alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Kembangkan lewat Marketplace: Dari Gelang ke Lifestyle dan Fashion 

RADARSOLO.ID – Pandemi jadi batu pengganjal banyak pelaku usaha untuk bertahan. Demi bisa terus berkembang banyak langkah dilakukan. Salah satunya seperti yang dijalani pelaku bisnis asal Boyolali, Zulhilmi Luthfi Ramadhan, dengan berbagai inovasi produk yang dibuatnya.

Tak ada yang menduga, usaha yang baru dirintis Zulhilmi Luthfi Ramadhan, 25, langsung dihantam pandemi Covid-19. Berbagai cara dia coba untuk memasarkan produknya. Kini, usaha rintisannya mulai berkembang.

Pemuda yang kerap disapa Hilmi ini menjadikan garasi rumahnya di Bumi Singkil Indah (BSI), Karanggeneng, Boyolali Kota, menjadi lapak. Produknya bernuansa etnik berbahan kain tenun dan kayu-kayuan. Awalnya, Hilmi memulai usahanya bersama sang istri, Jihan Magi Mahdalefi, 23, pada November 2019. Produk yang diusungnya berupa gelang tangan. Baik berbahan benang yang dirajut, maupun berbahan kain tenun.

Proses menemukan kain tenun juga tidak mudah. Awalnya dia memilih kain tenun khas Lombok, NTB ataupun tenun Kalimantan yang masih ditenun manual. Sayangnya kocek yang dikeluarkan cukup dalam. Sampai Rp 400 ribu sampai jutaan rupiah. Sudah sulit mencari pelanggan, harga modal yang cukup mahal akan berimbas pada pasar.

Hilmi lantas memiliki kain tenun dari Troso Jepara dengan harga lebih terjangkau, yakni, Rp 80ribu hingga Rp 250 ribu. Tiap lembar kain tersebut disulap menjadi gelang dengan berbagai macam model. Ketika ditanya soal pasar, dia mengamini tidak semua orang menyukai konsep etnik. Namun, penyuka konsep etnik juga tak kalah banyak.

“Dari situ saya pasarkan lewat media sosial. Awalnya laris, lalu pesanan makin menurun. Saya ingin terus berinovasi. Yakni membuat produk-produk berbahan kain tenun yang khas dengan konsep etnik. Dari situ saya membuat brand Ethnic.co,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di tokonya pada Jumat (10/9).

Sayangnya, baru memulai usahanya sudah dihantam pandemi pada Maret 2020 lalu. Penjualan menyusut drastis. Bahkan sama sekali tak ada orderan masuk. Bahkan sampai tak ada pengunjung yang datang ke tokonya.

Hilmi mulai memutar otak. Mengingat, produk-produknya, seperti tas, topi, kain tenun dan lainnya biasanya laku ketika tempat wisata dibuka. Dia terpaksa menarik barang dari reseller dari Aceh.

“Sempat pesimis, tapi memang mau gak mau harus survive. Saya melihat pandemi ada untung ruginya. Untungnya harus lebih kreatif putar otak agar bisa laku. Negatifnya barang susah terjual.  Sejak ada pandemi saya merambah penjualan lewat marketplace. Kuncinya harus konsisten. Saya pakai strategi, salah satunya free masker dan lainnya untuk tiap pembelian produknya,” ungkap salah satu pegawai di Pemkab Boyolali ini.

Marketplace cukup membantu perkembangan bisnisnya. Apalagi pengunjung marketplace terus meningkat selama pandemi. Hilmi lantas membuat inovasi baru berupa masker tenun dengan dua model earloop dan hijab. Serta dua sisi masker dengan dua motif berbeda.

“Saya termasuk telat memikirkan produk masker tenun ini. Karena baru dua bulan setelah pandemic, akhirnya baru saya buat untuk dipasarkan. Ternyata, malah produk itu yang menyelamatkan usaha saya,” jelasnya.

Hilmi mulai menekuni usahanya. Dia lantas mencari karyawan untuk membantunya. Satu dibagian produksi, satu di bagian packing dan satu di bagian admin. Termasuk dua orang lain yang membantunya mem-back up. Sedangkan pengelolaan marketplace masih di bawah kendalinya.

“Namanya pasar pasti berubah-ubah. Ditambah lagi pandemi memaksa kita harus berinovasi. Kini saya mulai lebarkan sayap ke fashion. Dari celana, baju, outer, ikat kepala, peci, dan lainnya. Meski pandemi, pendapatan bisa mencapai Rp 10-15 juta perbulan. Tapi saya tetap memikirkan kedepan, produk-produk inovasi lainnya,” katanya.

