alexametrics
23.6 C
Surakarta
Tuesday, 28 September 2021

Sugar Glider, Si Mungil Asli Papua yang Makin Digemari

RADARSOLO.ID – Sugar Glider jadi salah satu hewan peliharaan paling populer beberapa tahun terakhir. Ukurannya yang kecil dan mudah dibawa, menjadikan mamalia asli Papua ini jadi incaran pecinta hewan eksotis.

Salah seorang yang memeliharanya adalah Muhammad Nursolihin, 30. Dia langsung jatuh hati kala melihat atraksi Sugar Glider di gelaran Solo car free day Slamet Riyadi pada 2018 silam. Terlebih hewan berkantung ini meloncat dari ketinggian ke si pemiliknya. Solihin langsung beli dua ekor dengan merogoh kocek Rp 700 ribu.

”Beli jenis Classic Grey (jenis paling umum yang dipelihara,Red). Awalnya saya pikir sama dengan bajing loncat, ternyata memang beda. Mungkin karena banyak yang belum tahu saja jadi menilai Sugar Glider ini sama dengan bajing loncat,” kata dia.

Sugar Glider termasuk hewan jinak dan bisa dilatih. Selain itu bisa melayang di udara. Melihat namanya, sugar berarti gula dan glider berarti meluncur. Artinya hewan yang menyukai makanan manis dan gemar meluncur. Di habitat aslinya sering meluncur dari pohon ke pohon, entah untuk cari makan atau untuk menghindari predator.

”Kalau orang awam memang masih menganggap Sugar Glider sama dengan bajing loncat maupun tupai. Jadi di bagian kaki depan dan kaki belakang ini ada semacam selaput kulit yang bisa melar untuk membantu dia meluncur diketinggian. Nah, kemampuan ini yang kadang membuat banyak orang menyamakan antara sugar glider dan bajing loncat,” terang Solihin.

Soal perbedaan Sugar Glider dengan Bajing Loncat atau Tupai Terbang di Indonesia, sambung dia, terletak hampir di semua hal. Mulai dari bentuk kepala, ukuran tubuh, corak, hingga ekor masing-masingnya. Suglar Glider termasuk jenis marsupialia (hewan berkantung seperti kangguru, dan sejenisnya,Red). Sementara bajing loncat atau tupai terbang itu masuk ke jenis hewan pengerat (seperti tikus dan lain sebagainya, Red).

”Selain itu bentuk tubuh Sugar Glider mulai dari kepala hingga ekor berbeda dengan bajing loncat. Sugar Glider memiliki garis pola dan corak yang kas dengan ekor lebih panjang dan berisi. Sementara bajing loncat itu polos dengan ekor pipih dan berbulu lebat,” beber dia.

Sugar Glider yang sudah terlatih tidak akan pergi meninggalkan si pemilik sekalipun dilepas tanpa tali pengikat dan sebagainya. Yang perlu dipahami adalah bagaimana proses melatihnya agar hewan yang memiliki nama lattin Petaurus Brevicep ini tidak takut dengan manusia.

”Untuk itu pilih yang sudah berusia 2-3 bulan, karena lebih mudah dilatih. Cukup sering dipegang, disuapin waktu makan, dilatih di lengan, dan nanti kalau sudah akrab bisa mulai belajar trik seperti memanjat, merambat tali, sampai loncat go to owner,” beber Solihin.

Selain itu tidak menuntut perawatan khusus. Terpenting menjaga kebersihan kandang seminggu sekali. Ukuran kandangnya tak harus besar, selama masih longgar untuk bergerak dan bisa dipasangi pouch (kantong tidur khusus,Red). Soal pakan, cukup diberi buah-buahan manis dan jangkrik atau ulat hongkong untuk selingannya. Alternatif lainnya bubur bayi segala merek.

”Untuk anakan biasanya satu apel itu habis 2-3 hari, kalau dewasa satu apel sehari. Untuk takaran bubur bayinya, satu saset ukuran kecil itu bisa untuk 2-3 hari buat anakan, kalau untuk dewasa satu saset kecil habis sehari. Biasanya diberi makannya itu waktu pagi dan malam saja,” kata Solihin.

Yang bikin tambah kesengsem, Sugar Glider  bisa dibanderol seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Seperti jenis Classic Grey Rp 350 ribu, sementara jenis albino dan lainnya bisa sampai jutaan rupiah.

”Untuk pengembangbiakan, si jantan dan si betina dikenalkan dulu biar tidak berantem dan saling menyakiti. Caranya si betina dimasukkan ke dalam kandang ukuran kecil dan ditempatkan di dalam kandang si jantan selama beberapa hari. Kalau aman-aman saja artinya mereka cocok dan siap dikawinkan,” tandas Solihin. (ves/adi/dam)


RADARSOLO.ID – Sugar Glider jadi salah satu hewan peliharaan paling populer beberapa tahun terakhir. Ukurannya yang kecil dan mudah dibawa, menjadikan mamalia asli Papua ini jadi incaran pecinta hewan eksotis.

