alexametrics
33.5 C
Surakarta
Friday, 12 August 2022

Jangankan untuk Menggaji Guru, Beli Seragam saja Urunan

Sekolah-Sekolah Swasta di Solo yang Tetap Bertahan meski Kembang-kempis (2)

RADARSOLO.ID – Ada misi mulia SMP Islam Bakti 1 Surakarta ini tetap bertahan meski hanya memiliki segelintir siswa. Semua dilakukan agar anak-anak tidak putus sekolah. Sebab, hampir semua siswanya berasal dari keluarga tak mampu.

SEPTIAN REFVINDA, Solo, Radar Solo

Keriuhan siswa tak terlihat di ruang kelas VII SMP Islam Bakti 1 Surakarta. Di ruangan itu hanya terdapat satu siswa yang tampak serius mengikuti pembelajaran. Seharusnya ada tujuh siswa baru di kelas itu, namun lantaran kondisi tertentu siswa tak bisa mengikuti pembelajaran.

Kursi-kursi kosong juga terlihat di dua kelas lainya, yaitu kelas VIII dan IX. Hanya ada beberapa siswa yang tampak mengikuti pembelajaran. Berdiri sejak 1991, tak heran jika beberapa fasilitas mulai rusak dimakan usia.

Sekolah yang terletak di Jalan KH Wachid Hasyim Gang Bonang 3, Joyotakan, Serengan itu hanya memiliki tiga ruang kelas. Satu ruang guru dan satu ruang lagi digunakan untuk laboratorium sains dan seni budaya. Tak ada laboratorium komputer. Sebab itu, setiap ujian berbasis online para siswa harus rela menumpang ke sekolah lain.

Meski kondisinya serba terbatas, siswa dan guru masih tetap semangat melakukan aktivitas belajar mengajar.

Kepala SMP Islam Bakti 1 Surakarta Agung Nugroho menuturkan, hanya mampu menggaji para guru dengan nominal kecil. Jauh dari standar yang ditetapkan pemerintah. Hal ini karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk menarik iuran dari para siswa.

Mayoritas siswa yang bersekolah adalah siswa dari keluarga kurang mampu dan rentan putus sekolah. Siswa yang belajar di sekolahnya juga tidak dipungut biaya. Biaya operasional sekolah hanya bersumber dari pemerintah yang tidak setiap bulan cair.

“Jangankan untuk mengaji para guru, untuk beli buku siswa saja kami ini masih kesulitan. Untuk buku kami bahkan meminta bantuan ke salah satu percetakan agar mendapatkan buku gratis bagi para siswa. Kalau beli, siswa juga tidak akan mampu,” ujarnya

Gaji guru yang belum tentu dibayar setiap bulan, bergantung pencairan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Namun, dana itu lebih prioritas untuk operasional sekolah seperti pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah untuk siswa. Sisanya baru untuk gaji guru. Melihat kondisi ekonomi keluarga siswa sangat kesulitan untuk membeli seragam sekolah, tak jarang kepala sekolah dan guru menggelar infak bersama untuk membelikan seragam siswanya. Semua itu dilakukan agar siswa tak putus sekolah.

“Kadang siswa itu, kalau tidak punya uang untuk jajan minta sama bapak dan ibu guru. Itu sudah hal wajar di sini. Mereka sudah menganggap guru adalah orang tua. Atau misal kaos kakinya sobek itu mintanya ke guru. Sebisa mungkin akan kami penuhi bagaimanapun caranya,” imbuhnya.

Agus menyebutkan, meski digaji kecil para guru tetap menjalankan tugasnya dengan konsisten. Guru tetap mengajar dari pagi sampai sore layaknya guru pada umumnya. Sedikitnya jumlah guru di sekolah, membuat para guru harus merangkap mengajar sampai tiga mata pelajaran. Meski demikian, para guru di SMP Islam Bakti 1 Surakarta memiliki tekad yang kuat untuk mencerdaskan anak bangsa tanpa pamrih.