Kini, brand buatannya menjadi salah satu rujukan produk berbahan kain lurik. Konsep etnik yang diusung mampu merambah pasar tersendiri. Menjadi gaya hidup anak muda dengan kesan indie, namun tetap fashionable. (rgl/nik/dam)


RADARSOLO.ID – Pandemi jadi batu pengganjal banyak pelaku usaha untuk bertahan. Demi bisa terus berkembang banyak langkah dilakukan. Salah satunya seperti yang dijalani pelaku bisnis asal Boyolali, Zulhilmi Luthfi Ramadhan, dengan berbagai inovasi produk yang dibuatnya.

Tak ada yang menduga, usaha yang baru dirintis Zulhilmi Luthfi Ramadhan, 25, langsung dihantam pandemi Covid-19. Berbagai cara dia coba untuk memasarkan produknya. Kini, usaha rintisannya mulai berkembang.

Pemuda yang kerap disapa Hilmi ini menjadikan garasi rumahnya di Bumi Singkil Indah (BSI), Karanggeneng, Boyolali Kota, menjadi lapak. Produknya bernuansa etnik berbahan kain tenun dan kayu-kayuan. Awalnya, Hilmi memulai usahanya bersama sang istri, Jihan Magi Mahdalefi, 23, pada November 2019. Produk yang diusungnya berupa gelang tangan. Baik berbahan benang yang dirajut, maupun berbahan kain tenun.

Proses menemukan kain tenun juga tidak mudah. Awalnya dia memilih kain tenun khas Lombok, NTB ataupun tenun Kalimantan yang masih ditenun manual. Sayangnya kocek yang dikeluarkan cukup dalam. Sampai Rp 400 ribu sampai jutaan rupiah. Sudah sulit mencari pelanggan, harga modal yang cukup mahal akan berimbas pada pasar.

Hilmi lantas memiliki kain tenun dari Troso Jepara dengan harga lebih terjangkau, yakni, Rp 80ribu hingga Rp 250 ribu. Tiap lembar kain tersebut disulap menjadi gelang dengan berbagai macam model. Ketika ditanya soal pasar, dia mengamini tidak semua orang menyukai konsep etnik. Namun, penyuka konsep etnik juga tak kalah banyak.

“Dari situ saya pasarkan lewat media sosial. Awalnya laris, lalu pesanan makin menurun. Saya ingin terus berinovasi. Yakni membuat produk-produk berbahan kain tenun yang khas dengan konsep etnik. Dari situ saya membuat brand Ethnic.co,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo saat ditemui di tokonya pada Jumat (10/9).

Sayangnya, baru memulai usahanya sudah dihantam pandemi pada Maret 2020 lalu. Penjualan menyusut drastis. Bahkan sama sekali tak ada orderan masuk. Bahkan sampai tak ada pengunjung yang datang ke tokonya.

Hilmi mulai memutar otak. Mengingat, produk-produknya, seperti tas, topi, kain tenun dan lainnya biasanya laku ketika tempat wisata dibuka. Dia terpaksa menarik barang dari reseller dari Aceh.

“Sempat pesimis, tapi memang mau gak mau harus survive. Saya melihat pandemi ada untung ruginya. Untungnya harus lebih kreatif putar otak agar bisa laku. Negatifnya barang susah terjual.  Sejak ada pandemi saya merambah penjualan lewat marketplace. Kuncinya harus konsisten. Saya pakai strategi, salah satunya free masker dan lainnya untuk tiap pembelian produknya,” ungkap salah satu pegawai di Pemkab Boyolali ini.

Marketplace cukup membantu perkembangan bisnisnya. Apalagi pengunjung marketplace terus meningkat selama pandemi. Hilmi lantas membuat inovasi baru berupa masker tenun dengan dua model earloop dan hijab. Serta dua sisi masker dengan dua motif berbeda.

“Saya termasuk telat memikirkan produk masker tenun ini. Karena baru dua bulan setelah pandemic, akhirnya baru saya buat untuk dipasarkan. Ternyata, malah produk itu yang menyelamatkan usaha saya,” jelasnya.

Hilmi mulai menekuni usahanya. Dia lantas mencari karyawan untuk membantunya. Satu dibagian produksi, satu di bagian packing dan satu di bagian admin. Termasuk dua orang lain yang membantunya mem-back up. Sedangkan pengelolaan marketplace masih di bawah kendalinya.

“Namanya pasar pasti berubah-ubah. Ditambah lagi pandemi memaksa kita harus berinovasi. Kini saya mulai lebarkan sayap ke fashion. Dari celana, baju, outer, ikat kepala, peci, dan lainnya. Meski pandemi, pendapatan bisa mencapai Rp 10-15 juta perbulan. Tapi saya tetap memikirkan kedepan, produk-produk inovasi lainnya,” katanya.

Kini, brand buatannya menjadi salah satu rujukan produk berbahan kain lurik. Konsep etnik yang diusung mampu merambah pasar tersendiri. Menjadi gaya hidup anak muda dengan kesan indie, namun tetap fashionable. (rgl/nik/dam)

Populer

Berita Terbaru