alexametrics
32.3 C
Surakarta
Friday, 19 August 2022

Wariskan Usaha ke Anak, Pilih Konsentrasi di Pelatnas

Kholidin, Tukang Bubur Trotoar yang Membawa Tiga Medali untuk Indonesia

RADARSOLO.ID – Jalan hidup tak pernah ada yang tahu berlikunya seperti apa. Begitu juga yang dialami Kholidin. Dari tukang bubur, dia berhasil mempersembahkan tiga medali untuk Indonesia di ajang ASEAN Para Games (APG) XI 2022 di Kota Solo.

NIKKO AUGLANDY, Solo, Radar Solo

Seorang pria berusia 40-an tahun terlihat berdiri tegak di pinggir lapangan, sambil berteriak “Indonesia… Indonesia…Indonesia” dengan cukup lantang bersama rekan-rekannya.  Dia menatap dua rekannya yang tengah bertanding. Setelah dipastikan wakil Indonesia meraih medali perunggu di cabang olahraga archery atau panahan, pria itu langsung memeluk dua rekannya tersebut usai keluar dari lapangan.

Sosok itu adalah Kholidin. Pria ramah asal DKI Jakarta ini ikut jadi bagian dari atlet para archery Indonesia yang terjun di ajang APG 2022 di Lapangan Kotabarat. “Ikut senang pastinya karena Indonesia bisa kembali dapat medali,” ujarnya.

Di ajang ini prestasi Kholidin sejatinya cukup mentereng. Dia sukses meraih tiga medali, yakni emas dari kelas ganda putra, lalu perak dari kelas ganda campuran, dan di kelas individu putra dia meraih medali perunggu. Semua dia raih dari kelas recurve.

“Saya pribadi jelas sangat bangga akhirnya bisa menyumbangkan tiga medali untuk Indonesia. Mengharukan ketika ingat momen saat bendera Indonesia berkibar paling tinggi di samping Thailand dan Malaysia (di kelas ganda putra),” terang Kholidin.

Usai membawa harum Indonesia di ajang APG 2022 di Solo, banyak mimpi besar Kholidin lainnya yang ingin sekali dicapai. Tentu saja di kejuaraan internasional yang tingkatnya lebih tinggi lagi. Yakni, Asian Para Games 2023 dan Paralimpiade Paris 2024 nanti.

Kholidin terjun ke dunia panahan dari 2016. Kala itu dia diajak adiknya yang sudah lebih dulu berlatih panahan.

“Saat itu saya memang aktif olahraga, mulai dari silat, hingga sepakbola. Tapi karena sudah berumur, akhirnya saya pilih olahraga lain. Dan panahanlah yang saya pilih. Olahraga ini nggak terlalu main fisik,” tuturnya.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2017 sebuah insiden mengubah jalan hidupnya. Dia terjatuh saat tengah naik pohon kelapa setinggi 9 meter. Kejadian itu membuat tangannya akhirnya harus diamputasi.

Tiga bulan dia hanya belajar bangun dan berjalan. Namun perasaan di lubuk hatinya selalu mengarah ke busur panah yang tergeletak di rumahnya. Dia sangat berharap untuk kembali memainkannya.

“Saya sadar kini tangan saya tinggal satu, namun saya selalu berpikir buat apa harus meratapi nasib ini. Semua sudah digariskan Tuhan untuk kita jalani. Sebagai umat-Nya kita hanya bisa bersyukur,” terangnya.

Kecintaannya pada panah memang tak luntur, setelah tiga bulan menjalani masa pemulihan, hingga dinyatakan sudah sehat dari sisi kesehatan hingga psikis, dia memutuskan untuk mencari cara agar bisa kembali memanah.

“Saya mulai ambil busur dan anak panah lagi, tapi sempat bingung  gimana caranya saya harus menarik  busur ini, padahal tangan saya kini hanya tinggal satu. Namun ternyata Allah memberi saya hidayah. Saya masih punya mulut untuk bisa menariknya. Setelah saya coba, akhirnya bisa. Saya jadi senang dan sampai sekarang saya terus pakai teknik memanah dengan mulut itu,” terangnya.

Tapi awal menggunakan tenik dengan mulut ini penuh perjuangan. Tiga hari dia tidak bisa makan karena mulutnya sakit untuk menarik busur panah.

“Awal itu saya pakai gigi bagian depan. Akhirnya saya coba pakai gigi samping, tapi ini malah bibir saya jadi berdarah-darah. Akhirnya saya pakai geraham, malah lancar sampai sekarang,” sambungnya.

Di sisi lain, sebelum totalitas menekuni panahan ini, Kholidin pernah berjualan bubur ayam di trotoar depan Gedung Sarinah Jakarta. Bahkan dia berdagang sejak 1994. Pekerjaan ini dia rintis jauh sebelum dia jadi atlet, dan tangannya masih d normal.

“Bubur di Sarinah masih ada, tapi sekarang dijaga oleh anak saya. Soalnya saya kini lebih banyak latihan panahan di pelatnas,” ucapnya.

