alexametrics
21.2 C
Surakarta
Wednesday, 28 July 2021

Handycraft Ecoprint Buatan Siswa SMA, Pakai Pewarna Alami dari Daun

Keindahan kerajinan tangan atau handycraft, salah satunya muncul dari hasil akhir pewarnaan. Sayang, mayoritas perajin masih pakai pewarna kimiawi yang berpotensi merusak lingkungan. Tapi tidak dengan Izzulhaq Ath Thoriq, siswa SMAN 5 Surakarta lewat metode ecoprint.

IDE membuat handycraft ramah lingkungan, muncul di benak Thoriq saat hendak mengikuti Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2020. Siswa kelas XII ini membikin tas, sandal, dan tumbler dengan teknik ecoprint. Yakni teknik pemberian motif dan pewarnaan, dengan bahan alami. Salah satu contoh bahan alami itu adalah daun. Cara ini dinilai ramah lingkungan dan hemat air.

Bahan yang dipakai untuk produk tas, sandal, atau tumbler, bisa kain atau kulit. Namun Thoriq lebih memilih pakai kain mori putih. Namun, sesekali pernah mencoba pakai kain sutera, katun, linen, rayon, hingga rami.

Produk tersebut diberi motif dan warna dari daun. Jenis daunnya bebas. Dengan catatan, bisa mengeluarkan warna, motif bagus, dan mengandung tanin. “Biasanya pakai daun jati, jarak, kenikir, dan waru,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Cara membikinnya cukup sederhana. Bersihkan bahan dasar terlebih dulu untuk menghilangkan kotoran, lilin, minyak yang menempel, dan sebagainya. Pastikan ukuran bahan dasar sudah disiapkan. Lalu mordanting untuk buka pori-porinya agar warna alami terserap maksimal. Biasanya pakai Turkey red oil, soda abu, dan tawas.

Selanjutnya, kain dan kulit diletakkan pada lapisan plastik. Susun daun untuk membuat pola atau motifnya. Setelah itu, letakkan kain yang sudah diberi pewarna ke atas motif. Gulung kain dengan plastik. Lalu tali permukaannya agar tidak kemasukan air dan motifnya tidak rusak. Untuk botol tumbler, bisa diselotip untuk merekatkan daun.

“Selanjutnya, gulungan kain dikukus sekitar 90 menit. Lalu diamkan minimal tiga hari. Setelah itu, fiksasi warna pakai larutan tawas, kapur, atau tunjung. Ini merupakan proses penguncian zat warna. Finalnya, kain dicuci dengan larutan biji lerak atau shampo. Baru dijemur,” ujarnya.

Aneka dedaunan untuk pewarna ecoprint. (ISTIMEWA)

Kendala yang sering ditemui Thoriq, yakni warna daun tidak muncul. Problem lainnya, yakni ketika ecoprint sandal atau sepatu. Sebab jika kelamaan dikukus, lapisan kulit berkerut. “Karena itu timing-nya harus pas,” ujar pemuda kelahiran Karanganyar, 20 Desember 2003 ini.

Ke depannya, Thoriq ingin bikin inovasi lagi. Yakni menggunakan motif ecoprint khas Solo dari daun talok. Dia ingin membikin motif batik kawung dengan sisi geometris.

“Idenya ada, tapi belum dicoba. Rencana mungkin setelah PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat),” papar putra pasangan Suparyanto-Dian Ekawati tersebut.

Sementara itu, guru pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 5 Surakarta Qatrunnada Salsabila Putri menambahkan, ecoprint tersebut terbilang sederhana. Namun sangat ramah lingkungan. Karena mereduksi pencemaran air selama proses pewarnaan.