“Ada guru mengajar tiga mapel. PAI, kesenian, dan olahraga, karena kemarin guru kami ada yang diterima P3K. Tapi guru itu hanya minta dibayar satu mapel saja. Intinya kami niatkan agar para siswa bisa sekolah. Kalau mereka tidak di sini siapa yang mau menampung, sekolah negeri tidak masuk, untuk masuk swasta yang lain tidak kuat bayar,” imbuhnya

Sementara itu, Ali Muhrodhi yang sudah 10 tahun mengabdi mengaku alasan masih bertahan di sekolah untuk mengajar agar anak tidak putus sekolah. Sekaligus ikut membantu anak untuk mendapatkan pendidikan demi bekal masa depan. Ikut mencerdaskan anak bangsa menjadi landasan kuat agar tetap mengajar di sekolah. Meski digaji kecil tak masalah baginya, ikhlas mengajar sudah dilakukannya selama satu dekade terakhir.

“Menjadi guru harus ikhlas. Mengabdi biar anak-anak bisa tetap sekolah. Kalau untuk makan usaha lain seperti jualan, buka les private. Atau kalau seperti saya jadi penjaga masjid alhamdulillah pasti ada saja rezekinya kalau kita ikhlas,” ujarnya.

Mengajar dengan jumlah siswa sedikit dengan latar belakang yang berbeda-beda menjadi tantangan tersendiri baginya. Dia mengungkapkan pernah ada salah satu siswanya yang tertangkap satpol PP karena setelah pulang sekolah mencari uang dengan mengamen. Ada juga siswa yang rela tak masuk sekolah untuk membantu orang tuanya jualan. Jika dihadapkan dengan kondisi seperti itu, Ali mengatakan harus tetap sabar dan mencari solusi terbaik agar anak tetap bisa belajar.

“Siswa kami ini, kalau mau Zoom (belajar daring) saja tidak bisa karena tidak punya HP. Mau tidak mau kita yang datang ke rumahnya. Waktu ujian kemarin kami juga door to door ke rumah siswa agar mereka bisa ikut ujian, atau waktu ANBK kami menumpang ke sekolah lain, karena tidak punya komputer. Kami tetap semangat mengajar selama itu masih ada siswa yang juga ingin belajar di sekolah,” ujarnya. (*/bun) 

RADARSOLO.ID – Ada misi mulia SMP Islam Bakti 1 Surakarta ini tetap bertahan meski hanya memiliki segelintir siswa. Semua dilakukan agar anak-anak tidak putus sekolah. Sebab, hampir semua siswanya berasal dari keluarga tak mampu.

SEPTIAN REFVINDA, Solo, Radar Solo

Keriuhan siswa tak terlihat di ruang kelas VII SMP Islam Bakti 1 Surakarta. Di ruangan itu hanya terdapat satu siswa yang tampak serius mengikuti pembelajaran. Seharusnya ada tujuh siswa baru di kelas itu, namun lantaran kondisi tertentu siswa tak bisa mengikuti pembelajaran.

Kursi-kursi kosong juga terlihat di dua kelas lainya, yaitu kelas VIII dan IX. Hanya ada beberapa siswa yang tampak mengikuti pembelajaran. Berdiri sejak 1991, tak heran jika beberapa fasilitas mulai rusak dimakan usia.

Sekolah yang terletak di Jalan KH Wachid Hasyim Gang Bonang 3, Joyotakan, Serengan itu hanya memiliki tiga ruang kelas. Satu ruang guru dan satu ruang lagi digunakan untuk laboratorium sains dan seni budaya. Tak ada laboratorium komputer. Sebab itu, setiap ujian berbasis online para siswa harus rela menumpang ke sekolah lain.

Meski kondisinya serba terbatas, siswa dan guru masih tetap semangat melakukan aktivitas belajar mengajar.

Kepala SMP Islam Bakti 1 Surakarta Agung Nugroho menuturkan, hanya mampu menggaji para guru dengan nominal kecil. Jauh dari standar yang ditetapkan pemerintah. Hal ini karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk menarik iuran dari para siswa.

Mayoritas siswa yang bersekolah adalah siswa dari keluarga kurang mampu dan rentan putus sekolah. Siswa yang belajar di sekolahnya juga tidak dipungut biaya. Biaya operasional sekolah hanya bersumber dari pemerintah yang tidak setiap bulan cair.

