/dam)

SOLO – Ancaman penyakit metabolik rentan terjadi usai Idul Fitri. Perubahan pola makan menjadi faktor utama. Perilaku sebagian masyarakat terkait konsumsi makanan saat Lebaran menjadi kurang terkontrol.

“Biasanya, peningkatan frekuensi makan melebihi tiga kali sehari terjadi karena seseorang mengunjungi banyak kerabat ataupun tetangga di satu hari yang sama,” ujar Dono Indarto, pakar ilmu gizi Univesitas Sebelas Maret (UNS) dalam seminar kesehatan, kemarin.

Ditambah Dono, makanan dan minuman yang dikonsumsi saat perayaan Idul Fitri sarat akan tinggi karbohidrat, lemak, garam, gula, santan, dan kolesterol. Aktivitas fisik pun menurun seperti terlalu banyak duduk. Kondisi ini rentan terhadap ancaman penyakit metabolik.

Untuk mencegah ini, kata Dono, ada beberapa hal yang harus dilakukan pascalebaran. Dua atau tiga hari setelahnya, masyarakat dapat kembali ke adaptasi yang sudah terbentuk selama puasa Ramadan. Perbaikan dapat dilakukan dengan puasa sunah selama enam hari secara berurutan.

“Selain itu, dapat juga mulai kembali memperhatikan peningkatan aktivitas fisik dan durasi tidur masing-masing. Pencegahan penyakit metabolik juga dapat dilakukan dengan diet gizi seimbang,” ujarnya.

Di forum yang sama, praktisi gizi Florentinus Nurtitus mengatakan, keseimbangan gizi dapat tercapai ketika zat-zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sesuai dengan asupan sehari-hari. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan dapat diperoleh melalui konsultasi dengan dietisien atau nutrisionis. Dengan mengikuti petunjuk ahli, masyarakat akan dituntun dalam mengetahui beragam kebutuhan tubuhnya.

“Pola diet yang benar adalah tidak mengubah kebiasaan makan sehari-hari, tetapi diarahkan ke pola yang dianjurkan,” ujar dia.

Empat pilar pedoman umum gizi seimbang itu, yakni selalu mengonsumsi makanan dengan menu beragam, bergizi, berimbang, dan halal (3BH). Selalu berolahraga dan menjaga kebersihan. Terakhir, selalu menjaga berat badan ideal. (ian/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/