alexametrics
22.1 C
Surakarta
Wednesday, 29 June 2022

Ibu Terpapar Covid Aman Menyusui

SOLO – Pandemi Covid-19 telah membawa implikasi terhadap ibu menyusui. Sisi positifnya, dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ibu memiliki waktu di rumah dan fokus merawat dan mengasuh bayinya. Sementara dampak negatifnya, terjadi praktik pemisahan ibu dan bayi di berbagai fasilitas kesehatan di berbagai negara. Karena khawatir terhadap risiko penularan Covid-19.

Dalam pedoman terbaru Kementerian Kesehatan RI, telah disepakati mengenai perawatan ibu dan anak termasuk menyusui yang telah disesuaikan dengan rekomendasi World Health Organization (WHO). Yaitu tetap melaksanakan inisiasi menyusui dini (IMD) serta menyusui tanpa memandang status Covid–19.

Spesialis nutrisi dari United Nations Children’s Fund (Unicef) Ninik Sukotjo mengatakan, dalam masa pandemi, perlu dipastikan semua ibu menyusui dapat terlindungi. Termasuk mendapatkan vaksinasi Covid-19. Serta dapat terus menyusui setelah vaksinasi.  Selain itu, ibu dengan Covid-19 positif juga perlu didukung agar dapat menyusui dengan protokol kesehatan demi kesehatan anak agar optimal.

“Jika terkonfirmasi positif atau diduga terinfeksi Covid-19, ibu tetap aman menyusui. Sebab Covid-19 tidak terdeteksi di ASI. Bayi juga miliki risiko rendah terinfeksi. Kemudian menyusui dan IMD mengurangi risiko kematian bayi secara signifikan,” ujarnya dalam Zoom Meeting yang digelar Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Namun, ibu menyusui yang positif Covid-19 dikatakan aman menyusui dengan tetap menjaga prokes. Seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta memakai masker secara tepat. Menghindari memegang mata, mulut, dan hidung. Kemudian membersihkan dan mendesinfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan anak.

“Bila ibu menyusui positif Covid-19 dengan kondisi cukup parah atau komplikasi lainnya hingga tak bisa menyusui langsung, maka bisa menggunakan ASI perah,” ujarnya.
Ninik mengatakan, Covid-19 hingga saat ini belum ditemukan di dalam ASI ibu terkonfirmasi atau terduga Covid. Bisa juga dengan donor ASI. Jika ibu tidak mungkin memerah ASI maka tersedia bank ASI.

Kemudian ibu susu bisa dengan mempertimbangkan pedoman nasional, budaya, ketersediaan layanan untuk mendukungnya. Pilihan terakhirnya susu formula bayi. Perlu diperhatikan kelayakan, persiapan yang tepat, aman dan berkelanjutan.

Ninik menambahkan, bila ibu terduga atau terkonfirmasi terlalu sakit untuk menyusui, maka bisa dilakukan ketika ibu merasa cukup sehat untuk menyusui. Sebab, tidak ada interval waktu yang tetap untuk menunggu setelah terduga atau terkonfirmasi. Juga tidak ada bukti bahwa menyusui mengubah perjalanan klinis Covid-19 ibu.

“Ibu menyusui itu perlu mendapatkan perawatan kesehatan dan gizi yang baik untuk pemulihan. Serta perlu dukungan untuk memulai menyusui atau relaktasi (tersedianya konselor atau nakes),” bebernya.

Selain itu, ibu menyusui juga aman divaksin. Sebab, vaksin Covid-19 yang disuntikkan bukan merupakan virus hidup. Secara biologis dan klinis tidak menimbulkan risiko bagi bayi dan anak yang menyusu. Serta bayi dan anak yang menerima ASI perah. Antibodi ibu setelah vaksinasi dialirkan melalui ASI untuk memproteksi bayi.

