alexametrics
21.2 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

Tetap Luangkan Breaktime di Sela WFH, Cegah Stres Hadapi Pandemi

RADARSOLO.ID – Psikolog klinis dari Angsamerah Institution Inez Kristanti mengatakan, memberi jeda waktu atau breaktime dapat dilakukan seseorang untuk meringankan beban pikiran dan menekan potensi masalah kesehatan mental pada masa pandemi ini.

“Bekerja dari rumah telah mengaburkan garis waktu kita untuk beristirahat dan kembali bekerja. Sangat penting untuk bisa mengalokasikan waktu yang cukup bagi diri kita sendiri untuk beristirahat dan recharge,” tutur Inez dalam diskusi daring terkait kesehatan mental antarpasangan pada Jumat (16/7).

Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia ini, tubuh dapat memberikan sinyal bahwa kondisinya sudah merasakan letih dan lelah. Namun bila diabaikan, justru akan memicu stres.

“Waktu istirahat tidak harus memakan waktu lama. Yang penting memang didedikasikan untuk rehat,” jelas Inez.

Bentuk jeda waktu atau breaktime untuk tiap orang bisa berbeda-beda. Sebagian orang bisa melepaskan rasa stres dengan berolahraga, memasak, menonton film atau bercengkrama dengan orang tersayang. Meski bentuk breaktime bisa bervariasi untuk tiap-tiap orang, namun yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitas.

“Percuma sebanyak apapun waktu jeda yang kita punya, tapi kita tidak pergunakan dengan maksimal. Badan bisa rebahan, tapi otak tetap bekerja itu sama saja bohong,” tegas Inez.

Untuk yang sudah berpasangan, breaktime bisa menjadi alternatif untuk melakukan aktivitas yang berbeda dari biasanya. Selain untuk melepas stres masing-masing, breaktime ini juga bisa kembali merekatkan hubungan pasangan yang bisa jadi renggang akibat kesibukan masing-masing saat work from home (WFH).

“Sekedar mengobrol dari hati ke hati, masak lalu makan bersama, atau nonton film. Hal-hal sederhana tapi bermakna,” kata Inez.

Sementara untuk mereka yang sudah memiliki buah hati, ada baiknya memperhatikan kebutuhan emosi anak. Tidak sekadar fisik seperti makan dan kebersihan pribadi. Inez menjelaskan, meskipun masih tergolong usia muda, anak-anak juga memiliki perasaan dan dapat merasa tertekan atau stres.

“Ajari anak untuk mengenali perasaannya. Kalau anak sudah bisa diajak berkomunikasi cobalah tanya bagaimana perasaannya, ngobrol sambil bermain bersama anak. Ini tampak sepele, tapi inilah jeda waktu untuk anak,” jelas Inez.

Namun bila anak belum dapat diajak berkomunikasi, coba untuk meluangkan waktu dengan bermain bersama anak. Bukan justru memegang dan memperhatikan gawai, Inez mengatakan untuk coba memperhatikan ekspresi anak sambil mengajaknya ngobrol tatkala bermain. (Antara)


RADARSOLO.ID – Psikolog klinis dari Angsamerah Institution Inez Kristanti mengatakan, memberi jeda waktu atau breaktime dapat dilakukan seseorang untuk meringankan beban pikiran dan menekan potensi masalah kesehatan mental pada masa pandemi ini.

“Bekerja dari rumah telah mengaburkan garis waktu kita untuk beristirahat dan kembali bekerja. Sangat penting untuk bisa mengalokasikan waktu yang cukup bagi diri kita sendiri untuk beristirahat dan recharge,” tutur Inez dalam diskusi daring terkait kesehatan mental antarpasangan pada Jumat (16/7).

Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia ini, tubuh dapat memberikan sinyal bahwa kondisinya sudah merasakan letih dan lelah. Namun bila diabaikan, justru akan memicu stres.

“Waktu istirahat tidak harus memakan waktu lama. Yang penting memang didedikasikan untuk rehat,” jelas Inez.

Bentuk jeda waktu atau breaktime untuk tiap orang bisa berbeda-beda. Sebagian orang bisa melepaskan rasa stres dengan berolahraga, memasak, menonton film atau bercengkrama dengan orang tersayang. Meski bentuk breaktime bisa bervariasi untuk tiap-tiap orang, namun yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitas.

“Percuma sebanyak apapun waktu jeda yang kita punya, tapi kita tidak pergunakan dengan maksimal. Badan bisa rebahan, tapi otak tetap bekerja itu sama saja bohong,” tegas Inez.

Untuk yang sudah berpasangan, breaktime bisa menjadi alternatif untuk melakukan aktivitas yang berbeda dari biasanya. Selain untuk melepas stres masing-masing, breaktime ini juga bisa kembali merekatkan hubungan pasangan yang bisa jadi renggang akibat kesibukan masing-masing saat work from home (WFH).

“Sekedar mengobrol dari hati ke hati, masak lalu makan bersama, atau nonton film. Hal-hal sederhana tapi bermakna,” kata Inez.

Sementara untuk mereka yang sudah memiliki buah hati, ada baiknya memperhatikan kebutuhan emosi anak. Tidak sekadar fisik seperti makan dan kebersihan pribadi. Inez menjelaskan, meskipun masih tergolong usia muda, anak-anak juga memiliki perasaan dan dapat merasa tertekan atau stres.

“Ajari anak untuk mengenali perasaannya. Kalau anak sudah bisa diajak berkomunikasi cobalah tanya bagaimana perasaannya, ngobrol sambil bermain bersama anak. Ini tampak sepele, tapi inilah jeda waktu untuk anak,” jelas Inez.

Namun bila anak belum dapat diajak berkomunikasi, coba untuk meluangkan waktu dengan bermain bersama anak. Bukan justru memegang dan memperhatikan gawai, Inez mengatakan untuk coba memperhatikan ekspresi anak sambil mengajaknya ngobrol tatkala bermain. (Antara)

Populer

Berita Terbaru