alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Target Medali Perak, malah Dapat Emas

Marcelino Michael, Atlet Tolak Peluru Indonesia di APG XI 2022

RADARSOLO.ID – Marcelino Michael, 22, tak pernah bermimpi bisa jadi atlet nasional. Karena sejak usia 8 tahun, dia divonis low vision (gangguan penglihatan). Kini, dia menjadi salah satu penyumbang emas bagi Indonesia di ASEAN Para Games (APG) XI 2022 di Kota Solo.

SILVERSTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

Wajah Marcel (sapaan akrab Marcelino Michael) semringah, saat ditemui wartawan Koran ini di Stadion Manahan, kemarin (8/2). Maklum, dia baru saja menerima kalungan medali emas. Dari cabang olahraga (cabor) para atletik, nomor tolak peluru. Padahal sebelum lomba, mahasiswa Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini hanya mematok medali perak.

Hasil tersebut memacu pemuda kelahiran Jakarta, 26 Mei 2000 ini, untuk meraih medali di nomor lempar lembing. Rencananya nomor ini akan dipertandingkan Kamis pekan depan (9/8). Selain itu, juga menargetkan medali emas lempar cakram.

“Sebetulnya yang ditargetkan emas bukan tolak peluru. Target saya cuma perak. Jadi yang ditarget emas dari lempar cakram. Ternyata bisa dapat emas tolak peluru,” katanya.

Sukses yang diraih Marcel tidak datang secara instan. Butuh proses panjang. Melalui usaha dan kerja keras dalam latihan.

“Dari kecil memang senang olahraga, seperti basket dan lainnya. Kebetulan kelas II SD divonis low vision. Setelah sebelumnya pengelihatan mulai kabur. Pas diperiksa, ternyata parah dan ada keturunan juga,” ujar Marcel.

Divonis low vision, Marcel kecil sempat kurang pede (percaya diri). Merasakan beban hidup yang cukup berat, karena dihadapkan pada kenyataan, bahwa dia kehilangan pengelihatan.

Beruntung, keluarga dan kawan-kawannya menjadi suplemen paling ampuh dalam mendongkrak motivasi. Sampai akhirnya dia bangkit dan menjadi duta bangsa di APG XI.

“Tantangan paling besar adalah mengalahkan diri sendiri. Itu yang paling susah. Saya sempat tidak terima dengan keadaan ini. Tapi berkat orang tua dan kawan-kawan, saya bisa bangkit. Orang tua, kakak, dan adik tadi (kemarin) juga nonton. Cuma belum sempat ketemu mereka,” bebernya.

Saat ini, Marcel tercatat berdomisili di Tegal, Jawa Tengah. Dia mulai fokus menjadi atlet, sejak usia 12 tahun. Tepatnya pada 2012 silam. Saat itu dia pilih cabor para atletik. Berkat usah keras, dia berhasil menembus pelatihan nasional (pelatnas) National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, 2019 lalu.

“ASEAN Para Games ini fokus latihan setahun penuh. Sebelumnya sempat ikut Peparnas (pekan Paralimpian Nasional) dan Pelatda (Pelatihan Daerah) Jawa Tengah,” ungkap atlet yang hobi kulineran tersebut.

Selain keluarga, dukungan juga datang dari tim kepelatihan para atletik Indonesia. “Latihan fisik biasanya lebih lama dari atlet yang lain. Misal yang lain fitness dua jam, saya bisa empat jam. Tidak takut overtraining, karena sudah konsultasi sama pelatih,” bebernya. (*/fer)

RADARSOLO.ID – Marcelino Michael, 22, tak pernah bermimpi bisa jadi atlet nasional. Karena sejak usia 8 tahun, dia divonis low vision (gangguan penglihatan). Kini, dia menjadi salah satu penyumbang emas bagi Indonesia di ASEAN Para Games (APG) XI 2022 di Kota Solo.

SILVERSTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

Wajah Marcel (sapaan akrab Marcelino Michael) semringah, saat ditemui wartawan Koran ini di Stadion Manahan, kemarin (8/2). Maklum, dia baru saja menerima kalungan medali emas. Dari cabang olahraga (cabor) para atletik, nomor tolak peluru. Padahal sebelum lomba, mahasiswa Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini hanya mematok medali perak.

Hasil tersebut memacu pemuda kelahiran Jakarta, 26 Mei 2000 ini, untuk meraih medali di nomor lempar lembing. Rencananya nomor ini akan dipertandingkan Kamis pekan depan (9/8). Selain itu, juga menargetkan medali emas lempar cakram.

“Sebetulnya yang ditargetkan emas bukan tolak peluru. Target saya cuma perak. Jadi yang ditarget emas dari lempar cakram. Ternyata bisa dapat emas tolak peluru,” katanya.

Sukses yang diraih Marcel tidak datang secara instan. Butuh proses panjang. Melalui usaha dan kerja keras dalam latihan.

“Dari kecil memang senang olahraga, seperti basket dan lainnya. Kebetulan kelas II SD divonis low vision. Setelah sebelumnya pengelihatan mulai kabur. Pas diperiksa, ternyata parah dan ada keturunan juga,” ujar Marcel.

Divonis low vision, Marcel kecil sempat kurang pede (percaya diri). Merasakan beban hidup yang cukup berat, karena dihadapkan pada kenyataan, bahwa dia kehilangan pengelihatan.

Beruntung, keluarga dan kawan-kawannya menjadi suplemen paling ampuh dalam mendongkrak motivasi. Sampai akhirnya dia bangkit dan menjadi duta bangsa di APG XI.

“Tantangan paling besar adalah mengalahkan diri sendiri. Itu yang paling susah. Saya sempat tidak terima dengan keadaan ini. Tapi berkat orang tua dan kawan-kawan, saya bisa bangkit. Orang tua, kakak, dan adik tadi (kemarin) juga nonton. Cuma belum sempat ketemu mereka,” bebernya.

Saat ini, Marcel tercatat berdomisili di Tegal, Jawa Tengah. Dia mulai fokus menjadi atlet, sejak usia 12 tahun. Tepatnya pada 2012 silam. Saat itu dia pilih cabor para atletik. Berkat usah keras, dia berhasil menembus pelatihan nasional (pelatnas) National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, 2019 lalu.

“ASEAN Para Games ini fokus latihan setahun penuh. Sebelumnya sempat ikut Peparnas (pekan Paralimpian Nasional) dan Pelatda (Pelatihan Daerah) Jawa Tengah,” ungkap atlet yang hobi kulineran tersebut.

Selain keluarga, dukungan juga datang dari tim kepelatihan para atletik Indonesia. “Latihan fisik biasanya lebih lama dari atlet yang lain. Misal yang lain fitness dua jam, saya bisa empat jam. Tidak takut overtraining, karena sudah konsultasi sama pelatih,” bebernya. (*/fer)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/