“Ibu menyusui boleh divaksin jika memenuhi syarat  sesuai skirining riwayat kesehatan. Termasuk suhu tubuh di bawah 37,5 derajat celcius, tidak demam atau batuk selama tujuh hari terakhir, dan lainnya,” ungkapnya. (nis/bun)

SOLO – Pandemi Covid-19 telah membawa implikasi terhadap ibu menyusui. Sisi positifnya, dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) ibu memiliki waktu di rumah dan fokus merawat dan mengasuh bayinya. Sementara dampak negatifnya, terjadi praktik pemisahan ibu dan bayi di berbagai fasilitas kesehatan di berbagai negara. Karena khawatir terhadap risiko penularan Covid-19.

Dalam pedoman terbaru Kementerian Kesehatan RI, telah disepakati mengenai perawatan ibu dan anak termasuk menyusui yang telah disesuaikan dengan rekomendasi World Health Organization (WHO). Yaitu tetap melaksanakan inisiasi menyusui dini (IMD) serta menyusui tanpa memandang status Covid–19.

Spesialis nutrisi dari United Nations Children’s Fund (Unicef) Ninik Sukotjo mengatakan, dalam masa pandemi, perlu dipastikan semua ibu menyusui dapat terlindungi. Termasuk mendapatkan vaksinasi Covid-19. Serta dapat terus menyusui setelah vaksinasi.  Selain itu, ibu dengan Covid-19 positif juga perlu didukung agar dapat menyusui dengan protokol kesehatan demi kesehatan anak agar optimal.

“Jika terkonfirmasi positif atau diduga terinfeksi Covid-19, ibu tetap aman menyusui. Sebab Covid-19 tidak terdeteksi di ASI. Bayi juga miliki risiko rendah terinfeksi. Kemudian menyusui dan IMD mengurangi risiko kematian bayi secara signifikan,” ujarnya dalam Zoom Meeting yang digelar Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

Namun, ibu menyusui yang positif Covid-19 dikatakan aman menyusui dengan tetap menjaga prokes. Seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta memakai masker secara tepat. Menghindari memegang mata, mulut, dan hidung. Kemudian membersihkan dan mendesinfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh ibu dan anak.

“Bila ibu menyusui positif Covid-19 dengan kondisi cukup parah atau komplikasi lainnya hingga tak bisa menyusui langsung, maka bisa menggunakan ASI perah,” ujarnya.
Ninik mengatakan, Covid-19 hingga saat ini belum ditemukan di dalam ASI ibu terkonfirmasi atau terduga Covid. Bisa juga dengan donor ASI. Jika ibu tidak mungkin memerah ASI maka tersedia bank ASI.

Kemudian ibu susu bisa dengan mempertimbangkan pedoman nasional, budaya, ketersediaan layanan untuk mendukungnya. Pilihan terakhirnya susu formula bayi. Perlu diperhatikan kelayakan, persiapan yang tepat, aman dan berkelanjutan.

Ninik menambahkan, bila ibu terduga atau terkonfirmasi terlalu sakit untuk menyusui, maka bisa dilakukan ketika ibu merasa cukup sehat untuk menyusui. Sebab, tidak ada interval waktu yang tetap untuk menunggu setelah terduga atau terkonfirmasi. Juga tidak ada bukti bahwa menyusui mengubah perjalanan klinis Covid-19 ibu.

“Ibu menyusui itu perlu mendapatkan perawatan kesehatan dan gizi yang baik untuk pemulihan. Serta perlu dukungan untuk memulai menyusui atau relaktasi (tersedianya konselor atau nakes),” bebernya.

Selain itu, ibu menyusui juga aman divaksin. Sebab, vaksin Covid-19 yang disuntikkan bukan merupakan virus hidup. Secara biologis dan klinis tidak menimbulkan risiko bagi bayi dan anak yang menyusu. Serta bayi dan anak yang menerima ASI perah. Antibodi ibu setelah vaksinasi dialirkan melalui ASI untuk memproteksi bayi.

“Ibu menyusui boleh divaksin jika memenuhi syarat  sesuai skirining riwayat kesehatan. Termasuk suhu tubuh di bawah 37,5 derajat celcius, tidak demam atau batuk selama tujuh hari terakhir, dan lainnya,” ungkapnya. (nis/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/