alexametrics
21.2 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

Kecanduan Media Sosial Bisa Picu Fear of Missing Out (FoMO)?

Di era yang serba digital seperti sekarang, menggunakan media sosial sudah menjadi ‘makanan’ yang sehari-hari kita konsumsi.

Bak belati bermata dua, media sosial membawa dampak bagi kehidupan manusia. Positifnya, media sosial merupakan media termurah dalam mengakses dan menyebarkan dengan cepat berbagai macam informasi secara real time mengenai berbagai macam aktivitas, kegiatan orang lain, dan topik-topik yang sedang terjadi. Serta wadah untuk aktif berkomunikasi antar teman.

Sementara dampak negatifnya, manusia menjadi semakin berkurang melakukan interaksi sosial interpersonal, baik secara langsung maupun bertatap muka. Munculnya persoalan etika dan hukum karena beredarnya konten-konten negatif yang melanggar moral, privasi dan peraturan, serta menimbulkan kecanduan yang berlebihan terhadap media sosial.

Dikutip dari laman katadata, pada tahun 2020, rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk mengakses media sosial selama 3 jam 26 menit. Total pengguna aktif media sosial seperti Youtube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, dan sebagainya sebanyak 160 juta atau 59% dari total penduduk Indonesia.

99% pengguna media sosial berselancar melalui ponsel. Hal ini membuat media sosial menjadi suatu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.

Media sosial yang lebih sering dilakukan dengan keadaan online ke jaringan internet membuat penggunanya begitu kecanduan dengan fitur-fitur menarik yang berada di dalam situs-situs tertentu.

Kegiatan ini berawal dari kebiasaan yang dilakukan selama beberapa waktu dengan alasan kenyamanan perasaan saat mengakses media sosial. Sebagian individu menggunakan internet dan media sosial hanya untuk mengerjakan tugas atau aktivitas yang dianggapnya penting. Namun, beberapa notification dari media sosial dapat mengganggu aktivitas yang sedang dikerjakan karena secara tidak langsung akan langsung membuka pesan tersebut.

Menurut penelitian Beranuy, dkk., salah satu jenis kecanduan media sosial yaitu melakukan hubungan pertemanan melalui media sosial, bentuknya dapat berupa kecanduan media sosial karena, tujuan dan motivasi utama individu menggunakan media sosial untuk membangun dan mempertahankan hubungan secara online.

Setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, orang berbondong-bondong menyajikan atau berusaha menjadi yang pertama untuk update informasi tertentu. Hal ini dilakukan terus menerus, tanpa menyadari bahwa hal tersebut menyebabkan sebuah lingkaran kecanduan media sosial dalam hidup mereka.

Istilah penyebutan Fear Of Missing Out pertama kali dikemukaan oleh seorang ilmuwan asal Britania Raya bernama Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013, dan sejak saat itu sudah tercantum di kamus Oxford.

Fear of Missing Out yang biasa disingkat FoMO merupakan sebuah perasaan atau persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau memiliki pengalaman yang lebih baik dibanding Anda.

Selain takut ketinggalan berita di media sosial, mereka yang terkena sindrom FoMO juga kadang sengaja memasang gambar, tulisan, atau bahkan mempromosikan diri yang belum tentu jujur hanya demi terlihat update.

Ironisnya, hal ini bisa dianggap sebagai cari sensasi dan kebahagiaan mereka di media sosial palsu. Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, seseorang bisa sangat takut dan cemas bila tidak terhubung dengan akunnya walau hanya beberapa menit. Perasaan ini dapat berlaku bagi siapa saja. Lalu, bisa membuat Anda selalu merasa tidak berdaya dan melewatkan sesuatu yang besar.

Fear of missing out menimbulkan perasaan kehilangan, stres, dan merasa jauh jika tidak mengetahui peristiwa penting individu atau kelompok lain. Hal ini didasarkan pada pandangan determinasi sosial bahwa media sosial memberikan efek pemberian pembanding antara individu mengenai tingkat kesejahteraan serta persepsi kebahagiaan menurut individu lain.

Secara psikologis, fenomena FoMO dapat dijelaskan melalui self determination theory. Przybylski, dkk. dalam penelitiannya menemukan adanya pengaruh kepuasan kebutuhan dasar psikologis terhadap FoMO.

Secara universal, terdapat tiga kebutuhan psikologis yang menjadi motivasi dasar seseorang memilih untuk melakukan sesuatu yang apabila terpenuhi dapat membantu proses pertumbuhan dan optimalisasi fungsi seseorang sebagai manusia.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan autonomy yaitu kebutuhan individu untuk dapat memiliki kehendak dan bebas menentukan pilihan saat beraktivitas. Competence yaitu kebutuhan untuk mampu mengatur diri dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif. Dan relatedness adalah kebutuhan individu untuk dipahami, diapresiasi, memiliki ikatan, berhubungan, dan saling peduli dengan orang lain.

Berikut adalah cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi FoMO yang dikemukakan oleh Martha Beck, seorang sosiolog yang sebelumnya didiagnosa mengalami FoMO pada tahun 2014:

  1. Sadarilah bahwa FoMO didasarkan pada sebuah kebohongan, seseorang yang memposting aktivitasnya di situs media sosial telah memilih bagian mana dari aktivitas tersebut yang akan dibagikan.
  2. Lawan FoMO dengan mengubah pola pikir, sseorang dapat memakai diksi yang berbeda. Misalnya FoMO yang dimaksud adalah ‘Feel okay more often’.
  3. Memutuskan untuk berhenti, kurangi waktu penggunaan media sosial dan sadari bahwa berinteraksi secara langsung lebih menyenangkan daripada melalui media sosial (Kartika/Dan)

Di era yang serba digital seperti sekarang, menggunakan media sosial sudah menjadi ‘makanan’ yang sehari-hari kita konsumsi.