“Misal batik tradisional, kan banyak pakai bahan kimianya. Prosesnya juga butuh banyak air. Sedangkan kalai pakai teknik ecoprint, lebih hemat air dan tidak mencemari. Sementara ini baru motif abstrak. Semoga ke depan bisa bikin motif batik dari ecoprint,” harapnya. (nis/fer)


Keindahan kerajinan tangan atau handycraft, salah satunya muncul dari hasil akhir pewarnaan. Sayang, mayoritas perajin masih pakai pewarna kimiawi yang berpotensi merusak lingkungan. Tapi tidak dengan Izzulhaq Ath Thoriq, siswa SMAN 5 Surakarta lewat metode ecoprint.

IDE membuat handycraft ramah lingkungan, muncul di benak Thoriq saat hendak mengikuti Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2020. Siswa kelas XII ini membikin tas, sandal, dan tumbler dengan teknik ecoprint. Yakni teknik pemberian motif dan pewarnaan, dengan bahan alami. Salah satu contoh bahan alami itu adalah daun. Cara ini dinilai ramah lingkungan dan hemat air.

Bahan yang dipakai untuk produk tas, sandal, atau tumbler, bisa kain atau kulit. Namun Thoriq lebih memilih pakai kain mori putih. Namun, sesekali pernah mencoba pakai kain sutera, katun, linen, rayon, hingga rami.

Produk tersebut diberi motif dan warna dari daun. Jenis daunnya bebas. Dengan catatan, bisa mengeluarkan warna, motif bagus, dan mengandung tanin. “Biasanya pakai daun jati, jarak, kenikir, dan waru,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Cara membikinnya cukup sederhana. Bersihkan bahan dasar terlebih dulu untuk menghilangkan kotoran, lilin, minyak yang menempel, dan sebagainya. Pastikan ukuran bahan dasar sudah disiapkan. Lalu mordanting untuk buka pori-porinya agar warna alami terserap maksimal. Biasanya pakai Turkey red oil, soda abu, dan tawas.

Selanjutnya, kain dan kulit diletakkan pada lapisan plastik. Susun daun untuk membuat pola atau motifnya. Setelah itu, letakkan kain yang sudah diberi pewarna ke atas motif. Gulung kain dengan plastik. Lalu tali permukaannya agar tidak kemasukan air dan motifnya tidak rusak. Untuk botol tumbler, bisa diselotip untuk merekatkan daun.

“Selanjutnya, gulungan kain dikukus sekitar 90 menit. Lalu diamkan minimal tiga hari. Setelah itu, fiksasi warna pakai larutan tawas, kapur, atau tunjung. Ini merupakan proses penguncian zat warna. Finalnya, kain dicuci dengan larutan biji lerak atau shampo. Baru dijemur,” ujarnya.

Aneka dedaunan untuk pewarna ecoprint. (ISTIMEWA)

Kendala yang sering ditemui Thoriq, yakni warna daun tidak muncul. Problem lainnya, yakni ketika ecoprint sandal atau sepatu. Sebab jika kelamaan dikukus, lapisan kulit berkerut. “Karena itu timing-nya harus pas,” ujar pemuda kelahiran Karanganyar, 20 Desember 2003 ini.

Ke depannya, Thoriq ingin bikin inovasi lagi. Yakni menggunakan motif ecoprint khas Solo dari daun talok. Dia ingin membikin motif batik kawung dengan sisi geometris.

“Idenya ada, tapi belum dicoba. Rencana mungkin setelah PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat),” papar putra pasangan Suparyanto-Dian Ekawati tersebut.

Sementara itu, guru pembimbing Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 5 Surakarta Qatrunnada Salsabila Putri menambahkan, ecoprint tersebut terbilang sederhana. Namun sangat ramah lingkungan. Karena mereduksi pencemaran air selama proses pewarnaan.

“Misal batik tradisional, kan banyak pakai bahan kimianya. Prosesnya juga butuh banyak air. Sedangkan kalai pakai teknik ecoprint, lebih hemat air dan tidak mencemari. Sementara ini baru motif abstrak. Semoga ke depan bisa bikin motif batik dari ecoprint,” harapnya. (nis/fer)

Populer

Berita Terbaru