alexametrics
24.5 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Punya Komorbid, Divaksin Tak Usah Takut: Vaksin Tambah Imunitas Tubuh

RADARSOLO.ID – Program vaksinasi Covid-19 terus dilakukan untuk membentuk kekebalan komunal. Namun, masih ada orang yang takut menjalani vaksinasi karena termakan berita hoax. Misalnya soal reaksi pascaimunisasi, mulai dari pusing, demam, nyeri pada tangan dan lainnya.

Wajar kalau masih ada orang yang khawatir dengan efek samping vaksinasi Covid-19. Tetapi itu hanya sesaat saja dan nanti akan hilang dengan sendirinya dengan peningkatan imunitas tubuh penerima vaksin.

Memang ada kemungkinan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang biasanya terjadi dalam kondisi tertentu. Misalkan orang dengan penyakit bawaan atau komorbid akut. Namun, dari sejumlah dokter dan tenaga medis, maupun ahli kesehatan, menyatakan secara umum vaksin Covid-19 yang diberikan kepada masyarakat baik itu Sinovac, Astrazeneca maupun Moderna, semuanya aman diberikan kepada masyarakat.

“Saat ini efektivitas pemberian vaksin yang diberikan kepada masyarakat sudah cukup bagus. Pada Agustus lalu, saya melihat kasus naik hampir 180 derajat, kemudian turun. Faktor penurunan kasus itu salah satunya adalah pemberian vaksin itu,” terang dokter Coana Sukma Gautama dari Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret.

Dikatakan Coana,  yang merupakan salah satu spesialis dokter penyakit dalam ini, pembentukan antibodi di dalam tubuh bisa dilakukan dengan dua cara yakni vaksinasi secara alamiah dan buatan. Vaksinasi alamiah ini yakni bila orang yang terkena Covid-19, kemudian dalam jangka waktu tertentu bisa sembuh, maka anti bodi telah mendapatkan vaksinasi secara alamiah. Sedangkan antibodi yang dibuat, yakni dengan cara memberikan vaksinasi.

Soal jenis vaksin, menurut ketua vaksinasi RS UNS ini, semua sangat aman. Bila ada reaksi yang ditimbulkan setelah vaksin, bisa karena beberapa hal. Seperti adanya kerusakan saat penyimpanan, ataupun faktor lain yang berisiko terhadap masyarakat yang divaksin. Atau kondisi kesehatan yang divaksin sedang kurang vit.

“Kalau soal penyuntikan saya kita teman-teman medis semua sudah paham,” jelasnya.

Tak hanya itu, kondisi psikis masyarakat untuk menerima vaksinasi juga sangat berpengaruh terhadap reaksi vaksin. Bila masyarakat takut atau cemas, kemudian tensi darah tinggi bisa menimbulkan KIPI.  “Maka dari itu ada proses yang namanya skrining,” imbuhnya.

Bagi yang memiliki penyakit bawaan atau komorbit, Coana menjelaskan, sebenarnya mereka masih bisa divaksin. Syaratnya, penyakit bawaanya tersebut masih bisa terkontrol.

“Misal memiliki penyakit gula, jantung dan mengalami penurunan imunitas, itu bisa mendapatkan vaksin. Tidak usah takut, karena kami di perhimpunan penyakit dalam, sudah membuat rekomendasi atau rambu–rambu yang nanti untuk rekomendasi dalam pemberian vaksin,” ujarnya. (rud/bun/dam)


RADARSOLO.ID – Program vaksinasi Covid-19 terus dilakukan untuk membentuk kekebalan komunal. Namun, masih ada orang yang takut menjalani vaksinasi karena termakan berita hoax. Misalnya soal reaksi pascaimunisasi, mulai dari pusing, demam, nyeri pada tangan dan lainnya.

Wajar kalau masih ada orang yang khawatir dengan efek samping vaksinasi Covid-19. Tetapi itu hanya sesaat saja dan nanti akan hilang dengan sendirinya dengan peningkatan imunitas tubuh penerima vaksin.

Memang ada kemungkinan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang biasanya terjadi dalam kondisi tertentu. Misalkan orang dengan penyakit bawaan atau komorbid akut. Namun, dari sejumlah dokter dan tenaga medis, maupun ahli kesehatan, menyatakan secara umum vaksin Covid-19 yang diberikan kepada masyarakat baik itu Sinovac, Astrazeneca maupun Moderna, semuanya aman diberikan kepada masyarakat.

“Saat ini efektivitas pemberian vaksin yang diberikan kepada masyarakat sudah cukup bagus. Pada Agustus lalu, saya melihat kasus naik hampir 180 derajat, kemudian turun. Faktor penurunan kasus itu salah satunya adalah pemberian vaksin itu,” terang dokter Coana Sukma Gautama dari Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret.

Dikatakan Coana,  yang merupakan salah satu spesialis dokter penyakit dalam ini, pembentukan antibodi di dalam tubuh bisa dilakukan dengan dua cara yakni vaksinasi secara alamiah dan buatan. Vaksinasi alamiah ini yakni bila orang yang terkena Covid-19, kemudian dalam jangka waktu tertentu bisa sembuh, maka anti bodi telah mendapatkan vaksinasi secara alamiah. Sedangkan antibodi yang dibuat, yakni dengan cara memberikan vaksinasi.

Soal jenis vaksin, menurut ketua vaksinasi RS UNS ini, semua sangat aman. Bila ada reaksi yang ditimbulkan setelah vaksin, bisa karena beberapa hal. Seperti adanya kerusakan saat penyimpanan, ataupun faktor lain yang berisiko terhadap masyarakat yang divaksin. Atau kondisi kesehatan yang divaksin sedang kurang vit.

“Kalau soal penyuntikan saya kita teman-teman medis semua sudah paham,” jelasnya.

Tak hanya itu, kondisi psikis masyarakat untuk menerima vaksinasi juga sangat berpengaruh terhadap reaksi vaksin. Bila masyarakat takut atau cemas, kemudian tensi darah tinggi bisa menimbulkan KIPI.  “Maka dari itu ada proses yang namanya skrining,” imbuhnya.

Bagi yang memiliki penyakit bawaan atau komorbit, Coana menjelaskan, sebenarnya mereka masih bisa divaksin. Syaratnya, penyakit bawaanya tersebut masih bisa terkontrol.

“Misal memiliki penyakit gula, jantung dan mengalami penurunan imunitas, itu bisa mendapatkan vaksin. Tidak usah takut, karena kami di perhimpunan penyakit dalam, sudah membuat rekomendasi atau rambu–rambu yang nanti untuk rekomendasi dalam pemberian vaksin,” ujarnya. (rud/bun/dam)

Populer

Berita Terbaru