Salah seorang yang memeliharanya adalah Muhammad Nursolihin, 30. Dia langsung jatuh hati kala melihat atraksi Sugar Glider di gelaran Solo car free day Slamet Riyadi pada 2018 silam. Terlebih hewan berkantung ini meloncat dari ketinggian ke si pemiliknya. Solihin langsung beli dua ekor dengan merogoh kocek Rp 700 ribu.

”Beli jenis Classic Grey (jenis paling umum yang dipelihara,Red). Awalnya saya pikir sama dengan bajing loncat, ternyata memang beda. Mungkin karena banyak yang belum tahu saja jadi menilai Sugar Glider ini sama dengan bajing loncat,” kata dia.

Sugar Glider termasuk hewan jinak dan bisa dilatih. Selain itu bisa melayang di udara. Melihat namanya, sugar berarti gula dan glider berarti meluncur. Artinya hewan yang menyukai makanan manis dan gemar meluncur. Di habitat aslinya sering meluncur dari pohon ke pohon, entah untuk cari makan atau untuk menghindari predator.

”Kalau orang awam memang masih menganggap Sugar Glider sama dengan bajing loncat maupun tupai. Jadi di bagian kaki depan dan kaki belakang ini ada semacam selaput kulit yang bisa melar untuk membantu dia meluncur diketinggian. Nah, kemampuan ini yang kadang membuat banyak orang menyamakan antara sugar glider dan bajing loncat,” terang Solihin.

Soal perbedaan Sugar Glider dengan Bajing Loncat atau Tupai Terbang di Indonesia, sambung dia, terletak hampir di semua hal. Mulai dari bentuk kepala, ukuran tubuh, corak, hingga ekor masing-masingnya. Suglar Glider termasuk jenis marsupialia (hewan berkantung seperti kangguru, dan sejenisnya,Red). Sementara bajing loncat atau tupai terbang itu masuk ke jenis hewan pengerat (seperti tikus dan lain sebagainya, Red).

”Selain itu bentuk tubuh Sugar Glider mulai dari kepala hingga ekor berbeda dengan bajing loncat. Sugar Glider memiliki garis pola dan corak yang kas dengan ekor lebih panjang dan berisi. Sementara bajing loncat itu polos dengan ekor pipih dan berbulu lebat,” beber dia.

Sugar Glider yang sudah terlatih tidak akan pergi meninggalkan si pemilik sekalipun dilepas tanpa tali pengikat dan sebagainya. Yang perlu dipahami adalah bagaimana proses melatihnya agar hewan yang memiliki nama lattin Petaurus Brevicep ini tidak takut dengan manusia.

”Untuk itu pilih yang sudah berusia 2-3 bulan, karena lebih mudah dilatih. Cukup sering dipegang, disuapin waktu makan, dilatih di lengan, dan nanti kalau sudah akrab bisa mulai belajar trik seperti memanjat, merambat tali, sampai loncat go to owner,” beber Solihin.

Selain itu tidak menuntut perawatan khusus. Terpenting menjaga kebersihan kandang seminggu sekali. Ukuran kandangnya tak harus besar, selama masih longgar untuk bergerak dan bisa dipasangi pouch (kantong tidur khusus,Red). Soal pakan, cukup diberi buah-buahan manis dan jangkrik atau ulat hongkong untuk selingannya. Alternatif lainnya bubur bayi segala merek.

”Untuk anakan biasanya satu apel itu habis 2-3 hari, kalau dewasa satu apel sehari. Untuk takaran bubur bayinya, satu saset ukuran kecil itu bisa untuk 2-3 hari buat anakan, kalau untuk dewasa satu saset kecil habis sehari. Biasanya diberi makannya itu waktu pagi dan malam saja,” kata Solihin.

Yang bikin tambah kesengsem, Sugar Glider  bisa dibanderol seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Seperti jenis Classic Grey Rp 350 ribu, sementara jenis albino dan lainnya bisa sampai jutaan rupiah.

”Untuk pengembangbiakan, si jantan dan si betina dikenalkan dulu biar tidak berantem dan saling menyakiti. Caranya si betina dimasukkan ke dalam kandang ukuran kecil dan ditempatkan di dalam kandang si jantan selama beberapa hari. Kalau aman-aman saja artinya mereka cocok dan siap dikawinkan,” tandas Solihin. (ves/adi/dam)

Populer

Berita Terbaru