alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 24 May 2022

Jangan Panik jika Temukan Gejala Awal Hepatitis pada Anak, Segera Lakukan Ini

RADARSOLO.ID – Penyakit hepatitis akut misterius kini memang tengah merebak di sejumlah negara, dan perlu diwaspadai sungguh-sungguh. Namun demikian, para orang tua tak perlu panik berlebihan bila menemukan gejala awal hepatitis pada anak.

“Kalau ada gejala, jangan panik. Segera bawa pasien ke puskesmas dan rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan lanjutan,” ujar dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Ade Rachmat Yudiyanto, SpA(K), MKed(Ped), Kamis (12/5).

Gejala awal hepatitis yakni diare, mual, muntah, sakit perut dan dapat disertai demam ringan. Bila gejala ini muncul, selain berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan, maka orang tua juga perlu memastikan anak beristirahat total, menjaga asupan cairan anak dan ion tubuh cukup agar tidak jatuh dalam kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan yang pada jangka panjang bisa membahayakan kesehatan. Sementara untuk makanan, tidak ada pembatasan khusus atau berpedoman pada prinsip gizi seimbang.

“Istirahat total. Semua aktivitas dilakukan di tempat tidur,” kata Ade.

Menurut Ade, orang tua sebaiknya tak menunggu gejala lanjutan muncul seperti kulit dan mata kuning hingga penurunan kesadaran, yang pada akhirnya mengharuskan pasien dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) dan bahkan dilakukan cangkok hati.

Hepatitis merupakan radang pada sel hati. Saat ini ada parameter yang bisa digunakan untuk memastikannya, yakni enzim hati atau Alanine Aminotransferase (ALT) atau Serum Glutamate Pyruvate Trasnsaminase (SGPT) bila nilainya di atas dua kali normal.

Hepatitis bisa disebabkan infeksi dan non-infeksi. Infeksi bisa karena virus (A,B,C, D, E dan G), bakteri atau parasit, sementara non-infeksi misalnya akibat obat, racun, metabolisme.

Sementara berkaca pada kondisi saat ini, menurut Ade, belum satu pun ada data akurat yang bisa menyatakan jelas penyebabnya. Para dokter pun belum berani menyatakan jika ini terkait dengan SARS-CoV-2.

Hepatitis akut beberapa waktu terakhir menjadi sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan kemudian menetapkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB). Kementerian Kesehatan pun telah meningkatkan kewaspadaan pada kasus hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia, dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022. Di Indonesia, pada 9 Mei lalu tercatat 15 kasus yang masih diduga hepatitis dan masih dalam proses investigasi.

“Di Indonesia, secara kasusnya memang ada yang dilaporkan. Tetapi apakah termasuk bagian kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya, masih diselidiki. Jangan melihat kasus di Indonesia sebagai kasus yang mengerikan tapi kasus yang diwaspadai,” papar Ade.

Dia berharap laporan kasus ini tidak membuat kekhawatiran berlebihan di kalangan masyarakat namun lebih pada membuat waspada.

“Mudah-mudahan ini sekadar membuat kita waspada saja, jangan sampai membuat kekhawatiran kita berlebih seperti Covid-19. Saya berharap tidak berlanjut seperti Covid-19 karena memang ini sesuatu yang perlu kewaspadaan saja,” terang Ade.

Merujuk definisi WHO, ada tiga klasifikasi terkait hepatitis akut, yakni konfirmasi yang saat ini belum ditemukan data, probable dan Epi-linked. Ade menjelaskan, dikatakan probable bila memenuhi sejumlah syarat, antara lain hepatitis akut terbukti, tidak diketahui penyebabnya, bukan penyebab hepatitis virus A, B, C, D dan E.

Kemudian, data-data yang lain seperti pemeriksaan laboratorium ditemukan SGOT atau SGPT lebih dari 500 IU/L, terjadi pada usia di bawah 16 tahun dan kasus ditemukan di atas 1 Oktober 2021. Sementara itu, dikatakan Epi-linked atau kontak erat yakni hepatitis akut di segala usia dan kontak erat dengan kasus probable di atas 1 Oktober 2021. (Antara)

RADARSOLO.ID – Penyakit hepatitis akut misterius kini memang tengah merebak di sejumlah negara, dan perlu diwaspadai sungguh-sungguh. Namun demikian, para orang tua tak perlu panik berlebihan bila menemukan gejala awal hepatitis pada anak.

