alexametrics
27.1 C
Surakarta
Monday, 25 October 2021

IDI Usulkan Pengobatan Covid Jarak Jauh lewat Telemedisin

RADARSOLO.ID – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan usulan kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk dapat menyediakan sistem telemedisin atau pengobatan jarak jauh, memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan panduan isolasi mandiri bagi pasien Covid-19.

Hal itu untuk mengurangi bed occupancy rate (BOR) maupun beban yang dihadapi oleh fasilitas kesehatan, baik di level puskesmas maupun rumah sakit yang saat ini tengah mengalami kelebihan kapasitas atau overload.

“Kita bisa mengaktifkan isolasi mandiri menjadi regulasi nasional dengan sistem telemedisin. Nah dengan begitu, kita bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat kapan dia harus datang ke faskes atau cukup jalani isolasi mandiri,” kata Ketua Terpilih Pengurus Besar (PB) IDI dokter Adib Khumaidi dalam jumpa pers virtual, Jumat (25/6).

Ia berharap dengan adanya sistem nasional yang membantu masyarakat memahami konsep isolasi mandiri menggunakan telemedisin, maka penangan Covid-19, khususnya untuk kondisi bergejala berat bisa lebih optimal.

Cara itu diharapkan dapat mengurangi jumlah masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan. Dan meski dari jarak yang jauh, masyarakat bisa memahami langkah- langkah yang bisa dilakukan dari rumah jika mengalami gejala ataupun ketika terpapar Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang.

Sistem telemedisin itu harus terpantau oleh tenaga medis. Sehingga ketika ada keluhan gejala pasien atau masyarakat memberat, dapat diambil keputusan lebih lanjut.

Dengan pemantauan itu pun dokter yang melayani layanan telemedisin isolasi mandiri bisa memberikan penanganan atau resep khusus bagi pasien yang menjalankan perawatannya dari rumah.

“Telemedisin itu fungsinya untuk memantau agar jangan sampai masyarakat tidak mengetahui kondisinya, tiba- tiba sudah mengalami sesak nafas yang tergolong gejala berat atau datang ke faskes sudah dalam kondisi desaturasi (penurunan kapasitas paru- paru),” kata Adib.

Jika sistem telemedisin itu bisa diwujudkan, maka setidaknya diharapkan bisa mengurangi kepanikan masyarakat yang mengalami gejala dan bisa menjadi rujukan untuk perawatan dari rumah.

IDI pun berkomitmen akan terlibat untuk melakukan pemantauan jika sistem itu dapat direalisasikan. (Antara)

 

RADARSOLO.ID – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan usulan kepada Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk dapat menyediakan sistem telemedisin atau pengobatan jarak jauh, memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan panduan isolasi mandiri bagi pasien Covid-19.

Hal itu untuk mengurangi bed occupancy rate (BOR) maupun beban yang dihadapi oleh fasilitas kesehatan, baik di level puskesmas maupun rumah sakit yang saat ini tengah mengalami kelebihan kapasitas atau overload.

“Kita bisa mengaktifkan isolasi mandiri menjadi regulasi nasional dengan sistem telemedisin. Nah dengan begitu, kita bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat kapan dia harus datang ke faskes atau cukup jalani isolasi mandiri,” kata Ketua Terpilih Pengurus Besar (PB) IDI dokter Adib Khumaidi dalam jumpa pers virtual, Jumat (25/6).

Ia berharap dengan adanya sistem nasional yang membantu masyarakat memahami konsep isolasi mandiri menggunakan telemedisin, maka penangan Covid-19, khususnya untuk kondisi bergejala berat bisa lebih optimal.

Cara itu diharapkan dapat mengurangi jumlah masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan. Dan meski dari jarak yang jauh, masyarakat bisa memahami langkah- langkah yang bisa dilakukan dari rumah jika mengalami gejala ataupun ketika terpapar Covid-19 dengan gejala ringan hingga sedang.

Sistem telemedisin itu harus terpantau oleh tenaga medis. Sehingga ketika ada keluhan gejala pasien atau masyarakat memberat, dapat diambil keputusan lebih lanjut.

Dengan pemantauan itu pun dokter yang melayani layanan telemedisin isolasi mandiri bisa memberikan penanganan atau resep khusus bagi pasien yang menjalankan perawatannya dari rumah.

“Telemedisin itu fungsinya untuk memantau agar jangan sampai masyarakat tidak mengetahui kondisinya, tiba- tiba sudah mengalami sesak nafas yang tergolong gejala berat atau datang ke faskes sudah dalam kondisi desaturasi (penurunan kapasitas paru- paru),” kata Adib.

Jika sistem telemedisin itu bisa diwujudkan, maka setidaknya diharapkan bisa mengurangi kepanikan masyarakat yang mengalami gejala dan bisa menjadi rujukan untuk perawatan dari rumah.

IDI pun berkomitmen akan terlibat untuk melakukan pemantauan jika sistem itu dapat direalisasikan. (Antara)

 

Populer

Berita Terbaru