“Jangankan untuk mengaji para guru, untuk beli buku siswa saja kami ini masih kesulitan. Untuk buku kami bahkan meminta bantuan ke salah satu percetakan agar mendapatkan buku gratis bagi para siswa. Kalau beli, siswa juga tidak akan mampu,” ujarnya

Gaji guru yang belum tentu dibayar setiap bulan, bergantung pencairan dana bantuan operasional sekolah (BOS). Namun, dana itu lebih prioritas untuk operasional sekolah seperti pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah untuk siswa. Sisanya baru untuk gaji guru. Melihat kondisi ekonomi keluarga siswa sangat kesulitan untuk membeli seragam sekolah, tak jarang kepala sekolah dan guru menggelar infak bersama untuk membelikan seragam siswanya. Semua itu dilakukan agar siswa tak putus sekolah.

“Kadang siswa itu, kalau tidak punya uang untuk jajan minta sama bapak dan ibu guru. Itu sudah hal wajar di sini. Mereka sudah menganggap guru adalah orang tua. Atau misal kaos kakinya sobek itu mintanya ke guru. Sebisa mungkin akan kami penuhi bagaimanapun caranya,” imbuhnya.

Agus menyebutkan, meski digaji kecil para guru tetap menjalankan tugasnya dengan konsisten. Guru tetap mengajar dari pagi sampai sore layaknya guru pada umumnya. Sedikitnya jumlah guru di sekolah, membuat para guru harus merangkap mengajar sampai tiga mata pelajaran. Meski demikian, para guru di SMP Islam Bakti 1 Surakarta memiliki tekad yang kuat untuk mencerdaskan anak bangsa tanpa pamrih.

“Ada guru mengajar tiga mapel. PAI, kesenian, dan olahraga, karena kemarin guru kami ada yang diterima P3K. Tapi guru itu hanya minta dibayar satu mapel saja. Intinya kami niatkan agar para siswa bisa sekolah. Kalau mereka tidak di sini siapa yang mau menampung, sekolah negeri tidak masuk, untuk masuk swasta yang lain tidak kuat bayar,” imbuhnya

Sementara itu, Ali Muhrodhi yang sudah 10 tahun mengabdi mengaku alasan masih bertahan di sekolah untuk mengajar agar anak tidak putus sekolah. Sekaligus ikut membantu anak untuk mendapatkan pendidikan demi bekal masa depan. Ikut mencerdaskan anak bangsa menjadi landasan kuat agar tetap mengajar di sekolah. Meski digaji kecil tak masalah baginya, ikhlas mengajar sudah dilakukannya selama satu dekade terakhir.

“Menjadi guru harus ikhlas. Mengabdi biar anak-anak bisa tetap sekolah. Kalau untuk makan usaha lain seperti jualan, buka les private. Atau kalau seperti saya jadi penjaga masjid alhamdulillah pasti ada saja rezekinya kalau kita ikhlas,” ujarnya.

Mengajar dengan jumlah siswa sedikit dengan latar belakang yang berbeda-beda menjadi tantangan tersendiri baginya. Dia mengungkapkan pernah ada salah satu siswanya yang tertangkap satpol PP karena setelah pulang sekolah mencari uang dengan mengamen. Ada juga siswa yang rela tak masuk sekolah untuk membantu orang tuanya jualan. Jika dihadapkan dengan kondisi seperti itu, Ali mengatakan harus tetap sabar dan mencari solusi terbaik agar anak tetap bisa belajar.

“Siswa kami ini, kalau mau Zoom (belajar daring) saja tidak bisa karena tidak punya HP. Mau tidak mau kita yang datang ke rumahnya. Waktu ujian kemarin kami juga door to door ke rumah siswa agar mereka bisa ikut ujian, atau waktu ANBK kami menumpang ke sekolah lain, karena tidak punya komputer. Kami tetap semangat mengajar selama itu masih ada siswa yang juga ingin belajar di sekolah,” ujarnya. (*/bun) 

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/