Dia berpesan agar cita-cita terus diperjuangkan agar bisa diraih. Apapun itu rintangan yang akan dihadapi. Selama berusaha dengan sungguh-sungguh maka akan berhasil. (*/bun)

RADARSOLO.ID – Jalan hidup tak pernah ada yang tahu berlikunya seperti apa. Begitu juga yang dialami Kholidin. Dari tukang bubur, dia berhasil mempersembahkan tiga medali untuk Indonesia di ajang ASEAN Para Games (APG) XI 2022 di Kota Solo.

NIKKO AUGLANDY, Solo, Radar Solo

Seorang pria berusia 40-an tahun terlihat berdiri tegak di pinggir lapangan, sambil berteriak “Indonesia… Indonesia…Indonesia” dengan cukup lantang bersama rekan-rekannya.  Dia menatap dua rekannya yang tengah bertanding. Setelah dipastikan wakil Indonesia meraih medali perunggu di cabang olahraga archery atau panahan, pria itu langsung memeluk dua rekannya tersebut usai keluar dari lapangan.

Sosok itu adalah Kholidin. Pria ramah asal DKI Jakarta ini ikut jadi bagian dari atlet para archery Indonesia yang terjun di ajang APG 2022 di Lapangan Kotabarat. “Ikut senang pastinya karena Indonesia bisa kembali dapat medali,” ujarnya.

Di ajang ini prestasi Kholidin sejatinya cukup mentereng. Dia sukses meraih tiga medali, yakni emas dari kelas ganda putra, lalu perak dari kelas ganda campuran, dan di kelas individu putra dia meraih medali perunggu. Semua dia raih dari kelas recurve.

“Saya pribadi jelas sangat bangga akhirnya bisa menyumbangkan tiga medali untuk Indonesia. Mengharukan ketika ingat momen saat bendera Indonesia berkibar paling tinggi di samping Thailand dan Malaysia (di kelas ganda putra),” terang Kholidin.

Usai membawa harum Indonesia di ajang APG 2022 di Solo, banyak mimpi besar Kholidin lainnya yang ingin sekali dicapai. Tentu saja di kejuaraan internasional yang tingkatnya lebih tinggi lagi. Yakni, Asian Para Games 2023 dan Paralimpiade Paris 2024 nanti.

Kholidin terjun ke dunia panahan dari 2016. Kala itu dia diajak adiknya yang sudah lebih dulu berlatih panahan.

“Saat itu saya memang aktif olahraga, mulai dari silat, hingga sepakbola. Tapi karena sudah berumur, akhirnya saya pilih olahraga lain. Dan panahanlah yang saya pilih. Olahraga ini nggak terlalu main fisik,” tuturnya.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2017 sebuah insiden mengubah jalan hidupnya. Dia terjatuh saat tengah naik pohon kelapa setinggi 9 meter. Kejadian itu membuat tangannya akhirnya harus diamputasi.

Tiga bulan dia hanya belajar bangun dan berjalan. Namun perasaan di lubuk hatinya selalu mengarah ke busur panah yang tergeletak di rumahnya. Dia sangat berharap untuk kembali memainkannya.

“Saya sadar kini tangan saya tinggal satu, namun saya selalu berpikir buat apa harus meratapi nasib ini. Semua sudah digariskan Tuhan untuk kita jalani. Sebagai umat-Nya kita hanya bisa bersyukur,” terangnya.

Kecintaannya pada panah memang tak luntur, setelah tiga bulan menjalani masa pemulihan, hingga dinyatakan sudah sehat dari sisi kesehatan hingga psikis, dia memutuskan untuk mencari cara agar bisa kembali memanah.

“Saya mulai ambil busur dan anak panah lagi, tapi sempat bingung  gimana caranya saya harus menarik  busur ini, padahal tangan saya kini hanya tinggal satu. Namun ternyata Allah memberi saya hidayah. Saya masih punya mulut untuk bisa menariknya. Setelah saya coba, akhirnya bisa. Saya jadi senang dan sampai sekarang saya terus pakai teknik memanah dengan mulut itu,” terangnya.

Tapi awal menggunakan tenik dengan mulut ini penuh perjuangan. Tiga hari dia tidak bisa makan karena mulutnya sakit untuk menarik busur panah.

“Awal itu saya pakai gigi bagian depan. Akhirnya saya coba pakai gigi samping, tapi ini malah bibir saya jadi berdarah-darah. Akhirnya saya pakai geraham, malah lancar sampai sekarang,” sambungnya.

Di sisi lain, sebelum totalitas menekuni panahan ini, Kholidin pernah berjualan bubur ayam di trotoar depan Gedung Sarinah Jakarta. Bahkan dia berdagang sejak 1994. Pekerjaan ini dia rintis jauh sebelum dia jadi atlet, dan tangannya masih d normal.

“Bubur di Sarinah masih ada, tapi sekarang dijaga oleh anak saya. Soalnya saya kini lebih banyak latihan panahan di pelatnas,” ucapnya.

Dia berpesan agar cita-cita terus diperjuangkan agar bisa diraih. Apapun itu rintangan yang akan dihadapi. Selama berusaha dengan sungguh-sungguh maka akan berhasil. (*/bun)

Populer

Berita Terbaru

spot_img
/