“Kalau ada gejala, jangan panik. Segera bawa pasien ke puskesmas dan rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan lanjutan,” ujar dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Ade Rachmat Yudiyanto, SpA(K), MKed(Ped), Kamis (12/5).

Gejala awal hepatitis yakni diare, mual, muntah, sakit perut dan dapat disertai demam ringan. Bila gejala ini muncul, selain berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan, maka orang tua juga perlu memastikan anak beristirahat total, menjaga asupan cairan anak dan ion tubuh cukup agar tidak jatuh dalam kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan yang pada jangka panjang bisa membahayakan kesehatan. Sementara untuk makanan, tidak ada pembatasan khusus atau berpedoman pada prinsip gizi seimbang.

“Istirahat total. Semua aktivitas dilakukan di tempat tidur,” kata Ade.

Menurut Ade, orang tua sebaiknya tak menunggu gejala lanjutan muncul seperti kulit dan mata kuning hingga penurunan kesadaran, yang pada akhirnya mengharuskan pasien dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU) dan bahkan dilakukan cangkok hati.

Hepatitis merupakan radang pada sel hati. Saat ini ada parameter yang bisa digunakan untuk memastikannya, yakni enzim hati atau Alanine Aminotransferase (ALT) atau Serum Glutamate Pyruvate Trasnsaminase (SGPT) bila nilainya di atas dua kali normal.

Hepatitis bisa disebabkan infeksi dan non-infeksi. Infeksi bisa karena virus (A,B,C, D, E dan G), bakteri atau parasit, sementara non-infeksi misalnya akibat obat, racun, metabolisme.

Sementara berkaca pada kondisi saat ini, menurut Ade, belum satu pun ada data akurat yang bisa menyatakan jelas penyebabnya. Para dokter pun belum berani menyatakan jika ini terkait dengan SARS-CoV-2.

Hepatitis akut beberapa waktu terakhir menjadi sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan kemudian menetapkannya sebagai kejadian luar biasa (KLB). Kementerian Kesehatan pun telah meningkatkan kewaspadaan pada kasus hepatitis akut misterius yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia, dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022. Di Indonesia, pada 9 Mei lalu tercatat 15 kasus yang masih diduga hepatitis dan masih dalam proses investigasi.

“Di Indonesia, secara kasusnya memang ada yang dilaporkan. Tetapi apakah termasuk bagian kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya, masih diselidiki. Jangan melihat kasus di Indonesia sebagai kasus yang mengerikan tapi kasus yang diwaspadai,” papar Ade.

Dia berharap laporan kasus ini tidak membuat kekhawatiran berlebihan di kalangan masyarakat namun lebih pada membuat waspada.

“Mudah-mudahan ini sekadar membuat kita waspada saja, jangan sampai membuat kekhawatiran kita berlebih seperti Covid-19. Saya berharap tidak berlanjut seperti Covid-19 karena memang ini sesuatu yang perlu kewaspadaan saja,” terang Ade.

Merujuk definisi WHO, ada tiga klasifikasi terkait hepatitis akut, yakni konfirmasi yang saat ini belum ditemukan data, probable dan Epi-linked. Ade menjelaskan, dikatakan probable bila memenuhi sejumlah syarat, antara lain hepatitis akut terbukti, tidak diketahui penyebabnya, bukan penyebab hepatitis virus A, B, C, D dan E.

Kemudian, data-data yang lain seperti pemeriksaan laboratorium ditemukan SGOT atau SGPT lebih dari 500 IU/L, terjadi pada usia di bawah 16 tahun dan kasus ditemukan di atas 1 Oktober 2021. Sementara itu, dikatakan Epi-linked atau kontak erat yakni hepatitis akut di segala usia dan kontak erat dengan kasus probable di atas 1 Oktober 2021. (Antara)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/