Bak belati bermata dua, media sosial membawa dampak bagi kehidupan manusia. Positifnya, media sosial merupakan media termurah dalam mengakses dan menyebarkan dengan cepat berbagai macam informasi secara real time mengenai berbagai macam aktivitas, kegiatan orang lain, dan topik-topik yang sedang terjadi. Serta wadah untuk aktif berkomunikasi antar teman.

Sementara dampak negatifnya, manusia menjadi semakin berkurang melakukan interaksi sosial interpersonal, baik secara langsung maupun bertatap muka. Munculnya persoalan etika dan hukum karena beredarnya konten-konten negatif yang melanggar moral, privasi dan peraturan, serta menimbulkan kecanduan yang berlebihan terhadap media sosial.

Dikutip dari laman katadata, pada tahun 2020, rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk mengakses media sosial selama 3 jam 26 menit. Total pengguna aktif media sosial seperti Youtube, WhatsApp, Facebook, Instagram, Twitter, dan sebagainya sebanyak 160 juta atau 59% dari total penduduk Indonesia.

99% pengguna media sosial berselancar melalui ponsel. Hal ini membuat media sosial menjadi suatu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.

Media sosial yang lebih sering dilakukan dengan keadaan online ke jaringan internet membuat penggunanya begitu kecanduan dengan fitur-fitur menarik yang berada di dalam situs-situs tertentu.

Kegiatan ini berawal dari kebiasaan yang dilakukan selama beberapa waktu dengan alasan kenyamanan perasaan saat mengakses media sosial. Sebagian individu menggunakan internet dan media sosial hanya untuk mengerjakan tugas atau aktivitas yang dianggapnya penting. Namun, beberapa notification dari media sosial dapat mengganggu aktivitas yang sedang dikerjakan karena secara tidak langsung akan langsung membuka pesan tersebut.

Menurut penelitian Beranuy, dkk., salah satu jenis kecanduan media sosial yaitu melakukan hubungan pertemanan melalui media sosial, bentuknya dapat berupa kecanduan media sosial karena, tujuan dan motivasi utama individu menggunakan media sosial untuk membangun dan mempertahankan hubungan secara online.

Setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, orang berbondong-bondong menyajikan atau berusaha menjadi yang pertama untuk update informasi tertentu. Hal ini dilakukan terus menerus, tanpa menyadari bahwa hal tersebut menyebabkan sebuah lingkaran kecanduan media sosial dalam hidup mereka.

Istilah penyebutan Fear Of Missing Out pertama kali dikemukaan oleh seorang ilmuwan asal Britania Raya bernama Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013, dan sejak saat itu sudah tercantum di kamus Oxford.

Fear of Missing Out yang biasa disingkat FoMO merupakan sebuah perasaan atau persepsi bahwa orang lain lebih bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau memiliki pengalaman yang lebih baik dibanding Anda.

Selain takut ketinggalan berita di media sosial, mereka yang terkena sindrom FoMO juga kadang sengaja memasang gambar, tulisan, atau bahkan mempromosikan diri yang belum tentu jujur hanya demi terlihat update.

Ironisnya, hal ini bisa dianggap sebagai cari sensasi dan kebahagiaan mereka di media sosial palsu. Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, seseorang bisa sangat takut dan cemas bila tidak terhubung dengan akunnya walau hanya beberapa menit. Perasaan ini dapat berlaku bagi siapa saja. Lalu, bisa membuat Anda selalu merasa tidak berdaya dan melewatkan sesuatu yang besar.

Fear of missing out menimbulkan perasaan kehilangan, stres, dan merasa jauh jika tidak mengetahui peristiwa penting individu atau kelompok lain. Hal ini didasarkan pada pandangan determinasi sosial bahwa media sosial memberikan efek pemberian pembanding antara individu mengenai tingkat kesejahteraan serta persepsi kebahagiaan menurut individu lain.

Secara psikologis, fenomena FoMO dapat dijelaskan melalui self determination theory. Przybylski, dkk. dalam penelitiannya menemukan adanya pengaruh kepuasan kebutuhan dasar psikologis terhadap FoMO.

Secara universal, terdapat tiga kebutuhan psikologis yang menjadi motivasi dasar seseorang memilih untuk melakukan sesuatu yang apabila terpenuhi dapat membantu proses pertumbuhan dan optimalisasi fungsi seseorang sebagai manusia.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan autonomy yaitu kebutuhan individu untuk dapat memiliki kehendak dan bebas menentukan pilihan saat beraktivitas. Competence yaitu kebutuhan untuk mampu mengatur diri dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif. Dan relatedness adalah kebutuhan individu untuk dipahami, diapresiasi, memiliki ikatan, berhubungan, dan saling peduli dengan orang lain.

Berikut adalah cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi FoMO yang dikemukakan oleh Martha Beck, seorang sosiolog yang sebelumnya didiagnosa mengalami FoMO pada tahun 2014:

  1. Sadarilah bahwa FoMO didasarkan pada sebuah kebohongan, seseorang yang memposting aktivitasnya di situs media sosial telah memilih bagian mana dari aktivitas tersebut yang akan dibagikan.
  2. Lawan FoMO dengan mengubah pola pikir, sseorang dapat memakai diksi yang berbeda. Misalnya FoMO yang dimaksud adalah ‘Feel okay more often’.
  3. Memutuskan untuk berhenti, kurangi waktu penggunaan media sosial dan sadari bahwa berinteraksi secara langsung lebih menyenangkan daripada melalui media sosial (Kartika/Dan)

Populer

Berita Terbaru